TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia dengan bendera Merah Putih dan umbul-umbul mulai berkibar di depan rumah-rumah warga Padukuhan Klayu I, Kalurahan Sumberwungu, Kapanewon Tepus, Senin (3/8/2026).
Namun, di balik suasana yang penuh semangat itu, warga masih bergelut dengan persoalan yang tak kunjung usai yakni krisis air bersih.
Musim kemarau yang telah berlangsung selama beberapa bulan membuat rumput di pinggir jalan menguning dan pepohonan meranggas.
Di halaman rumah Winarto (67), hamparan tanah yang biasanya ditanami tanaman pangan kini tampak lebih lengang.
Beberapa pekan sebelumnya, halaman rumah Winarto sempat ramai didatangi warga.
Bak Penampungan Air Hujan (PAH) miliknya digunakan sebagai tempat menyimpan bantuan air bersih sebelum dibagikan kepada warga sekitar.
Bagi masyarakat Klayu I, air bersih menjadi barang yang sangat berharga.
Di wilayah tersebut tidak terdapat sumber mata air maupun jaringan air yang dapat diandalkan.
Warga selama ini menggantungkan kebutuhan air pada air hujan.
Saat kemarau datang, satu-satunya pilihan adalah membeli air dari tangki swasta.
Ironisnya, di sudut rumah Winarto masih berdiri meteran PDAM, namun tak lagi mengalirkan air selama tiga tahun terakhir.
"Selama musim kemarau, sudah beli tangki 5 kali, harganya per tangki Rp160.000," kata Winarto saat ditemui di rumahnya, Senin (3/8/2026).
Satu tangki air digunakan sekitar dua pekan untuk memenuhi kebutuhan lima anggota keluarganya.
Karena harga air yang tidak murah, seluruh anggota keluarga diminta berhemat dalam menggunakannya.
"Ya, kalau mandi biasanya satu ember besar gebyar-gebyur, sekarang ember sedang. Mencuci bilasnya kalau musim hujan 3 kali, saat ini 2 kali," ucapnya sambil tertawa.
Di balik candanya, Winarto mengaku harus pandai menyiasati kondisi tersebut. Bahkan, ia rela menjual hasil pertanian demi memenuhi kebutuhan air bersih.
"Kemarin jual gaplek 1 kwintal Rp280.000 untuk beli air, dan sisanya untuk kebutuhan sehari-hari," ucap dia.
Harapan agar air kembali mengalir sebenarnya masih ada.
Namun, setelah tiga tahun pipa PDAM tak berfungsi, harapan itu semakin memudar.
"Sudah tiga tahun tidak keluar," ucap dia.
Baca juga: WAKANDA Kecam Keras Aksi Kejahatan Jalanan Beratribut Ojol di Sleman
Cuil tabungan
Ketua RT 2 Padukuhan Klayu I, Marjuki, membenarkan bahwa aliran PDAM sudah tidak mengalir selama tiga tahun terakhir, sehingga seluruh kebutuhan air bersih warga dipenuhi dari tangki swasta.
"Pasokan air bersih beli dari arah pantai, paling tidak digunakan dua minggu," kata dia.
Menurut Marjuki, tidak sedikit warga yang harus mengorbankan tabungan, bahkan menjual ternak maupun hasil pertanian agar tetap bisa membeli air bersih.
"Warga harus menjual apa yang dia punya, seperti kambing atau hasil pertanian. Ya mau bagaimana, air merupakan kebutuhan kok," ucap Marjuki.
Menjelang peringatan 81 tahun Kemerdekaan Indonesia, harapan terbesar warga bukanlah kemeriahan perayaan, melainkan kemudahan memperoleh air bersih dengan harga yang terjangkau.
Meski demikian, banyak warga mulai pasrah dengan kondisi yang mereka alami.
Harapan agar jaringan PDAM kembali normal pun semakin menipis.
"Banyak warga kami sudah tidak berharap pipanya diperbaiki. Karena jika sudah bagus jangan-jangan rusak lagi," ucapnya.
Sementara itu, Direktur Utama PDAM Tirta Handayani, Sulistyo Aribowo, membantah bahwa wilayah tersebut tidak mendapat aliran air selama tiga tahun penuh.
Menurutnya, distribusi air dilakukan secara bergilir.
"Tidak mungkin 3 tahun, bergilir to, Tepus 3 hari, dan Klayu 3 hari. Sekarang banyak yang menggunakan selang yang di bawah. Jadi yang atas kadang tidak kebagian," kata Sulis.
Ia mengatakan, PDAM tengah menyiapkan sumber air Wilayu untuk memperkuat layanan di wilayah Tepus, Keruk, dan sekitarnya.
Menurutnya, kebutuhan air bersih pada musim kemarau tahun ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya karena musim kemarau datang lebih awal.
"Nantinya diupayakan agar maksimal pelayanan airnya," kata dia. (kpc)