TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tak ada lagi sampah organik dan anorganik yang dibawa ke TPA Tamangapa dari RT 001 RW 005 Kelurahan Mannuruki, Kecamatan Tamalate, Makassar.
Kedua jenis sampah tersebut kini dikelola di tingkat RT/RW. Sampah organik diolah melalui fasilitas teba, sedangkan sampah anorganik diarahkan ke bank sampah unit yang telah terbentuk di RW 005.
Ketua RT 001 RW 005 Kelurahan Mannuruki, Hamsin, mengatakan sampah organik warga dibawa ke fasilitas teba yang telah tersedia di lingkungan.
Sejauh ini, terdapat tiga fasilitas teba yang disiapkan untuk mengelola sampah basah warga.
"Sementara baru satu yang terisi, dua lagi kami siapkan jika yang satu itu sewaktu-waktu penuh," jelasnya saat ditemui Tribun Timur di BTN Tabaria Blok B, Kelurahan Mannuruki, Senin (3/8/2026).
Dari pantauan di lokasi, satu fasilitas teba dibangun di pinggir jalan.
Sementara dua fasilitas teba lainnya yang baru dibangun berada sekitar 300 meter dari pinggir jalan.
Fasilitas teba tersebut adalah gorong-gorong sepanjang hampir satu meter yang ditanam ke bawah tanah.
Bagian tengah penutupnya, terdapat akses buka tutup untuk memasukkan makanan. Sampah yang dimasukkan ke Teba akan menjadi pupuk kompos.
"Kami bangun di lokasi fasilitas umum," ucapnya.
Hamsin mengungkapkan, pengadaan fasilitas teba tersebut merupakan hasil swadaya warga.
Saat sosialisasi pengelolaan sampah, warga bersepakat mengumpulkan dana secara swadaya untuk mengadakan fasilitas pengolahan sampah di lingkungan mereka.
"Swadaya warga semua ini, kami pengurus RT/RW hanya memfasilitasi," ucapnya.
Sementara untuk sampah anorganik, warga diarahkan membawanya ke bank sampah unit yang telah terbentuk di RW 005.
Bank sampah tersebut siap menampung sampah anorganik warga untuk kemudian ditukarkan dengan uang sesuai nilai sampah yang dikumpulkan.
"Baik dikumpulkan oleh petugas pengangkut maupun dibawa sendiri oleh warga ke bank sampah," ucapnya.
Dalam merancang sistem pengelolaan sampah tersebut, Hamsin juga berkoordinasi dengan petugas pengangkut sampah.
Ia mengarahkan petugas pengangkut untuk membawa sampah organik warga ke fasilitas teba dan sampah anorganik ke bank sampah.
"Saya sudah kerja sama dengan petugas pengangkut sampah, jadi hanya residu yang dibawa ke TPA," ucapnya.
Namun, agar sistem tersebut dapat berjalan, warga terlebih dahulu harus memilah sampah dari sumbernya. Sampah dipisahkan menjadi tiga kategori, yakni organik, anorganik, dan residu.
Hamsin mengatakan, sebagian besar warga di wilayahnya sudah mulai membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah.
"Kalau di wilayah kami bisa dibilang sudah 80 persen yang mulai memilah sampahnya," ucapnya.
Meski begitu, Hamsin mengakui penerapan pemilahan sampah di wilayahnya belum sepenuhnya sempurna. Sebagian warga masih keliru dalam menentukan kategori atau jenis sampah.
Namun, menurutnya, hal terpenting saat ini adalah kesadaran warga yang mulai tumbuh untuk memisahkan sampah sejak dari rumah.
"Setidaknya sudah mulai memilah dulu, sudah mau menyiapkan tiga tempat sampah, itu sudah langkah yang maju," ucapnya.
Hamsin mengatakan, sosialisasi pemilahan sampah dilakukan secara masif di wilayahnya sejak bulan lalu.
Selain melalui pertemuan dengan warga, sosialisasi juga dilakukan dengan mendatangi rumah-rumah warga serta menyampaikan informasi melalui pengumuman di masjid.
"Saat sosialisasi warga merespons baik. Ada yang sampaikan ke kami untuk disiapkan tempat sampah, terus mereka beli. Mereka mau tertib, beres," ucapnya.
Hamsin berharap sinergi warga dalam membiasakan pemilahan sampah dapat terus ditingkatkan.
Dengan demikian, sampah organik dan anorganik dapat dikelola secara maksimal di tingkat lingkungan sehingga tidak lagi dibawa ke TPA Tamangapa.
"Sesuai arahan pemerintah kota, hanya residu yang ke TPA," ucapnya.(*)