SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Dua kota dengan karakter geografis dan ekonomi yang kontras kini mencatatkan potret performa fiskal yang menarik.
Di utara Sulawesi, Kota Bitung berdiri gagah sebagai hub maritim dan pusat pengolahan cakalang berstatus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Sementara di bagian selatan Sumatra, Kota Lubuklinggau mengukuhkan diri sebagai jantung perlintasan strategis yang menghubungkan tiga provinsi sekaligus, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Jambi.
Meski terpisah samudra dan bentang daratan, kedua kota penopang ekonomi daerah ini saling 'beradu' otot Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Data terbaru djpk.kemenkeu per 3 Agustus 2026 mengungkapkan bagaimana struktur ekonomi unik masing-masing daerah mencerminkan pundi-pundi pendapatannya.
Baca juga: Mengintip 10 Provinsi Penjinak Inflasi Terendah di Indonesia Juli 2026
Secara akumulasi anggaran dan realisasi, Kota Lubuklinggau unggul dalam besaran nilai PAD.
Namun, jika dibedah per komponen, Kota Bitung menunjukkan kemandirian yang sangat kuat pada pos pajak daerah.
Dengan julukan Kota Cakalang, denyut ekonomi Bitung sangat bergantung pada aktivitas logistik pelabuhan dan industri pengolahan perikanan.
Keberadaan KEK dan kawasan industri manufaktur menjadikan sektor perpajakan sebagai tulang punggung utama.
Dari total realisasi Rp 66,74 miliar, sebanyak Rp 57,32 miliar (85,8 % ) disumbang langsung oleh Pajak Daerah.
Angka ini menegaskan betapa kuatnya perputaran modal dari sektor riil dan usaha manufaktur di wilayah pesisir ini.
Sebagai crossroad strategis pergerakan barang dan jasa antarprovinsi, Lubuklinggau mengandalkan lalu lintas perdagangan, perhotelan, serta jasa pendukung.
Dari target anggaran Rp 162,22 miliar, realisasinya telah menyentuh Rp 81,70 miliar.
Menariknya, selain kontribusi pajak daerah sebesar Rp 42,86 miliar, Lubuklinggau mencatatkan pos Lain-lain PAD yang Sah yang terbilang jumbo, yakni mencapai Rp 34,19 miliar.
Hal ini menandakan fleksibilitas pemanfaatan aset dan penerimaan non-pajak daerah yang terkelola optimal.
Bitung membuktikan bahwa fokus pengembangan sektor industri riil dan maritim memberikan fondasi pajak daerah yang stabil.
Di sisi lain, Lubuklinggau berhasil mengkapitalisasi posisinya sebagai kota jasa dan transit untuk menjaring potensi pendapatan non-pajak yang sangat signifikan.