TRIBUNNEWS.COM - Perang Rusia-Ukraina memasuki hari ke-1.623 pada Selasa (4/8/2026).
Pertempuran masih berlanjut di sejumlah medan tempur, sementara jalur diplomasi belum menghasilkan terobosan berarti meski komunikasi antara Moskow dan Kyiv tetap berlangsung.
Di tengah konflik yang belum mereda, The Guardian melaporkan tokoh oposisi Rusia Boris Nadezhdin meninggalkan negaranya dan menetap di Paris.
Kepergian politikus anti-perang itu dinilai mencerminkan semakin sempitnya ruang bagi oposisi di Rusia menjelang pemilu parlemen.
Invasi skala penuh Rusia ke Ukraina dimulai pada Februari 2022 setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin mengerahkan pasukan ke negara tetangganya.
Namun, ketegangan antara kedua negara telah berlangsung sejak 2014, ketika Rusia mencaplok Semenanjung Krimea dan konflik bersenjata meletus di wilayah Donbas.
Memasuki tahun kelima perang, prospek perdamaian masih jauh dari harapan. Rusia dan Ukraina tetap berselisih mengenai status wilayah pendudukan, jaminan keamanan bagi Kyiv, serta kelanjutan dukungan militer Barat kepada Ukraina.
Berikut perkembangan terbaru perang Rusia-Ukraina pada hari ke-1.623:
Baca juga: Drone Hantam Pantai Wisata di Rusia Dekat Istana Putin, 7 Tewas dan 40 Terluka
Politisi oposisi Rusia, Boris Nadezhdin dilaporkan meninggalkan negaranya dan menetap di Paris di tengah meningkatnya tekanan pemerintah terhadap kelompok anti-perang.
Laporan The Guardian menyebut langkah tersebut terjadi menjelang pemilihan parlemen Rusia yang dijadwalkan berlangsung akhir tahun ini.
Nadezhdin menjadi sorotan internasional pada pemilihan presiden Rusia 2024 ketika mencoba menantang Vladimir Putin melalui jalur demokrasi.
Namun, pencalonannya akhirnya didiskualifikasi oleh otoritas pemilu sebelum proses pemungutan suara berlangsung.
Sejak saat itu, politikus liberal berusia 63 tahun tersebut tetap dikenal sebagai salah satu tokoh publik Rusia yang secara terbuka menentang invasi ke Ukraina.
Kepergiannya ke Prancis dinilai menjadi sinyal semakin sempitnya ruang bagi suara oposisi di Rusia menjelang pemilu parlemen.
Kemajuan pasukan Rusia di garis depan Ukraina kembali melambat sepanjang Juli 2026.
Analisis Agence France-Presse (AFP) berdasarkan data Institute for the Study of War (ISW) menunjukkan Rusia hanya menguasai kurang dari 40 kilometer persegi wilayah sepanjang bulan lalu.
Angka tersebut hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan Juni yang mencapai sekitar 30 kilometer persegi.
Perolehan itu juga jauh di bawah rata-rata ekspansi Rusia pada tahun lalu yang mencapai sekitar 405 kilometer persegi setiap bulan.
AFP menilai perlambatan tersebut menunjukkan pasukan Ukraina masih mampu menahan laju ofensif Rusia di berbagai sektor.
Meski demikian, Rusia tetap mencatat kemajuan terbatas di wilayah Donetsk, Zaporizhzhia, dan Sumy.
Di sisi lain, pasukan Ukraina berhasil merebut sekitar 29 kilometer persegi wilayah di Dnipropetrovsk, melanjutkan tren yang telah berlangsung sejak Desember 2025.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy resmi memberhentikan Duta Besar Ukraina untuk Amerika Serikat, Olga Stefanishyna.
Keputusan tersebut diumumkan melalui dekrit presiden pada Senin dan menjadi bagian dari perombakan besar di pemerintahan, setelah Kyiv mengganti perdana menteri dan menteri pertahanan.
Pergantian itu terjadi ketika Ukraina terus melobi Amerika Serikat agar menambah pasokan rudal pertahanan udara Patriot untuk menghadapi serangan Rusia.
Baca juga: Rudal Balistik Rusia Hantam Kyiv, 9 Tewas, Ukraina Kembali Desak Tambahan Sistem Patriot
Dalam unggahan di Facebook, Stefanishyna mengatakan pengunduran dirinya merupakan keputusan pribadi yang dipengaruhi keadaan personal.
Ia mengaku bangga dengan capaian selama hampir satu tahun menjabat, termasuk meningkatkan pasokan persenjataan dari Amerika Serikat.
Menurutnya, dukungan Washington berhasil dipertahankan meski situasi politik di Amerika Serikat berubah dan semakin tidak menguntungkan bagi Ukraina.
Serangan pesawat nirawak Ukraina dilaporkan menewaskan sedikitnya 11 orang di wilayah Rusia dan Krimea yang dianeksasi Moskow.
Pejabat Rusia menyebut tujuh korban, termasuk tiga anak, tewas setelah puing-puing drone menghantam kawasan pantai di kota resor Arkhipo-Osipovka, wilayah Krasnodar.
Empat korban lainnya dilaporkan tewas dalam serangan di Krimea, menurut gubernur wilayah yang ditunjuk Moskow, Sergey Aksyonov.
Insiden itu terjadi setelah Rusia sebelumnya menuduh Ukraina berada di balik ledakan di sebuah restoran di Moskow yang menewaskan lima orang.
Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak Ukraina terkait tuduhan tersebut.
Mantan panglima tertinggi militer Ukraina, Valerii Zaluzhnyi, menyatakan negaranya belum memiliki peluang untuk bergabung dengan NATO.
Pernyataan itu disampaikan Zaluzhnyi, yang kini menjabat sebagai Duta Besar Ukraina untuk Inggris, dalam pertemuan para duta besar Ukraina pada Senin.
Media Ukraina Evropeiska Pravda mengutip Zaluzhnyi yang mengatakan Ukraina hingga kini belum memenuhi standar militer yang disyaratkan untuk menjadi anggota aliansi tersebut.
"Saya sangat mengenal NATO. Selama sekitar 12 tahun saya bekerja untuk memastikan kami memenuhi standar NATO, dan setiap tahun saya mendengar cerita bahwa kami akan segera bergabung. Sayangnya, kami tidak akan pernah benar-benar bergabung," ujarnya.
Baca juga: TNI AL dan Rusia Tuntaskan Orruda 2026, Asah Kekuatan Tempur di Laut Jepang
Menurut Zaluzhnyi, kondisi angkatan bersenjata Ukraina saat ini masih belum memenuhi kriteria organisasi yang, menurutnya, masih berpedoman pada doktrin era Perang Dunia II.
Meski demikian, Ukraina tetap mempertahankan target strategis untuk bergabung dengan NATO dan Uni Eropa sebagaimana tercantum dalam konstitusinya.
Zaluzhnyi sendiri dicopot dari jabatan panglima militer pada 2024 setelah berselisih pandangan dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy mengenai strategi perang melawan Rusia.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)