MANGGAR, BABEL NEWS - Bau hangus masih tercium di lokasi peternakan di kawasan hutan Dusun Rasau, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Minggu (2/8) siang. Tak ada lagi kandang kayu kokoh beratap seng tempat puluhan kambing Jawarandu bersuara.
Di atas lahan, hanya tersisa gundukan tanah pasir yang menghitam pekat akibat kobaran api dahsyat yang melahap habis seluruh struktur bangunan. Beberapa tiang pancang hangus, sementara puing-puing seng meliuk terpapar di sekitar. Kobaran api tak hanya merobohkan kandang, tetapi juga menghanguskan sekitarnya dengan total kurang lebih 15x20 meter yang terdampak.
Suasana kian memilukan saat tercium bau hangus yang menyengat, disertai serakan bangkai-bangkai kambing yang menghitam dan kaku di area kandang. Supri, pemilik kandang, menelusuri reruntuhan yang masih mengeluarkan sisa asap tipis.
Ia mengumpulkan satu per satu bangkai ternak yang hangus terpanggang, lalu menaikkannya ke atas gerobak dorong roda tiga untuk dibersihkan dari area lokasi. Kemudian, Supri pun duduk beristirahat di pinggiran lahan bekas kandang sebelum akhirnya mulai menjelaskan kronologi musibah yang menimpanya itu.
Supri mengisahkan, dirinya baru mengetahui kondisi kandangnya telah musnah sekitar pukul 07.00 WIB. Di mana saat itu ia hendak memberikan pakan. "Kalau untuk tahunya itu yang jelas pagi tadi jam 7, waktu mau perawatan dan kasih makan. Ternyata sudah rata dengan tanah begini, ndak ada lagi tanda percikan api, tinggal sisa asap," ujar Supri.
Ia menjelaskan, lokasi peternakan yang jauh di tengah area hutan membuat tidak ada seorang pun warga yang melihat secara langsung momen berkobarnya api pada Sabtu dini hari. Biasanya, menurut cerita Supri, area peternakan tidak pernah kosong pada malam hari karena selalu ada yang menginap, baik Supri sendiri maupun kedua anaknya secara bergantian. Namun naas, peristiwa tersebut kebetulan memang sedang tidak ada yang berjaga di lokasi.
Satu-satunya petunjuk waktu terakhir adalah kesaksian rekannya yang melintas di sekitar rute peternakan seusai pulang memancing pada Sabtu (1/8) malam. "Ndak ada yang melihat kalau saat kejadian. Cuma sekitar jam 9 malam kemarin ada kawan-kawan sini pulang mancing, liat kobaran api kecil. Dikiranya bakar sampah, apalagi saat itu lampu di kandang ini masih terang dan hidup," jelasnya.
Supri menepis dugaan adanya kelalaian darinya, seperti menyalakan perapian atau membakar sampah sebelum meninggalkan lokasi kandang pada Sabtu sore sekitar pukul 17.00 WIB. "Semenjak musim kemarau ini kami tidak ada bakar-bakar. Kalaupun ada bakar sampah, jaraknya jauh sekitar 20 meter dari kandang dan dipastikan mati total baru kami pulang," tegasnya.
Apapun itu, yang jelas, musibah tak tersebut melahap habis seluruh 43 ekor kambing yang berada di dalam kandang, tanpa ada satu pun tersisa. "Kondisi kambing waktu saya datang pagi tadi ya sudah mati semua, hangus semua tak ada yang tersisa sama sekali," ucapnya.
Tak hanya itu, kebakaran tersebut melenyapkan investasi dan modal usaha yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. "Total kerugian material kalau dari nilai kambing saja saat ini dikalikan Rp5 juta sudah sekitar Rp160 jutaan. Untuk fisik bangunan kandang kemarin habisnya Rp100 juta lebih. Jadi totalnya bisa Rp200 juta lebih," ungkap Supri.
Meski begitu, Supri menegaskan tidak akan menyerah untuk terus bergelut di dunia peternakan. "Kalau semangat dan optimistis, saya tetap semangat karena jalan satu-satunya kami cari makan ya cuma ini. Cuma berkenaan sekarang ada keterbatasan modal, ya masih tertunda dulu sambil nunggu rezeki," katanya. (z1)
6 Ekor Hewan Ternak Milik BUMDes
MUSIBAH kebakaran hebat yang meratakan bangunan kandang ternak milik Edy Supryanto atau Supri di Dusun Rasau, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur tidak hanya menghanguskan aset pribadi.
Dari 43 ekor kambing yang ditemukan tewas terpanggang pada Minggu (2/8) pagi, enam ekor di antaranya merupakan ternak milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gantung yang dikelola melalui skema bagi hasil.
Supri membeberkan, enam ekor kambing milik BUMDes tersebut terdiri dari tiga ekor induk betina dan tiga ekor jantan. "Total kambing yang terbakar itu tidak 100 persen punya saya pribadi. Ada sebagian yang sistem bagi hasil dengan BUMDes, ada 6 ekor, yaitu 3 betina dan 3 jantan," ujar Supri saat ditemui di lokasi bekas kebakaran.
Supri mengaku cukup pusing memikirkan pertanggungjawaban atas musibah ini, lantaran kontrak hanya mengatur pembagian hasil. "Itu ndak tahu nanti proses pertanggungjawabannya bagaimana. Kemarin disebut hanya bagi hasil, sedangkan untuk insiden human error atau musibah seperti ini tidak tertulis dalam surat perjanjian," ucapnya.
Ketua BUMDes Gantung, Yusfizar membenarkan terdapat tiga pasang indukan kambing di peternakan milik Supri. "Benar apa yang dikonfirmasikan dari beliau, ada tiga pasang, jadi total 6 ekor," ujar Yusfizar.
Lebih lanjut, Yusfizar secara pribadi mengatakan peristiwa kebakaran itu murni bencana yang berada di luar kendali. "Kalau musibah bencana seperti ini agak gimana juga kita nak menuntut beliau. Secara pribadi, saya rasa tak masuk akal juga kalau minta ganti rugi dalam keadaan musibah begini. Musibah ini kan bukan disengaja," ucapnya.