‎Warga RT 001 Mannuruki Swadaya Buat Tiga Teba Kelola Sampah Organik dan Anorganik
Saldy Irawan August 03, 2026 08:07 PM

‎TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tak ada lagi sampah organik dan anorganik yang dibawa ke TPA Tamangapa dari RT 001 RW 005 Kelurahan Mannuruki, Kecamatan Tamalate, Makassar.

‎Kedua jenis sampah tersebut kini dikelola di tingkat RT/RW. Sampah organik diolah melalui fasilitas teba, sedangkan sampah anorganik diarahkan ke bank sampah unit yang telah terbentuk di RW 005.

‎Ketua RT 001 RW 005 Kelurahan Mannuruki, Hamsin, mengatakan sampah organik warga dibawa ke fasilitas teba yang telah tersedia di lingkungan.

‎Sejauh ini, terdapat tiga fasilitas teba yang disiapkan untuk mengelola sampah basah warga.

‎"Sementara baru satu yang terisi, dua lagi kami siapkan jika yang satu itu sewaktu-waktu penuh," jelasnya saat ditemui Tribun Timur di BTN Tabaria Blok B, Kelurahan Mannuruki, Senin (3/8/2026).

‎Dari pantauan di lokasi, satu fasilitas teba dibangun di pinggir jalan. 

‎Sementara dua fasilitas teba lainnya yang baru dibangun berada sekitar 300 meter dari pinggir jalan.

‎Fasilitas teba tersebut adalah gorong-gorong sepanjang hampir satu meter yang ditanam ke bawah tanah. 

‎Bagian tengah penutupnya, terdapat akses buka tutup untuk memasukkan makanan. Sampah yang dimasukkan ke Teba akan menjadi pupuk kompos. 

‎"Kami bangun di lokasi fasilitas umum," ucapnya. 

‎Hamsin mengungkapkan, pengadaan fasilitas teba tersebut merupakan hasil swadaya warga.

‎Saat sosialisasi pengelolaan sampah, warga bersepakat mengumpulkan dana secara swadaya untuk mengadakan fasilitas pengolahan sampah di lingkungan mereka.

‎"Swadaya warga semua ini, kami pengurus RT/RW hanya memfasilitasi," ucapnya.

‎Sementara untuk sampah anorganik, warga diarahkan membawanya ke bank sampah unit yang telah terbentuk di RW 005.

‎Bank sampah tersebut siap menampung sampah anorganik warga untuk kemudian ditukarkan dengan uang sesuai nilai sampah yang dikumpulkan.

‎"Baik dikumpulkan oleh petugas pengangkut maupun dibawa sendiri oleh warga ke bank sampah," ucapnya.

‎Dalam merancang sistem pengelolaan sampah tersebut, Hamsin juga berkoordinasi dengan petugas pengangkut sampah.

‎Ia mengarahkan petugas pengangkut untuk membawa sampah organik warga ke fasilitas teba dan sampah anorganik ke bank sampah.

‎"Saya sudah kerja sama dengan petugas pengangkut sampah, jadi hanya residu yang dibawa ke TPA," ucapnya.

‎Namun, agar sistem tersebut dapat berjalan, warga terlebih dahulu harus memilah sampah dari sumbernya. Sampah dipisahkan menjadi tiga kategori, yakni organik, anorganik, dan residu.

‎Hamsin mengatakan, sebagian besar warga di wilayahnya sudah mulai membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah.

‎"Kalau di wilayah kami bisa dibilang sudah 80 persen yang mulai memilah sampahnya," ucapnya.

‎Meski begitu, Hamsin mengakui penerapan pemilahan sampah di wilayahnya belum sepenuhnya sempurna. Sebagian warga masih keliru dalam menentukan kategori atau jenis sampah.

‎Namun, menurutnya, hal terpenting saat ini adalah kesadaran warga yang mulai tumbuh untuk memisahkan sampah sejak dari rumah.

‎"Setidaknya sudah mulai memilah dulu, sudah mau menyiapkan tiga tempat sampah, itu sudah langkah yang maju," ucapnya.

‎Hamsin mengatakan, sosialisasi pemilahan sampah dilakukan secara masif di wilayahnya sejak bulan lalu.

‎Selain melalui pertemuan dengan warga, sosialisasi juga dilakukan dengan mendatangi rumah-rumah warga serta menyampaikan informasi melalui pengumuman di masjid.

‎"Saat sosialisasi warga merespons baik. Ada yang sampaikan ke kami untuk disiapkan tempat sampah, terus mereka beli. Mereka mau tertib, beres," ucapnya.

‎Hamsin berharap sinergi warga dalam membiasakan pemilahan sampah dapat terus ditingkatkan.

‎Dengan demikian, sampah organik dan anorganik dapat dikelola secara maksimal di tingkat lingkungan sehingga tidak lagi dibawa ke TPA Tamangapa.

‎"Sesuai arahan pemerintah kota, hanya residu yang ke TPA," ucapnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.