Harga Ayam di Musi Rawas dan OKUT Meroket, Pedagang Sebut Dipicu Pasokan Berkurang saat MBG Berjalan
Odi Aria August 04, 2026 01:27 PM

SRIPOKU.COM, MUSIRAWAS– Harga daging ayam potong mengalami kenaikan di dua kabupaten di Sumatera Selatan, yakni Musi Rawas dan OKU Timur, pada pekan pertama Agustus 2026.

Pedagang menyebut kenaikan dipicu berkurangnya pasokan serta meningkatnya permintaan sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan.

Di Kabupaten Musi Rawas, harga ayam potong di Pasar B Srikaton, Kecamatan Tugumulyo, mencapai Rp45.000 per kilogram pada Selasa (4/8/2026).

Harga tersebut naik Rp5.000 dibandingkan tiga hari sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp40.000 per kilogram.

Salah seorang pedagang ayam di Pasar B Srikaton, Iwan, mengatakan kenaikan terjadi sejak sekitar tiga hari terakhir akibat stok dari distributor berkurang.

"Hari ini harga daging ayam sudah Rp45.000 per kilogramnya," kata Iwan.

Menurutnya, pasokan yang menurun diduga berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan daging ayam untuk dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program MBG.

"Sekitar tiga hari ini naik, awalnya masih sekitar Rp40.000 per kilogram. Kenaikan ini terjadi karena stoknya kurang alias sedikit," ujarnya.

Ia menambahkan, banyak pasokan ayam yang langsung diserap dapur SPPG sehingga stok di tingkat pedagang menjadi terbatas.

"Dari distributornya kurang. Biasanya sih karena MBG, banyak dapur SPPG yang menyerap daging ayam langsung dari distributornya," jelasnya.

Kenaikan harga juga dirasakan Parsiyah, pemilik warung makan di Kecamatan Tugumulyo.

Ia mengaku keberatan karena harga ayam yang biasanya sekitar Rp35.000 per kilogram kini mencapai Rp45.000.

"Hari ini harga daging sangat mahal di pasar, biasanya hanya Rp35.000 sekarang sudah Rp45.000 per kilogramnya," katanya.

Menurut Parsiyah, menaikkan harga makanan bukan solusi karena dikhawatirkan pelanggan akan berkurang.

"Bingung juga, mau dinaikkan harga nasi dan lauknya tidak mungkin, takut pelanggannya kabur. Jadi solusinya ukuran daging ayamnya dikecilkan," ungkapnya.

Kondisi serupa terjadi di Pasar Martapura, Kabupaten OKU Timur.

Pedagang ayam, Rudi, mengatakan harga ayam yang dijual kepada konsumen berbeda-beda sesuai ukuran.

Ayam berbobot sekitar 1,1 kilogram dijual Rp32.000 per ekor, sedangkan ayam seberat sekitar 1,6 kilogram dijual Rp46.000 per ekor.

"Harganya memang beda-beda, tergantung berat ayamnya. Semakin besar ayamnya tentu harganya juga lebih tinggi," katanya.

Rudi menjelaskan, kenaikan harga terjadi setelah Program MBG kembali berjalan.

Sebelumnya, saat program tersebut libur, harga ayam hidup di tingkat pemasok berkisar Rp25.000 per kilogram. Kini naik menjadi sekitar Rp30.000 per kilogram.

"Kalau waktu MBG libur, ayam hidup sekitar Rp25 ribu per kilo. Sekarang setelah MBG jalan lagi, naik jadi Rp30 ribu per kilo," ujarnya.

Meski demikian, jumlah pembeli dinilai masih relatif stabil.

Dalam sehari, Rudi mengaku mampu menjual sekitar 20 kilogram daging ayam dengan pasokan yang didatangkan dari Belitang maupun Baturaja.

"Pembelinya masih sama, belum ada perubahan. Sehari biasanya habis sekitar 20 kilogram. Kadang saya ambil ayam dari Belitang, kadang juga dari Baturaja," jelasnya.

Seorang ibu rumah tangga, Ria, mengaku tetap membeli ayam karena menjadi menu favorit anaknya yang menyukai chicken katsu.

Namun, ia merasakan selisih harga setelah Program MBG kembali berjalan.

"Waktu MBG libur harganya lebih murah. Sekarang setelah berjalan lagi naik sekitar lima ribuan, jadi lumayan terasa untuk belanja harian," katanya.

Sementara itu, Siti mengaku mulai mengurangi jumlah pembelian ayam agar anggaran belanja keluarga tetap terkendali.

"Kalau harganya naik, saya biasanya mengurangi jumlah belinya. Yang penting masih cukup untuk kebutuhan keluarga," ujarnya.

Ia berharap harga ayam potong dapat kembali stabil sehingga tidak semakin membebani pengeluaran rumah tangga.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.