Liputan6.com, Jakarta Mahkota duri menjadi salah satu tanaman hias yang mencuri perhatian berkat tampilan uniknya. Batangnya dipenuhi duri tajam, tetapi kelopak berwarnanya justru terlihat lembut dan meriah hampir sepanjang tahun.
Secara ilmiah, tanaman ini dikenal sebagai Euphorbia milii dan berasal dari Pulau Madagaskar. Mengutip Britannica, tumbuhan berduri dari famili Euphorbiaceae ini populer sebagai tanaman rumahan sekaligus perdu taman di daerah beriklim hangat.
Meski berpenampilan garang, si cantik berduri ini tergolong mudah dirawat dan konon menyimpan beragam manfaat. Itulah sebabnya mahkota duri terus diburu para pehobi, baik untuk hiasan ruangan maupun koleksi taman.

Secara sederhana, mahkota duri adalah sebutan populer di Indonesia untuk Euphorbia milii, yakni tanaman sukulen berbunga yang di dunia internasional lebih dikenal sebagai crown of thorns. Tanaman ini tumbuh sebagai perdu berkayu dengan batang yang dipenuhi duri dan tetap hijau di iklim tropis.
Nama ilmiah milii diambil dari Baron Milius, mantan gubernur Pulau Bourbon. Sebagaimana disampaikan Divisi Extension University of Wisconsin-Madison, ia adalah orang yang memperkenalkan spesies ini ke Prancis pada 1821, sedangkan nama umumnya merujuk pada legenda mahkota duri yang dikenakan Yesus saat penyaliban. Bagi Anda yang menyukai koleksi berwarna, ada banyak pilihan tanaman hias berbunga untuk teras rumah yang bisa disandingkan dengannya.
Satu hal yang menarik, bagian berwarna cerah pada bunga mahkota duri sebenarnya bukan mahkota bunga sejati. Dilansir dari Gardenia, bagian mencolok itu adalah braktea atau daun pelindung yang mengelilingi bunga mungil berbentuk cangkir bernama cyathia, ciri khas keluarga Euphorbia. Karena sifatnya yang irit air, tanaman ini cocok masuk daftar tanaman hias yang tidak butuh banyak air.

Mengenali ciri fisik mahkota duri penting agar Anda tidak keliru saat membeli atau merawatnya. Sebagaimana dilaporkan Planet Natural, tanaman sukulen ini bisa berbunga hampir sepanjang tahun, dengan duri di antara daun hijau tebal pada batang muda serta braktea mencolok berwarna merah, oranye, merah muda, kuning, atau putih yang mengelilingi bunga aslinya yang kecil. Berikut karakteristik utamanya.
Karena tergolong sukulen, perawatannya pun mirip kelompok tanaman berdaging air. Anda bisa menyimak prinsip serupa pada panduan cara merawat sukulen agar awet dan tidak busuk, maupun tips khusus untuk merawat sukulen di dalam ruangan.

Di balik penampilannya yang berduri, mahkota duri ternyata lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional di berbagai negara. Mengacu pada riset dalam jurnal Frontiers in Plant Science, genus Euphorbia mencakup sekitar 2.000 spesies yang mengandung getah beracun, dan banyak di antaranya dipakai dalam pengobatan tradisional untuk luka, kutil pada kulit, hingga sejumlah penyakit saraf. Berikut sejumlah manfaat dan potensinya.
Penting dicatat, sebagian besar manfaat itu masih berada pada tahap penelitian laboratorium atau warisan tradisi, sementara getahnya bersifat iritan. Karena itu, jangan menggunakannya sebagai obat tanpa anjuran ahli. Untuk luka ringan sehari-hari, jauh lebih aman menempuh cara mengobati luka bakar dengan bahan alami atau memanfaatkan obat luka alami yang mudah ditemukan. Beberapa tanaman lain pun terbukti membantu, misalnya manfaat daun binahong untuk kesehatan kulit, khasiat daun binahong untuk mengobati luka, serta deretan tanaman yang bermanfaat menyembuhkan luka dan mencegah infeksi.

Kabar baiknya, merawat bunga air mata ibu tidak menyita banyak waktu asalkan kebutuhan dasarnya terpenuhi. Melinda Myers, pakar hortikultura, dikutip dari Birds and Blooms menyatakan, "Anda kini pemilik crown of thorns (Euphorbia milii). Tanaman ini menyukai cahaya terang dan media tanam berdrainase baik. Ia toleran terhadap kelembapan rendah sehingga cocok ditanam di dalam ruangan."
Prinsip perawatannya sejalan dengan sukulen dan kaktus pada umumnya. Anda bisa memperdalam ilmunya lewat panduan cara merawat kaktus, kumpulan tips merawat kaktus di rumah ala pebisnis tanaman hias, serta cara merawat sukulen untuk pemula. Jika baru memulai, tips merawat tanaman untuk pemula juga layak disimak. Tanaman ini pun cantik dijadikan bagian dari ide taman kering dengan kaktus dan sukulen, atau dipajang di teras bersama tanaman teras outdoor anti layu di terik matahari.

Di balik pesonanya, mahkota duri menyimpan risiko yang tidak boleh disepelekan. Sebagaimana diungkapkan Queensland Poisons Information Centre, getahnya dilaporkan bersifat korosif terhadap kulit dan mata sehingga dapat menimbulkan lepuh serta kebutaan sementara, dan durinya yang kokoh bisa melukai secara mekanis.
Risiko ini terjadi karena kandungan getahnya yang menyebar ke seluruh bagian tanaman. Berdasarkan keterangan NC State Extension, getah lateks putih pada semua bagian tanaman dapat memicu dermatitis kontak ringan hingga berat, merusak kornea bila mengenai mata, dan menimbulkan lepuh pada bibir serta mulut jika tertelan.
Bahaya serupa juga mengintai hewan kesayangan di rumah. Sebagaimana dilaporkan Pet Poison Helpline, tertelannya tanaman ini menyebabkan iritasi ringan pada mulut dan saluran cerna berupa air liur berlebih, kehilangan nafsu makan, muntah, dan/atau diare, sedangkan kontak kulit atau mata dengan getahnya dapat memicu iritasi.
Karena itu, kenakan sarung tangan setiap kali memangkas atau memindahkannya, cuci tangan setelahnya, dan bila getah mengenai mata segera bilas dengan air mengalir selama sekitar 15 menit lalu cari bantuan medis. Letakkan pot di tempat yang tinggi, jauh dari jangkauan anak-anak maupun hewan peliharaan, agar keindahan bunga air mata ibu tetap bisa dinikmati tanpa membahayakan. Untuk mempercantik area luar tanpa kekhawatiran, Anda juga bisa memilih dari beragam tanaman hias outdoor tahan panas lainnya.
Ya, seluruh bagian tanaman mengandung getah lateks putih yang bersifat iritan pada kulit dan mata serta beracun bila tertelan, baik bagi manusia maupun hewan peliharaan. Sebaiknya gunakan sarung tangan saat menanganinya dan jauhkan dari jangkauan anak-anak serta hewan agar tidak terjadi kontak yang tidak diinginkan.
Selain mempercantik ruangan, tanaman ini secara tradisional dimanfaatkan untuk pengobatan luka dan kutil, sementara riset laboratorium menyoroti kandungan senyawa bioaktifnya yang berpotensi antioksidan, antiradang, dan antimikroba. Namun, khasiat tersebut masih pada tahap penelitian dan getahnya berisiko, sehingga tidak boleh digunakan sembarangan tanpa pengawasan ahli.
Kuncinya adalah cahaya matahari yang melimpah, media tanam berdrainase baik, dan penyiraman secukupnya saat media benar-benar kering. Hindari penyiraman berlebih yang memicu busuk akar, lalu berikan pupuk ringan pada musim tumbuh agar braktea warna-warninya makin rajin bermunculan.