TRIBUN-MEDAN.COM,- Bagi bapak dan ibu yang saat ini memiliki anak remaja harus ekstra berhati-hati.
Sebab, saat ini ada modus perjudian berkedok laga yang menargetkan para remaja.
Di era perkembangan digital seperti sekarang ini, para pelaku perjudian kerap memanfaatkan celah-celah tertentu untuk menggaet korbannya.
Baca juga: Cara Mengatasi IG Error, Tidak Bisa Login, Force Close, hingga Feed Tidak Muncul
Misalnya saja dengan mengadakan pertandingan atau turnamen berkedok game online.
Para remaja yang saat ini asyik bermain game dengan gadgetnya bisa saja menjadi korban praktik perjudian ini.
Umumnya, para korban tidak akan sadar dirinya telah terseret ke praktik judi.
Pelaku biasanya memanfaatkan ketertarikan anak terhadap permainan kompetitif, hadiah instan, hingga tantangan daring.
Baca juga: Cara Mengatasi Tabung Gas Bocor Agar Tidak Memicu Kebakaran
Mereka menyamarkan aktivitas perjudian dalam bentuk "laga", "battle", "turnamen", "adu skor", atau kompetisi yang terlihat legal.
Padahal, jika suatu permainan mengharuskan pemain mempertaruhkan uang atau barang berharga dengan hasil yang ditentukan oleh keberuntungan maupun peluang, maka aktivitas tersebut dapat masuk dalam kategori perjudian.
Karena dikemas menyerupai hiburan, banyak orang tua tidak menyadari bahwa anaknya mulai terpapar praktik perjudian daring sejak usia dini.
Perjudian berkedok laga merupakan aktivitas taruhan yang disamarkan sebagai pertandingan atau kompetisi permainan.
Baca juga: Cara Mengatasi HP Xiaomi Brick Setelah Update HyperOS 3
Pelaku sengaja menggunakan istilah yang lebih menarik, seperti:
Sekilas, permainan tersebut terlihat seperti game online biasa.
Baca juga: Cara Mengatasi Youtube Usang di Handphone, Perhatikan 7 Langkah Ini
Namun pemain diwajibkan menyetor sejumlah uang untuk ikut bermain dengan iming-iming hadiah yang jauh lebih besar.
Pada praktiknya, kemenangan sering kali bergantung pada sistem acak (random), peluang, atau algoritma yang tidak diketahui pemain.
Anak-anak termasuk kelompok yang rentan karena beberapa alasan.
Anak cenderung tertarik ketika melihat promosi:
Baca juga: Begini Cara Mengatasi Browser Default di HP Xiaomi, Ikuti Langkah-langkah Berikut
Padahal hadiah tersebut digunakan sebagai umpan.
Karena tampilannya mirip game online, anak sulit membedakan mana permainan hiburan dan mana yang mengandung unsur perjudian.
Tidak sedikit anak mengenal permainan tersebut dari:
Baca juga: Cara Mengatasi HP Xiaomi yang Lemot, Kamu Bisa Melakukan 6 Langkah Berikut
Ketika banyak teman ikut bermain, anak merasa tidak ingin tertinggal.
Sebagian anak belum memahami bahwa perjudian daring merupakan aktivitas yang memiliki risiko besar, baik secara finansial maupun psikologis.
Modus Perjudian Berkedok Laga yang Sering Digunakan
Pelaku biasanya menggunakan berbagai cara agar korban tidak menyadari bahwa mereka sedang diarahkan ke perjudian.
Mereka menghindari kata "judi" dan menggantinya dengan:
Korban diberi saldo gratis atau kesempatan bermain tanpa biaya.
Setelah menang beberapa kali, korban terdorong melakukan deposit uang sendiri.
Sering muncul unggahan seperti:
Unggahan semacam ini belum tentu benar dan bisa menjadi bagian dari strategi promosi.
Korban diminta mengajak teman agar memperoleh bonus tambahan.
Praktik ini membuat penyebaran permainan semakin cepat.
Sebagian platform menggunakan tampilan profesional, logo menarik, hingga istilah olahraga atau e-sports agar tampak seperti kompetisi resmi.
Tidak semua game merupakan perjudian. Namun orang tua perlu waspada apabila menemukan ciri-ciri berikut.
Harus melakukan deposit uang
Pemain diminta mengisi saldo agar dapat bermain.
Hadiah berupa uang tunai
Hadiah utama berbentuk uang yang bisa ditarik ke rekening atau dompet digital.
Menawarkan keuntungan cepat
Promosi lebih banyak membahas uang daripada permainan.
Menggunakan sistem peluang
Hasil pertandingan tidak sepenuhnya ditentukan oleh kemampuan pemain.
Meminta top-up terus-menerus
Pemain didorong membeli chip, koin, atau saldo agar bisa terus bermain.
Sulit berhenti
Permainan sengaja dibuat agar pemain ingin mencoba "sekali lagi" setelah kalah.
Orang tua sebaiknya mulai waspada apabila anak menunjukkan perubahan berikut.
Satu atau dua tanda belum tentu menunjukkan keterlibatan dalam perjudian.
Namun jika muncul beberapa tanda sekaligus dan berlangsung terus-menerus, orang tua perlu berdialog dengan anak secara terbuka.
Paparan perjudian sejak usia dini dapat menimbulkan berbagai dampak.
Kerugian finansial
Anak dapat menghabiskan uang saku, menggunakan rekening orang tua tanpa izin, bahkan meminjam uang.
Gangguan kesehatan mental
Kekalahan berulang dapat memicu stres, kecemasan, rasa bersalah, hingga depresi.
Penurunan prestasi belajar
Waktu belajar berkurang karena anak lebih fokus mengejar kemenangan.
Kecanduan
Sistem hadiah acak dapat memicu keinginan untuk terus bermain demi mengulang sensasi saat menang.
Pola ini dikenal dalam ilmu psikologi sebagai variable ratio reinforcement, yaitu pemberian hadiah yang tidak dapat diprediksi sehingga mendorong seseorang terus mencoba.
Risiko tindak kriminal
Dalam beberapa kasus, kecanduan judi dapat mendorong seseorang mencari uang dengan cara yang melanggar hukum.
Pencegahan paling efektif dimulai dari keluarga.
Biasakan anak bercerita mengenai game yang sedang dimainkan.
Hindari langsung memarahi atau menghakimi agar anak merasa aman untuk berdiskusi.
Luangkan waktu mencoba atau melihat bagaimana game tersebut bekerja.
Perhatikan apakah ada sistem taruhan atau transaksi mencurigakan.
Gunakan PIN pada aplikasi perbankan dan dompet digital.
Jangan menyimpan kata sandi pembayaran di perangkat yang digunakan anak.
Manfaatkan fitur parental control pada ponsel, toko aplikasi, dan perangkat gim untuk membatasi unduhan aplikasi sesuai usia.
Jelaskan bahwa janji "cepat kaya", "pasti menang", atau "modal kecil untung besar" merupakan tanda yang patut dicurigai.
Sesekali periksa aplikasi yang terpasang, riwayat transaksi, serta grup media sosial yang diikuti anak dengan tetap menghormati privasinya sesuai usia dan membangun kesepakatan dalam keluarga.
Dorong anak mengikuti olahraga, seni, membaca, atau kegiatan komunitas agar waktu luangnya tidak hanya dihabiskan di depan layar.
Jika orang tua mengetahui anak mulai bermain permainan yang mengandung unsur perjudian, jangan langsung memberikan hukuman.
Langkah yang lebih efektif adalah:
Perjudian berkedok laga berkembang mengikuti kemajuan teknologi dan sering kali dikemas menyerupai permainan biasa sehingga sulit dikenali.
Oleh karena itu, kewaspadaan orang tua menjadi benteng pertama untuk melindungi anak.
Mengenali cara kerja, modus, serta tanda-tanda awal paparan dapat membantu keluarga mengambil langkah pencegahan sebelum masalah berkembang menjadi kecanduan.
Pendampingan, komunikasi yang terbuka, serta literasi digital yang baik merupakan bekal penting agar anak mampu menggunakan internet secara aman dan bertanggung jawab.(ray/tribun-medan.com)