Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Selasa (5/8/2026), mengikuti reli Wall Street yang terdorong oleh penurunan harga minyak serta lonjakan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.
Dikutip dari CNBC, Selasa (4/8/2026), saham Korea Selatan memimpin penguatan di kawasan. Indeks Kospi naik 1,46%, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq melesat 3%.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 menguat 0,7%, sementara Topix dibuka sedikit di atas level penutupan sebelumnya. Bursa Australia juga bergerak positif dengan indeks acuan S&P/ASX 200 naik 0,15%.
Sebelumnya di Amerika Serikat, kontrak berjangka (futures) saham juga bergerak lebih tinggi pada Senin malam waktu setempat. Futures Dow Jones Industrial Average naik sekitar 0,2% atau 83 poin, sementara futures S&P 500 menguat sekitar 0,1%. Futures Nasdaq-100 bertambah 0,2%.
Penguatan tersebut melanjutkan reli Wall Street pada perdagangan reguler Senin, ketika indeks-indeks utama melonjak tajam. Dow Jones bahkan ditutup di level tertinggi sepanjang sejarah setelah kapitalisasi pasar Amazon menembus US$ 3 triliun untuk pertama kalinya.
Selain Amazon, saham Nvidia dan Meta Platforms juga mencatat kenaikan signifikan. Saham Alphabet, induk usaha Google, serta Microsoft turut menguat sepanjang sesi perdagangan.

Sentimen positif di pasar turut didorong oleh optimisme terhadap prospek ekonomi dan kinerja perusahaan.
Ekonom Senior Interactive Brokers, Jose Torres, mengatakan optimisme investor masih kuat memasuki awal bulan.
"Semangat investor sangat kuat pada awal bulan ini," kata Ekonom Senior Interactive Brokers, Jose Torres.
Ia menambahkan, data terbaru sektor manufaktur dan jasa yang dirilis pada Senin, ditambah paparan kinerja keuangan perusahaan, meningkatkan keyakinan investor.
"Data terbaru sektor manufaktur dan jasa yang dirilis pada Senin, serta paparan kinerja keuangan perusahaan dalam musim laporan keuangan, meningkatkan keyakinan bahwa prospek pengembalian modal kepada pemegang saham dapat memberikan kejutan positif, terutama karena valuasi saham kini jauh lebih murah setelah aksi jual besar-besaran di sektor teknologi," ujarnya.
Selain itu, pelemahan harga minyak juga menjadi katalis positif bagi pasar saham. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 5,1% dan ditutup di level US$ 80,34 per barel.
Penurunan tersebut terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengurungkan rencana untuk melancarkan serangan tambahan terhadap Iran, sehingga meredakan kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan pasokan energi global.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah perdagangan global.
Pada Selasa waktu Amerika Serikat, investor akan mencermati laporan kinerja keuangan sejumlah emiten besar, termasuk Caterpillar dan McDonald's. Sementara itu, produsen chip Advanced Micro Devices (AMD) dijadwalkan mengumumkan hasil keuangan setelah penutupan perdagangan.
Di sisi data ekonomi, pasar juga menunggu rilis data pemesanan pabrik (factory orders) Amerika Serikat untuk periode Juni, serta data perdagangan internasional pada bulan yang sama.
Kedua indikator tersebut diperkirakan akan menjadi petunjuk terbaru mengenai kondisi aktivitas ekonomi Amerika Serikat sekaligus arah kebijakan moneter ke depan. Hasilnya juga berpotensi memengaruhi sentimen investor di bursa global, termasuk pasar saham Asia.