Opini: Suami Siaga, Ibu Selamat
Dion DB Putra August 03, 2026 09:45 PM

Peran Keluarga Menyelamatkan Ibu Hamil dari KEK dan Bayi dari Stunting

Oleh : dr. Muhammad Abni Setiawan 
Dokter Puskesmas Kori dan Puskesmas Watukawula Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Kabar kehamilan tentu menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap keluarga. Namun di balik kebahagiaan itu, ada bahaya mengintai yang sering kali tidak kita sadari. 

Banyak ibu hamil yang sebenarnya sedang berjuang melawan kurang gizi parah, di mana dampaknya bisa mengancam nyawa sang ibu dan masa depan bayinya.

Setiap tahun ada 100 hingga 150 ibu di NTT yang tidak selamat saat melahirkan bayinya. Ditambah lagi masalah stunting yang masih menghantui anak-anak kita. 

Rangkaian kejadian sedih ini sebenarnya bukan sesuatu yang terjadi tiba-tiba. Ada kondisi kesehatan yang sudah menurun sejak lama. 

Baca juga: Opini: Ketika Kritik Naik Takhta

Percaya atau tidak, baik kasus ibu meninggal maupun bayi stunting, akar masalahnya sering kali sama. Semuanya berawal dari kondisi tubuh ibu yang diam-diam kehabisan tenaga, atau yang biasa disebut Kurang Energi Kronis (KEK).

Kondisi KEK ini kerap tidak disadari karena ibu hamil mungkin terlihat sehat dan bisa beraktivitas secara normal. Namun secara medis, cadangan nutrisi di dalam tubuhnya sebenarnya sudah sangat menipis. 

Alhasil, tubuhnya tidak lagi memiliki sisa energi yang cukup untuk menjaga kesehatannya sendiri, apalagi untuk memenuhi kebutuhan gizi janin agar bisa tumbuh maksimal.

Tanda Bahaya di Lengan Ibu

Cara mengenali KEK sebenarnya cukup gampang. Kalau ukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) ibu kurang dari 23,5 sentimeter, artinya ia mengalami KEK. 

Ini bukan sekadar perkara ibu hamil yang badannya kurus, melainkan tanda bahwa tubuhnya benar-benar kekurangan nutrisi dalam waktu yang lama, bahkan sejak sebelum hamil.

Para ahli kandungan dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) selalu mengingatkan bahwa kecukupan gizi adalah kunci utama persalinan yang aman. 

Ibu hamil dengan status KEK berisiko tinggi mengalami masalah fatal, mulai dari kurang darah (anemia) berat, keracunan kehamilan (preeklampsia), hingga perdarahan hebat setelah melahirkan. 

Hingga saat ini, perdarahan masih menjadi penyebab utama tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bayi Stunting Berawal dari Ibu yang KEK

Masalahnya tidak berhenti pada keselamatan ibu. Dampak kurang gizi ini langsung turun ke janin. Karena energi ibu terbatas, aliran oksigen dan makanan ke bayi lewat ari-ari (plasenta) jadi macet. 

Akibatnya, janin tidak bisa tumbuh maksimal di dalam perut dan lahir dengan berat badan yang terlalu rendah (Intrauterine Growth Restriction).

Nah, bayi-bayi yang sudah kekurangan gizi sejak dalam kandungan inilah yang nantinya punya risiko sangat besar mengalami stunting (gagal tumbuh). 

Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada survei 2023-2024, masalah gizi di NTT masih menjadi PR besar. Angka stunting di provinsi ini masih bertengger di atas 30 persen, jauh di atas rata-rata nasional. 

Mematahkan Mitos dan Memaksimalkan Pangan Lokal

Pemenuhan gizi ibu hamil di daerah sering kali terhambat oleh mitos turun-temurun, seperti larangan makan ikan, telur, atau daging. Pantangan keliru inilah yang justru memicu ibu hamil mengalami KEK.

Suami harus berani mematahkan mitos tersebut. Memenuhi gizi kehamilan juga tidak harus mahal. Pemanfaatan pangan lokal NTT, seperti memadukan sayur daun kelor dengan lauk ikan atau telur, sudah menjadi sumber gizi dan zat besi yang ampuh untuk melawan KEK. 

Pada akhirnya, pencegahan KEK lebih membutuhkan pengetahuan gizi yang benar dan pemanfaatan sumber daya sekitar dibandingkan biaya yang besar.

Peran Keluarga dan Suami

Selama ini, urusan gizi kehamilan sering kali dibebankan kepada ibu hamil itu sendiri. Padahal, kehamilan butuh kerja sama tim yang kuat. 

Di sinilah peran "Suami Siaga" (Siap, Antar, Jaga) sangat dibutuhkan. Suami dan anggota keluarga bisa melakukan langkah-langkah sederhana tapi sangat menentukan keselamatan yakni:

  1. Rutin Cek Timbangan dan LILA: Suami wajib tahu ukuran lengan (LILA) dan berat badan istri setiap bulan. Pantau terus Buku KIA (buku pink). Kalau berat badan istri tidak naik sesuai anjuran di buku tersebut, jangan ditunda, segera bawa ke bidan atau puskesmas.
  2. Sediakan Lauk Hewani: KEK dan stunting terjadi karena kurangnya asupan protein. Jadi, pastikan piring makan istri selalu ada lauk hewani, seperti telur, ikan, daging, atau hati ayam. Ini nutrisi wajib untuk mencegah gizi buruk.
  3. Bantu Ingatkan Minum Obat: Kondisi KEK sering kali dibarengi dengan penyakit kurang darah. Suami harus cerewet mengingatkan istri untuk rutin meminum Tablet Tambah Darah (TTD) setidaknya 90 butir selama masa kehamilan.
  4. Temani Periksa Kandungan: Jangan biarkan istri periksa sendiri. Dampingi saat ia periksa kehamilan minimal 6 kali, termasuk saat jadwal di USG oleh dokter. Ini sangat penting supaya dokter bisa cepat bertindak kalau melihat pertumbuhan janin melambat.

Mencegah Sebelum Terlambat

Kurang Energi Kronis (KEK) kerap tidak menunjukkan gejala sakit di awal, sehingga pencegahan sedini mungkin adalah solusi yang paling rasional. 

Mari proaktif memastikan ukuran LILA dan pemenuhan gizi ibu sudah benar-benar ideal, bahkan sejak sebelum merencanakan kehamilan.

Kematian ibu saat melahirkan dan tingginya angka stunting bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. 

Keduanya adalah kondisi medis yang sangat bisa dicegah. Kehamilan butuh kekompakan, dan suami adalah pemimpinnya. 

Ingat, menyelamatkan satu ibu dari ancaman KEK, berarti kita sedang menyelamatkan satu generasi masa depan NTT dari bahaya stunting. (*)

Sumber Referensi

  • Dinas Kesehatan Provinsi NTT. (2023-2024). Laporan Kinerja Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI).
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023-2024). Laporan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan Target Penurunan Stunting Nasional.
  • Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). (2022). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Obstetri dan Gizi Maternal.
  • Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Kementerian Kesehatan RI.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.