Prakiraan Cuaca Indonesia 4-10 Agustus 2026, BMKG: Musim Kemarau Kian Meluas, Waspada Kekeringan
Sri Juliati August 04, 2026 09:14 AM

TRIBUNNEWS.COM - Musim kemarau diperkirakan semakin menguat di berbagai wilayah Indonesia pada pekan pertama Agustus 2026. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, kondisi cuaca kering masih menjadi karakter utama selama periode 4-10 Agustus 2026. 

Meski demikian, masyarakat tetap diminta tidak mengabaikan potensi hujan yang masih dapat terjadi secara lokal akibat pengaruh dinamika atmosfer yang masih aktif.

Menguatnya musim kemarau tercermin dari semakin panjangnya durasi hari tanpa hujan di banyak daerah. 

Pemantauan BMKG pada akhir Juli menunjukkan ribuan titik pengamatan telah mengalami kondisi tanpa hujan selama lebih dari satu bulan. 

Durasi Hari Tanpa Hujan (HTH) selama satu bulan menunjukkan sebanyak 1.657 wilayah.

Bahkan, 306 lokasi lainnya telah memasuki kategori ekstrem dengan durasi lebih dari dua bulan tanpa hujan yang berarti.

Fenomena tersebut paling banyak ditemukan di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, wilayah selatan Sumatra, Kalimantan bagian selatan, Maluku Utara, serta sebagian Sulawesi. 

Catatan terpanjang terjadi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang telah mengalami hari tanpa hujan selama sekitar tiga bulan berturut-turut.

Durasi musim kering yang semakin panjang menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi berbagai sektor. 

Selain mengurangi ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian, kondisi ini juga meningkatkan risiko kekeringan, mempercepat mengeringnya vegetasi, serta mempermudah munculnya kebakaran hutan dan lahan.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Kota Ternate Selasa, 4 Agustus 2026: Dominan Berawan

Tanda-tanda meningkatnya dampak musim kemarau mulai terlihat di sejumlah daerah. 

Beberapa provinsi dilaporkan mengalami kebakaran hutan dan lahan.

Di antaranya Kalimantan Barat, Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. 

Pemantauan satelit BMKG juga mendeteksi keberadaan asap di sejumlah wilayah Kalimantan yang menunjukkan aktivitas kebakaran masih berlangsung.

BMKG menjelaskan bahwa asap dari kawasan Kalimantan Barat diperkirakan bergerak ke arah barat laut sehingga berpotensi melintasi wilayah perbatasan menuju Sarawak, Malaysia. 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak musim kemarau tidak hanya dirasakan secara lokal, tetapi juga dapat memengaruhi kawasan di luar Indonesia.

Meski cuaca kering semakin mendominasi, peluang hujan belum sepenuhnya hilang. 

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah masih mencatat hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat. 

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, serta peningkatan pembentukan awan di sebagian Indonesia bagian barat dan tengah.

Artinya, musim kemarau tidak selalu identik dengan cuaca panas tanpa hujan. 

Pada kondisi tertentu, hujan masih dapat turun secara tiba-tiba dengan intensitas sedang hingga lebat, bahkan berpotensi disertai petir dan angin kencang.

El Niño Masih Pengaruhi Cuaca Indonesia

BMKG menyebut perkembangan iklim global masih mendukung berlanjutnya musim kemarau di Indonesia. 

Fenomena El Niño kuat masih bertahan dan diperkirakan tetap memberikan pengaruh terhadap berkurangnya pembentukan awan hujan di berbagai wilayah.

Di saat yang sama, kondisi Samudra Hindia juga mulai mengarah ke fase Dipole Mode Positif (IOD Positif). 

Kombinasi kedua fenomena tersebut menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan hanya menerima curah hujan kategori rendah sepanjang awal Agustus.

Walaupun demikian, aktivitas atmosfer regional masih membuka peluang terbentuknya awan hujan, terutama di wilayah Sumatra dan sekitarnya. 

Selain itu, keberadaan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia sebelah barat Bengkulu diperkirakan ikut mendukung terbentuknya daerah pertemuan angin yang dapat memicu hujan di beberapa lokasi.

BMKG juga mengingatkan adanya peningkatan kecepatan angin di sejumlah wilayah perairan, seperti Laut Andaman, Laut Banda, Laut Arafuru, Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur, hingga perairan selatan Sulawesi Selatan. 

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tinggi gelombang sehingga perlu menjadi perhatian bagi nelayan maupun operator transportasi laut.

Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan ke Depan

Mengutip dari laman bmkg.go.id, berikut prakiraan cuaca Indonesia sepekan ke depan 4-10 Agustus 2026:

Periode 4-7 Agustus 2026

Pada periode ini, BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan didominasi cuaca cerah berawan hingga hujan ringan. 

Meski demikian, terdapat sejumlah daerah yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang sehingga masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan.

Wilayah berpotensi hujan sedang:

  • Aceh
  • Sumatera Utara
  • Jawa Barat
  • Kalimantan Utara
  • Papua Tengah
  • Papua Pegunungan
  • Papua

Wilayah berpotensi angin kencang:

  • Aceh
  • Sumatera Utara
  • Sumatera Barat
  • Nusa Tenggara Timur
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Selatan
  • Sulawesi Utara
  • Sulawesi Selatan
  • Maluku Utara
  • Maluku
  • Papua Barat Daya
  • Papua Barat
  • Papua Selatan

Periode 8-10 Agustus 2026

Memasuki paruh kedua pekan, pola cuaca secara umum masih relatif sama. 

Kondisi cerah berawan diperkirakan tetap mendominasi, sementara hujan ringan masih berpotensi terjadi di berbagai daerah. 

Namun, beberapa wilayah diprakirakan mengalami peningkatan hujan hingga kategori sedang.

Wilayah berpotensi hujan sedang:

  • Aceh
  • Papua Tengah
  • Papua Pegunungan
  • Papua Selatan

Wilayah berpotensi angin kencang:

  • Aceh
  • Banten
  • Jawa Barat
  • Kalimantan Barat
  • Sulawesi Barat
  • Sulawesi Tengah
  • Sulawesi Selatan
  • Sulawesi Utara
  • Maluku Utara
  • Papua Tengah
  • Papua Selatan

Imbauan BMKG

BMKG mengimbau masyarakat untuk menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca yang berkembang. 

Di wilayah yang mengalami musim kemarau panjang, masyarakat diminta menghemat penggunaan air, menjaga kesehatan dengan memenuhi kebutuhan cairan tubuh, serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan, termasuk membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar.

Sementara itu, masyarakat di daerah yang masih berpotensi diguyur hujan diingatkan agar tetap mewaspadai cuaca ekstrem yang dapat disertai petir dan angin kencang. 

Risiko pohon tumbang, baliho roboh, maupun gangguan perjalanan masih dapat terjadi meskipun musim kemarau sedang berlangsung.

BMKG juga mengajak masyarakat untuk rutin memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca dengan lebih baik. 

Dengan kewaspadaan dan langkah antisipatif yang tepat, dampak musim kemarau maupun cuaca ekstrem dapat diminimalkan sehingga aktivitas sehari-hari tetap berjalan dengan aman.

(Tribunnews.com/Farra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.