Kisah 3 Anak Pemulung Bisa Sekolah di SDN 3 Pangandaran, Sempat Ikut Mulung
Dedy Herdiana August 03, 2026 08:05 PM

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Suara bel menandai dimulainya kegiatan belajar di SDN 3 Pangandaran, Senin (3/8/2026) pagi. Di tengah riuh murid berseragam merah putih, senyum tak henti mengembang di wajah Aulia (10). 

Bocah itu duduk di bangku paling depan kelas I, sesekali menatap guru yang memperkenalkan suasana sekolah pada hari pertama.

Tak jauh darinya, sang adik Aditya (8) memegang erat buku tulis baru yang diterimanya. Sesekali ia menoleh ke arah teman sebangku, lalu kembali menyimak penjelasan guru tentang aturan belajar.

Sementara itu, adik bungsu mereka, Afifah (5), memulai hari pertamanya di taman kanak-kanak yang berada di kompleks sekolah yang sama.

Ketiga bersaudara itu datang bersama ayah mereka, Zakaria (38), seorang pemulung asal Bekasi yang setiap hari mencari nafkah dengan mengumpulkan barang bekas. 

Baca juga: Bupati Pangandaran Turun ke Pantai Madasari, Selidiki Dugaan SHM di Kawasan Sempadan Pantai

Pagi itu, sebelum kembali mendorong gerobak rongsokan, Zakaria lebih dulu mengantar ketiga anaknya menuju gerbang sekolah.

Momen sederhana itu menjadi babak baru bagi keluarga kecil tersebut. Setelah sempat kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan akibat berpindah dari Bekasi ke Pangandaran, keterbatasan ekonomi, serta kendala administrasi kependudukan, kini Aulia dan Aditya akhirnya kembali duduk di bangku sekolah.

Kepala SDN 3 Pangandaran, Ani Susani, mengatakan dirinya memantau langsung hari pertama kedua kakak beradik itu mengikuti kegiatan belajar.

"Saya pantau sejak upacara. Saya dekati mereka, kelihatan senang sekali bisa sekolah di sini," ujar Ani kepada sejumlah wartawan di kantornya, Senin pagi.

Menurutnya, guru juga bercerita bahwa sejak subuh Aulia dan Aditya sudah bersiap mengenakan seragam sekolah karena begitu antusias. "Katanya dari subuh sudah siap-siap karena senang mau sekolah," ujarnya.

Meski Aulia sudah berusia 10 tahun dan Aditya delapan tahun, pihak sekolah menempatkan keduanya di kelas I agar proses belajar dimulai dari dasar. 

Selanjutnya, sekolah akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Pangandaran mengenai keberlanjutan pendidikan mereka.

"Kalau berdasarkan usia memang seharusnya Aulia sudah kelas empat. Nanti untuk kelanjutannya akan kami komunikasikan lagi dengan Disdikpora," katanya.

Bagi Aulia, kembali mengenakan seragam sekolah merupakan impian yang sempat tertunda. Ia mengaku pernah bersekolah di kelas I saat masih tinggal di Bekasi, tapi hanya berlangsung sebentar sebelum akhirnya berhenti.

"Dulu sekolah kelas satu hanya sebentar, terus enggak sekolah lagi. Dulu sekolahnya di Bekasi," ucap Aulia.

Kini, hal yang paling membuatnya bahagia bukan hanya bisa belajar kembali, tapi juga memiliki teman-teman baru."Senang bisa sekolah lagi, ketemu teman-teman," ujarnya.

Sementara itu, Aditya belum pernah mengenyam pendidikan sekolah dasar. Sebelum pindah ke Pangandaran, ia hanya sempat bersekolah di taman kanak-kanak di Bekasi."Belum pernah sekolah, pernah TK di Bekasi," katanya.

Saat tidak bersekolah, keseharian Aditya dihabiskan bermain di sekitar rumah. Bahkan, ia beberapa kali ikut ayahnya mencari rongsokan menggunakan gerobak dorong.

"Aku pernah ikut ayah mulung rongsokan. Ayah dorong gerobaknya, aku naik di dalam. Bantuin ayah," ucap Aditya.

Kini suasana mereka berubah. Di ruang kelas, Aulia dan Aditya mulai belajar mengenal kembali dunia pendidikan. 

Mereka mengikuti arahan guru, berkenalan dengan teman-teman baru, hingga mulai belajar membaca dan menulis dari awal.

Bagi banyak anak, hari pertama sekolah mungkin hanya rutinitas tahunan. Namun bagi Aulia, Aditya, dan Afifah, langkah kecil memasuki gerbang sekolah menjadi simbol harapan baru

Kini, keterbatasan ekonomi dan kerasnya kehidupan mereka tidak harus menghentikan mimpi untuk memperoleh pendidikan.

Pihak sekolah pun memastikan akan terus mendampingi proses belajar kedua kakak beradik itu agar mereka dapat mengejar ketertinggalan dan tumbuh bersama teman-teman seusianya. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.