Kelalaian Fatal Trump yang Membuat Amerika Sulit Taklukkan Iran, Kini Washington Tertampar dan Malu
Agung Budi Santoso August 04, 2026 08:44 AM

Inilah kelalaian fatal Donald Trump yang membuat Amerika Serikat sulit taklukkan Iran, kini Washington kelabakan sendiri.

Tak seperti Irak, Libya, dan Suriah, rezim Iran sepenuhnya didukung rakyatnya. Sedangkan rezim Irak, Suriah, dan Libya relatif mudah ditundukkan karena sebagian rakyatnya tidak mendukung pemerintahan.

Inilah satu kelalaian Donald Trump, tidak jeli membedakan Iran dengan Irak, Libya dan Suriah, sehingga kini terlanjur malu dan kerepotan hadapi lawan seimbang, yakni Iran.

Amerika Serikat (AS) dinilai tidak akan semudah membalikkan keadaan di Iran seperti ketika menggulingkan rezim di Irak, Libya, maupun Suriah.

Di balik tekanan militer dan sanksi yang terus diperketat, Teheran disebut memiliki fondasi politik dan dukungan domestik yang jauh lebih kokoh sehingga tidak mudah dijatuhkan dari luar.

Dosen Hubungan Internasional BINUS University, Tia Mariatul Kibtiah, menegaskan bahwa banyak pihak keliru jika menyamakan Iran dengan negara-negara Timur Tengah lain yang pernah mengalami pergantian rezim akibat intervensi asing.

Menurutnya, struktur politik, karakter masyarakat, hingga posisi strategis Iran membuat setiap upaya untuk menggoyang pemerintahan di Teheran menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.

"Amerika Serikat lupa Iran itu beda dengan Irak," kata Tia dalam dialog Sapa Indonesia Pagi KOMPASTV, Senin (3/8/2026).

Tia menjelaskan, Iran memiliki sistem pemerintahan yang bertumpu pada konsep Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader), sebuah struktur kekuasaan yang dinilai mampu menjaga stabilitas politik di tengah berbagai tekanan dari luar negeri.

Kondisi tersebut, lanjutnya, sangat berbeda dengan Irak pada era Saddam Hussein yang saat itu dibayangi konflik internal, perpecahan politik, serta melemahnya dukungan dari dalam negeri.

"Ini bukan Irak, ini bukan Libya, bukan Suriah yang mudah ditumbangkan karena memang sebagian rakyatnya tidak mendukung," ujar Tia.

Tak hanya faktor politik, Tia menilai letak geografis Iran juga menjadi salah satu alasan mengapa negara itu tidak bisa diperlakukan seperti negara-negara lain yang pernah menjadi sasaran operasi militer Amerika Serikat.

Iran berada di jantung kawasan Timur Tengah, berbatasan dengan sejumlah negara penting, serta memiliki pengaruh besar terhadap dinamika keamanan regional.

Karena itu, setiap eskalasi konflik berpotensi memicu efek domino yang meluas hingga menyeret negara-negara sekutu Washington di kawasan.

Di sisi lain, meski selama bertahun-tahun menghadapi sanksi ekonomi dan tekanan militer, Iran dinilai masih memiliki kapasitas pertahanan dan kemampuan untuk memberikan perlawanan.

Hal inilah yang membuat setiap skenario konfrontasi terhadap Teheran diperkirakan akan jauh lebih rumit dibandingkan operasi militer yang pernah dilakukan AS di Irak, Libya, maupun Suriah.

TribunStyle.com | Tribunnews.com - Tiara Shelavie

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.