Oleh : dr. Muhammad Abni Setiawan
Dokter Puskesmas Kori dan Puskesmas Watukawula Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Kabar kehamilan tentu menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap keluarga. Namun di balik kebahagiaan itu, ada bahaya mengintai yang sering kali tidak kita sadari.
Banyak ibu hamil yang sebenarnya sedang berjuang melawan kurang gizi parah, di mana dampaknya bisa mengancam nyawa sang ibu dan masa depan bayinya.
Setiap tahun ada 100 hingga 150 ibu di NTT yang tidak selamat saat melahirkan bayinya. Ditambah lagi masalah stunting yang masih menghantui anak-anak kita.
Rangkaian kejadian sedih ini sebenarnya bukan sesuatu yang terjadi tiba-tiba. Ada kondisi kesehatan yang sudah menurun sejak lama.
Baca juga: Opini: Ketika Kritik Naik Takhta
Percaya atau tidak, baik kasus ibu meninggal maupun bayi stunting, akar masalahnya sering kali sama. Semuanya berawal dari kondisi tubuh ibu yang diam-diam kehabisan tenaga, atau yang biasa disebut Kurang Energi Kronis (KEK).
Kondisi KEK ini kerap tidak disadari karena ibu hamil mungkin terlihat sehat dan bisa beraktivitas secara normal. Namun secara medis, cadangan nutrisi di dalam tubuhnya sebenarnya sudah sangat menipis.
Alhasil, tubuhnya tidak lagi memiliki sisa energi yang cukup untuk menjaga kesehatannya sendiri, apalagi untuk memenuhi kebutuhan gizi janin agar bisa tumbuh maksimal.
Cara mengenali KEK sebenarnya cukup gampang. Kalau ukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) ibu kurang dari 23,5 sentimeter, artinya ia mengalami KEK.
Ini bukan sekadar perkara ibu hamil yang badannya kurus, melainkan tanda bahwa tubuhnya benar-benar kekurangan nutrisi dalam waktu yang lama, bahkan sejak sebelum hamil.
Para ahli kandungan dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) selalu mengingatkan bahwa kecukupan gizi adalah kunci utama persalinan yang aman.
Ibu hamil dengan status KEK berisiko tinggi mengalami masalah fatal, mulai dari kurang darah (anemia) berat, keracunan kehamilan (preeklampsia), hingga perdarahan hebat setelah melahirkan.
Hingga saat ini, perdarahan masih menjadi penyebab utama tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Masalahnya tidak berhenti pada keselamatan ibu. Dampak kurang gizi ini langsung turun ke janin. Karena energi ibu terbatas, aliran oksigen dan makanan ke bayi lewat ari-ari (plasenta) jadi macet.
Akibatnya, janin tidak bisa tumbuh maksimal di dalam perut dan lahir dengan berat badan yang terlalu rendah (Intrauterine Growth Restriction).
Nah, bayi-bayi yang sudah kekurangan gizi sejak dalam kandungan inilah yang nantinya punya risiko sangat besar mengalami stunting (gagal tumbuh).
Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada survei 2023-2024, masalah gizi di NTT masih menjadi PR besar. Angka stunting di provinsi ini masih bertengger di atas 30 persen, jauh di atas rata-rata nasional.
Pemenuhan gizi ibu hamil di daerah sering kali terhambat oleh mitos turun-temurun, seperti larangan makan ikan, telur, atau daging. Pantangan keliru inilah yang justru memicu ibu hamil mengalami KEK.
Suami harus berani mematahkan mitos tersebut. Memenuhi gizi kehamilan juga tidak harus mahal. Pemanfaatan pangan lokal NTT, seperti memadukan sayur daun kelor dengan lauk ikan atau telur, sudah menjadi sumber gizi dan zat besi yang ampuh untuk melawan KEK.
Pada akhirnya, pencegahan KEK lebih membutuhkan pengetahuan gizi yang benar dan pemanfaatan sumber daya sekitar dibandingkan biaya yang besar.
Selama ini, urusan gizi kehamilan sering kali dibebankan kepada ibu hamil itu sendiri. Padahal, kehamilan butuh kerja sama tim yang kuat.
Di sinilah peran "Suami Siaga" (Siap, Antar, Jaga) sangat dibutuhkan. Suami dan anggota keluarga bisa melakukan langkah-langkah sederhana tapi sangat menentukan keselamatan yakni:
Kurang Energi Kronis (KEK) kerap tidak menunjukkan gejala sakit di awal, sehingga pencegahan sedini mungkin adalah solusi yang paling rasional.
Mari proaktif memastikan ukuran LILA dan pemenuhan gizi ibu sudah benar-benar ideal, bahkan sejak sebelum merencanakan kehamilan.
Kematian ibu saat melahirkan dan tingginya angka stunting bukanlah takdir yang tidak bisa diubah.
Keduanya adalah kondisi medis yang sangat bisa dicegah. Kehamilan butuh kekompakan, dan suami adalah pemimpinnya.
Ingat, menyelamatkan satu ibu dari ancaman KEK, berarti kita sedang menyelamatkan satu generasi masa depan NTT dari bahaya stunting. (*)
Sumber Referensi