TRIBUNJOGJA.COM - Salah satu lagu dolanan yang paling dikenal masyarakat Indonesia adalah "Cublak-Cublak Suweng".
Lagu ini biasanya dinyanyikan saat anak-anak memainkan permainan tradisional dengan menebak siapa yang menyembunyikan kerikil atau benda kecil di tangannya.
Meski liriknya sudah sangat akrab di telinga, tidak sedikit orang yang mengaku belum memahami arti di balik setiap baitnya.
Bahkan, bahasa Jawa yang digunakan dalam lagu ini terdengar berbeda dibandingkan bahasa Jawa yang umum digunakan sehari-hari.
Di balik kesederhanaannya, Cublak-Cublak Suweng ternyata menyimpan pesan moral yang mendalam.
Lagu ini dipercaya diciptakan oleh Sunan Giri sebagai media dakwah untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada masyarakat Jawa melalui pendekatan budaya yang mudah dipahami, terutama oleh anak-anak.
Menariknya, pesan yang terkandung dalam lagu ini masih terasa relevan dengan kehidupan masyarakat modern.
Sebagian orang mengaitkannya dengan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang banyak dibicarakan di era media sosial.
Lantas, apa sebenarnya makna di balik lagu Cublak-Cublak Suweng?
Menurut sejumlah kajian sejarah dan budaya, lagu Cublak-Cublak Suweng diciptakan oleh Sunan Giri atau Syekh Maulana Ainul Yaqin, salah satu anggota Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Pada masa itu, para wali memilih pendekatan budaya sebagai sarana berdakwah.
Selain wayang dan gamelan, lagu dolanan anak juga dimanfaatkan untuk menyampaikan ajaran moral dan nilai-nilai kehidupan agar lebih mudah diterima masyarakat.
Karena dikemas dalam bentuk permainan, pesan yang terkandung di dalam lagu tersebut dapat dipelajari anak-anak sejak dini tanpa terasa seperti sedang menerima nasihat.
Meski terdengar sederhana, hampir setiap lirik dalam lagu Cublak-Cublak Suweng memiliki makna kiasan.
Kata "suweng" yang berarti anting-anting sering dimaknai sebagai simbol kebahagiaan atau harta sejati. Sementara lirik "suwenge teng gelenter" menggambarkan bahwa kebahagiaan sebenarnya telah tersedia di sekitar manusia, tetapi tidak semua orang mampu menyadarinya.
Ada pula lirik "mambu ketundhung gudel" yang menggambarkan sifat manusia yang mudah tergoda oleh hawa nafsu dan keserakahan.
Dalam berbagai penafsiran, gudel atau anak kerbau menjadi simbol orang yang bertindak tanpa berpikir panjang sehingga mudah terjerumus pada hal-hal yang merugikan dirinya sendiri.
Sementara itu, lirik "pak empo lera-lere" menggambarkan seseorang yang terus melihat ke kanan dan ke kiri. Kondisi tersebut dimaknai sebagai simbol kegelisahan karena selalu membandingkan hidupnya dengan orang lain dan tidak pernah merasa cukup.
Pada bagian akhir, lirik "sir-sir pong dele kopong" menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh hanya mengejar kenikmatan dunia semata. Jika hati nurani diabaikan, kehidupan seseorang akan terasa kosong meski memiliki banyak harta.
Walaupun diciptakan ratusan tahun lalu, pesan dalam lagu Cublak-Cublak Suweng dinilai masih relevan dengan berbagai fenomena yang terjadi saat ini.
Salah satunya adalah munculnya budaya ingin cepat kaya tanpa proses. Fenomena seperti investasi bodong, judi online, hingga berbagai bentuk penipuan yang menjanjikan keuntungan instan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa masih banyak orang yang mudah tergoda oleh iming-iming kekayaan.
Pesan tersebut sejalan dengan makna lirik "mambu ketundhung gudel", yang mengingatkan agar manusia tidak bertindak ceroboh hanya karena mengejar keuntungan sesaat.
Selain soal keserakahan, banyak penafsiran yang mengaitkan lagu Cublak-Cublak Suweng dengan fenomena Fear of Missing Out atau FOMO yang ramai diperbincangkan di media sosial.
FOMO merupakan kondisi ketika seseorang merasa takut tertinggal tren, pencapaian, atau gaya hidup orang lain. Akibatnya, mereka terus membandingkan diri dengan apa yang dilihat di media sosial hingga merasa hidupnya kurang baik.
Kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan makna lirik "pak empo lera-lere" yang menggambarkan seseorang terus menoleh ke kanan dan ke kiri tanpa pernah merasa puas terhadap apa yang dimilikinya.
Padahal, lagu ini justru mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak berasal dari pengakuan orang lain, melainkan dari hati yang tenang dan mampu mensyukuri apa yang dimiliki.
Pesan lain yang masih terasa relevan adalah kebiasaan memamerkan gaya hidup di media sosial atau yang kini dikenal dengan istilah flexing.
Tidak sedikit orang berusaha menampilkan kehidupan yang tampak sempurna demi mendapatkan perhatian atau pengakuan dari orang lain.
Padahal, kondisi yang ditampilkan di media sosial belum tentu mencerminkan keadaan yang sebenarnya.
Melalui lirik "sir-sir pong dele kopong", lagu ini mengingatkan bahwa kehidupan yang hanya fokus pada materi dan pencitraan akan membuat hati menjadi kosong.
Sebaliknya, seseorang yang telah menemukan ketenangan batin tidak lagi merasa perlu mencari pengakuan dari orang lain.
Itulah sebabnya Cublak-Cublak Suweng tidak hanya dikenal sebagai lagu permainan anak-anak, tetapi juga sebagai warisan budaya yang sarat dengan nilai kehidupan.
Meski telah diciptakan ratusan tahun lalu, pesan moral yang disampaikan Sunan Giri masih relevan hingga sekarang, terutama sebagai pengingat agar manusia tidak mudah terjebak dalam keserakahan dan membandingkan diri dengan orang lain.
(MG ABIL PRAMUDYA)