- Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, menyebut konflik terbaru dengan Amerika Serikat sebagai Perang 17 Hari Muharram.
Ia mengklaim perang tersebut menjadi salah satu momen ketika Iran berhasil memberikan pukulan berat kepada AS.
Dalam wawancara yang dipublikasikan pada Senin (3/8), Rezaei mengaku telah memprediksi Donald Trump akan membatalkan nota kesepahaman dengan Iran.
Menurutnya, keputusan itu menjadi awal kembali memanasnya konflik antara kedua negara.
Rezaei menilai, AS mulai melanggar isi kesepahaman hanya beberapa hari setelah perjanjian diberlakukan.
Ia mengatakan Iran sempat menunggu komitmen Washington sebelum akhirnya memilih merespons melalui jalur militer.
Salah satu pemicu konflik disebut berasal dari upaya AS membangun koridor baru di selatan Selat Hormuz.
Langkah tersebut diklaim bertentangan dengan kesepahaman yang mengakui kedaulatan Iran di kawasan itu.
Sebagai respons, Iran mengklaim menargetkan sejumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Langkah itu disebut sebagai peringatan agar seluruh pihak kembali mematuhi kesepahaman yang berlaku.
Rezaei juga mengklaim Iran melancarkan serangan balasan ke pangkalan militer AS di Kurdistan Irak dan Kuwait.
Menurutnya, serangan tersebut membuat AS akhirnya mengevakuasi kedua pangkalan tersebut.
Di sisi lain, konflik antara Iran dan AS masih terus memanas dalam beberapa pekan terakhir.
Serangan rudal dan drone dilaporkan masih menyasar sejumlah fasilitas militer di kawasan.
Laporan yang beredar juga menyebut jumlah korban di pihak AS terus bertambah seiring berlanjutnya konflik.
Sementara itu, ketegangan di Selat Hormuz masih menjadi sorotan karena berdampak pada jalur energi global.
Program: Tribun Video Update
Host: Feba Fadhiliana
Editor Video: Aura Dewi Arafuru
Uploader: bagus gema praditiya sukirman