SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Harga daging ayam potong di sejumlah pasar tradisional Kota Palembang terus mengalami kenaikan.
Saat ini, harga ayam mencapai Rp48.000 per kilogram, sehingga dikeluhkan masyarakat, terutama ibu rumah tangga yang harus mengatur pengeluaran kebutuhan pangan.
Ketua Asosiasi Masyarakat Perunggasan Sumatera Selatan (AMPERA), Ir. Ismaidi, mengatakan kenaikan harga ayam tidak hanya dipengaruhi meningkatnya permintaan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga dipicu oleh tingginya harga Day Old Chick (DOC) atau anak ayam umur sehari serta kenaikan harga pakan ternak.
Selain itu, cuaca panas ekstrem yang terjadi belakangan ini turut berdampak pada produktivitas peternakan ayam.
"Cuaca yang sangat panas menyebabkan ayam mengalami heat stress. Kondisi ini membuat ayam tidak nyaman, nafsu makan menurun, dan metabolisme terganggu," ujar Ismaidi, kepada Sripoku.com Selasa (4/8/2026).
Ia menjelaskan, dampak cuaca panas membuat bobot ayam tidak mencapai target panen. Jika dalam kondisi normal ayam umur 31 hari mampu mencapai berat sekitar 2,3 kilogram per ekor, kini rata-rata hanya berkisar 1,6 hingga 1,8 kilogram.
Menurut Ismaidi, secara jumlah populasi, stok ayam di Sumatera Selatan sebenarnya masih mencukupi. Namun, bobot ayam yang lebih ringan menyebabkan pasokan berdasarkan kebutuhan berat tidak terpenuhi.
"Secara populasi stok cukup. Tapi berat badan ayam yang tidak tercapai membuat produsen tidak bisa memenuhi permintaan. Pembeli melalui broker membeli berdasarkan kilogram, bukan per ekor," jelasnya.
Ia menegaskan, kenaikan harga ayam juga tidak serta-merta membuat peternak memperoleh keuntungan lebih besar. Pasalnya, biaya produksi ikut meningkat akibat harga DOC, pakan, serta kondisi cuaca yang tidak menentu.
"Tidak ada kepastian. Harga selalu berubah dan peternak mandiri paling merasakan dampaknya, apalagi dengan situasi seperti sekarang," katanya.
Ismaidi berharap pemerintah daerah segera melakukan validasi data sektor perunggasan agar kebijakan yang diambil mampu menjaga stabilitas harga sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak.
"Validasi data dulu. Setelah itu semua pihak duduk bersama untuk merumuskan langkah yang paling memungkinkan menjaga keseimbangan antara peternak dan kebutuhan masyarakat," pungkasnya.