298 Petani Sawit Paser Digembleng, Target Produktivitas Kebun Naik hingga 30 Ton per Hektare
Miftah Aulia Anggraini August 04, 2026 11:10 AM

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Sebanyak 298 petani kebun kelapa sawit asal Kabupaten Paser mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, pada 2–7 Agustus 2026.

Melalui pelatihan ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paser menargetkan produktivitas kebun sawit rakyat meningkat dari rata-rata di bawah 20 ton menjadi lebih dari 30 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser, Djoko Bawono, mengatakan produktivitas kebun sawit rakyat di daerahnya saat ini rata-rata masih berada di bawah 20 ton TBS per hektare per tahun.

Baca juga: FSBSI Paser Laporkan Dugaan Union Busting Perusahaan Sawit ke Disnakertrans

Djoko menargetkan angka tersebut dapat meningkat hingga di atas 30 ton per hektare per tahun apabila pekebun menerapkan teknik budidaya secara konsisten, mulai dari pemilihan bibit, pemupukan, penyemprotan, pengendalian gulma, hingga perawatan tanaman.

"Target kita minimal produktivitas kebun bisa mencapai 30 ton per hektare per tahun. Ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini harus diterapkan ketika kembali ke kebun," tegasnya.

Menurut Djoko, keberhasilan usaha perkebunan sawit tidak hanya diukur dari tingginya produksi TBS, tetapi juga dari rendemen minyak yang dihasilkan.

Karena itu, setiap tahapan budidaya harus dilakukan sesuai standar agar hasil panen lebih optimal.

Sementara itu, Wakil Direktur AKPY, Idum Satia, mengatakan peningkatan produktivitas kebun tidak selalu harus dilakukan dengan menambah biaya produksi.

Baca juga:  Hasil Panen Petani Sawit di Paser Meningkat Sejak Oktober dan Dibarengi Harga TBS Terbilang Tinggi

Menurutnya, penggunaan pupuk yang tepat, pengendalian gulma yang efektif, serta penerapan Good Agricultural Practices (GAP) menjadi kunci untuk meningkatkan hasil panen.

"Petani mungkin sudah bertahun-tahun mengelola kebun, tetapi pengalaman itu perlu dikorelasikan dengan data dan hasil penelitian. Dengan begitu petani memahami mengapa harus menggunakan benih unggul, bagaimana pemupukan yang benar, hingga pentingnya menjaga kesehatan tanah," ujarnya.

Selama pelatihan, peserta menerima materi mengenai penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pemanfaatan pupuk organik, pengendalian gulma dan organisme pengganggu tanaman (OPT), penggunaan pestisida secara bijak, teknik pemeliharaan tanaman, hingga pelestarian serangga penyerbuk.

Idum menjelaskan penerapan GAP secara konsisten dapat membuat penggunaan pupuk, tenaga kerja, dan sarana produksi menjadi lebih efisien tanpa mengurangi hasil panen.

Baca juga: DBH Kelapa Sawit di Paser Capai Rp 39 Miliar, Dialokasikan untuk Pembangunan Infrastruktur Jalan

Bahkan, pengelolaan kebun yang baik dinilai mampu meningkatkan produktivitas TBS sekaligus menekan biaya budidaya.

"Tujuan akhirnya adalah kebun yang lebih produktif, biaya budidaya lebih efisien, dan hasil panen yang semakin baik," katanya.

Selain mengikuti pembelajaran di kelas, peserta juga menjalani praktik lapangan serta kunjungan ke perkebunan PT Astra Agro Lestari, yakni PT Waru Kaltim Plantation (WKP) dan PT Sukses Tani Nusasubur (STN).

Di lokasi tersebut, pekebun melihat langsung penerapan budidaya yang efisien, mulai dari pengelolaan tanaman, pemupukan, hingga sistem pemeliharaan kebun.

Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit tahun ini dilaksanakan dalam 10 kelas dan menjadi lanjutan dari lima kelas pelatihan panen dan pascapanen yang sebelumnya telah diikuti pekebun Paser.

Baca juga: Petani Sawit di Paser Terima Premi RSPO Ratusan Juta Rupiah

Secara keseluruhan, sebanyak 556 petani pekebun memperoleh penguatan kompetensi melalui program yang didukung BPDP dan Ditjenbun.

Melalui pelatihan tersebut, diharapkan pekebun mampu menerapkan teknik budidaya yang lebih efisien sehingga biaya produksi dapat ditekan, produktivitas meningkat, dan hasil panen lebih berkelanjutan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.