TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pemerintah Kabupaten Luwu Utara menjadikan komoditas kakao sebagai daya tarik utama untuk menggaet investor.
Berstatus sebagai daerah dengan areal kakao terbesar di Sulawesi Selatan (Sulsel), Luwu Utara kini mendorong masuknya investasi guna mempercepat hilirisasi komoditas tersebut.
Hal itu disampaikan Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, saat memaparkan potensi investasi daerah dalam Business Investment Forum yang menjadi salah satu rangkaian Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) XXXV.
Acara tersebut berlangsung di Hotel Claro Makassar, Jalan AP Pettarani, Kota Makassar, Sulsel, Senin (3/8/2026).
Andi Abdullah Rahim menyebut, Luwu Utara memiliki luas areal kakao mencapai 39.411 hektare dengan produksi sekitar 25.526 ton per tahun.
Potensi tersebut dinilai layak dikembangkan melalui industri pengolahan agar memberikan nilai tambah bagi daerah dan petani.
“Luwu Utara memiliki potensi kakao terbesar di Sulawesi Selatan,” kata pria kelahiran Bone-Bone, Luwu Utara, Sulawesi Selatan 23 November 1978 (umur 47) ini. .
Untuk menarik investor, Pemerintah Kabupaten Luwu Utara telah menyiapkan lahan sekitar 15 hektare yang diperuntukkan bagi pembangunan pabrik pengolahan kakao.
Pihaknya membutuhkan investasi di kakao untuk mengarahkan ke hilirisasi.
Baca juga: Abdullah Rahim Curhat Anggaran Terbatas, JK: Kalau Tak Bisa Berbuat, Tak Perlu Ada Bupati
“Jadi, bapak dan ibu yang ingin berinvestasi dan melakukan hilirisasi kakao, kami siap menyiapkan lahan untuk membangun pabrik di Luwu Utara,” jelas Anggota DPRD Kabupaten Luwu Utara Periode 2009-2014 ini.
Selain kakao, Koordinator Angkatan ’96, Jurusan Elektro, Fakultas Teknik UNHAS Universitas Hasanuddin Periode 2022-2024 ini juga menawarkan peluang investasi pada industri pengolahan sagu.
Menurut alumnus SMA Negeri 2 Makassar (1995–1996), Luwu Utara merupakan salah satu sentra sagu di Sulsel yang memiliki potensi dikembangkan menjadi tepung sagu dan berbagai produk turunan untuk industri pangan maupun kesehatan.
Peluang investasi juga terbuka di sektor kelautan melalui konsep blue economy.
Luwu Utara memiliki garis pantai sepanjang sekitar 106,7 kilometer dengan produksi rumput laut mencapai 253.693 ton per tahun, perikanan budidaya sebesar 13.433 ton, serta potensi perikanan tangkap sekitar 2.161 ton.
Pemerintah daerah juga tengah mengembangkan budidaya bandeng berukuran kecil sebagai bahan baku industri perikanan tuna yang dibutuhkan pasar Taiwan dan Jepang.
Sementara itu, pada sektor perkebunan, Luwu Utara juga merupakan kabupaten penghasil sawit terbesar di Sulsel dengan produksi mencapai 496.033 ton per tahun.
Seluruh kebun sawit tersebut merupakan milik masyarakat, sehingga pemerintah masih membuka peluang investasi pembangunan pabrik kelapa sawit untuk menyerap hasil panen petani.
Sekadar diketahui, Business Investment Forum menjadi ajang promosi peluang investasi dari berbagai daerah sekaligus mempertemukan investor dengan pelaku usaha.
Puncak kegiatan acara Rakerkonas Apindo sendiri bakal berlangsung pada Selasa (4/8/2026).
Pembukaan bakal dihadiri sejumlah menteri, seperti Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat, dan Menteri Hukum Supratman Andi Agtas.
Dukungan dari unsur legislatif juga bakal ditunjukkan melalui kehadiran Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad.
Sebagai tuan rumah, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan akan dihadiri Gubernur Andi Sudirman Sulaiman.
Dari unsur organisasi, Ketua Umum Apindo Shinta W Kamdani akan memimpin jalannya Rakerkonas bersama Ketua Dewan Pertimbangan Apindo Sofjan Wanandi, serta Ketua DPP Apindo Sulsel Suhardi.(*)