BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Nasib Mengkubung atau Flying Lemur di Bangka Belitung kini semakin bergantung pada satu hal mendasar, yakni keberadaan hutan yang masih utuh. Satwa arboreal yang hampir separuh hidupnya dihabiskan di atas pepohonan ini terus kehilangan ruang hidup akibat deforestasi, alih fungsi lahan, hingga ekspansi pertambangan dan perkebunan monokultur.
Mengkubung membutuhkan habitat dengan tutupan vegetasi yang rapat, pohon-pohon besar sebagai tempat berlindung, serta ketersediaan pakan alami berupa daun, pucuk, bunga, buah, dan getah tumbuhan. Karena kebutuhan ekologis tersebut, satwa ini tidak lagi mudah dijumpai di seluruh wilayah Bangka Belitung.
Regi Yoga Pratama, Manager Advokasi dan Kampanye WALHI Kepulauan Bangka Belitung, mengatakan Mengkubung kini semakin sulit ditemukan terutama pada kawasan hutan yang telah berubah fungsi.
“Terutama di wilayah hutan yang telah dialihfungsikan menjadi perkebunan monokultur skala besar dan areal pertambangan,” kata Regi, Senin (3/8).
Di tengah menyusutnya hutan alam, kelekak menjadi salah satu benteng yang masih menyediakan ruang hidup bagi Mengkubung. Kelekak merupakan sistem agroforestri khas masyarakat Bangka Belitung yang diwariskan secara turun-temurun. Kawasan ini ditanami berbagai jenis pohon buah, tanaman pangan, tanaman obat, serta hasil hutan lainnya sehingga membentuk ekosistem yang tetap terjaga.
Menurut Regi, jauh sebelum negara menetapkan kawasan hutan, masyarakat adat Bangka Belitung telah mengenal pembagian wilayah hutan berdasarkan fungsi ekologis dan sosialnya. Mereka mengenal Hutan Larang sebagai kawasan yang dijaga karena memiliki pohon-pohon besar dan sumber mata air, Hutan Adat yang dikelola berdasarkan aturan adat, serta Kelekak sebagai kawasan kelola masyarakat yang tetap mempertahankan tutupan vegetasi.
Namun demikian, WALHI menilai kelekak sebenarnya bukan habitat asli Mengkubung.
“Kami menduga bahwa Kelekak merupakan wilayah migrasi Mengkubung pasca kita kehilangan hutan tropis akibat deforestasi dan alihfungsi lahan untuk industri pertambangan, perkebunan kelapa sawit serta hutan tanam industri yang tentunya menghilangkan habitat asli mereka,” ujarnya.
Migrasi satwa menuju kebun-kebun masyarakat ini menjadi tanda semakin sempitnya habitat alami yang tersedia.
Perpindahan Mengkubung ke kawasan kelekak membawa konsekuensi baru. Satwa yang kehilangan habitat kerap mencari makan di kebun masyarakat sehingga dianggap sebagai hama karena merusak tanaman pangan maupun buah-buahan.
Padahal, menurut Regi, fenomena tersebut merupakan dampak langsung dari rusaknya habitat alami. “Melindungi Kelekak sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan, termasuk satwa didalamnya,” jelasnya.
Jika kerusakan hutan terus berlangsung, konflik antara manusia dan satwa diperkirakan akan semakin sering terjadi.
“Maka untuk menjaga populasi Mengkubung tetap stabil, tidak hanya Kelekak yang mesti dilindungi, tetapi Negara juga mesti melindungi wilayah adat, ekosistem esensial serta memulihkan lingkungan hidup di Bangka Belitung,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Manager Lembaga Konservasi Pusat Penyelamatan Satwa Alobi Bangka Belitung, Endi R Yusuf. Menurutnya, penyelamatan Mengkubung tidak cukup hanya dengan melindungi satu spesies, tetapi harus dimulai dari menjaga hutan yang menjadi rumah seluruh satwa liar.
Ia menilai aktivitas pertambangan timah ilegal menjadi ancaman terbesar yang terus menggerus habitat satwa di Bangka Belitung.
”Menjadi solusinya, kelekak ini harus dijaga oleh masyarakat Bangka Belitung. Karena kelekak salah satu rumah bagi satwa liar di Babel. Jadi kita harus menjaga kelekak di Babel, agar satwanya tetap lestari dan kita tidak kehilangan hutan kita setiap tahun,” kata Endi kepada Bangkapos.com, Senin (3/8).
Endi menjelaskan bahwa kelekak bukan sekadar kebun warisan leluhur, tetapi juga memiliki fungsi ekologis yang sangat penting karena menyediakan sumber pakan alami bagi berbagai satwa.”Kelek mempunya fungsi ekologis karena memang hutanya pasti terjaga. Dan mereka mempunyai cadangan pakan alami satwa di alam. Karena di dalam kelekak di tanami pohon-pohon buah,” kata Endi.
Keberadaan berbagai jenis pohon buah menjadikan kelekak sebagai kawasan yang kaya sumber makanan sehingga satwa liar tetap bertahan hidup tanpa harus keluar jauh dari habitatnya.
“Di dalam kelekak banyak pohon buah, akan mengundang satwa dan membuat ekosistem di kelekak itu. Dengan menjaga hutan artinya menjaga ekosistem yang seimbang di sana. Karena di sana ada satwanya, cadangan makanan mereka di sana, sehingga harus dijaga,” tegasnya.
Endi menegaskan, kerusakan habitat Mengkubung saat ini sebagian besar dipicu aktivitas pertambangan timah ilegal yang terus
memasuki kawasan hutan. Pembukaan lahan menyebabkan hilangnya pepohonan besar yang selama ini menjadi tempat berlindung sekaligus jalur berpindah satwa di kanopi hutan.
“Setiap daerah di Bangka Belitung, sering melakukan pertambangan. Seharusnya jangan dilakukan karena dapat merusak ekosistem hutan itu sendiri,” katanya.
Karena itu, menjaga kelekak dinilai menjadi salah satu bentuk konservasi yang masih dilakukan masyarakat secara alami. Sebagai kawasan warisan keluarga yang diwariskan lintas generasi, kelekak relatif lebih terjaga dibanding kawasan lain.
“Dengan adanya kelekak, cara masyarakat menjaga hutan mereka. Karena rata rata kalau kelek itu jarang mereka untuk merusak karena ia turun temurun dari kakek mereka,” katanya.
Baik WALHI maupun Alobi Bangka Belitung memiliki benang merah yang sama mengenai upaya penyelamatan Mengkubung. Langkah pertama adalah menghentikan laju kerusakan habitat melalui perlindungan hutan, wilayah adat, kelekak, dan ekosistem esensial.
WALHI juga mendorong moratorium izin industri ekstraktif dan perkebunan monokultur skala besar, evaluasi terhadap izin yang telah terbit, serta percepatan pemulihan lingkungan hidup di Bangka Belitung. Selain itu, organisasi tersebut mendorong kebijakan tata ruang yang lebih adil bagi masyarakat maupun satwa liar, termasuk pengakuan terhadap wilayah adat dan wilayah kelola rakyat.
Sementara itu, Endi mengajak masyarakat mempertahankan tradisi menjaga kelekak sebagai benteng terakhir habitat satwa liar.
”Kita harus terus menjaga satwa liar, karena satwal liar mempunyai peran penting untuk ekosistem di Babel ini. Khususnya di tengah kepungan kerusakan habitat akibat pertambangan ilegal,” tutupnya. (riu/u2)