Liputan6.com, Jakarta - Ayat Al-Qur'an tentang menjaga persaudaraan sesama muslim menjadi pedoman penting dalam membangun kehidupan yang rukun dan penuh kasih sayang. Sebab, dalam Islam hubungan antarsesama orang beriman tidak hanya didasarkan pada ikatan darah atau kesamaan asal-usul, tetapi juga pada keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Allah menegaskan bahwa seluruh kaum mukmin adalah saudara, sebuah ikatan yang melampaui perbedaan suku, ras, etnis, maupun status sosial. Persaudaraan yang berlandaskan iman inilah yang dikenal sebagai ukhuwah Islamiyah.
Namun, menjaga ukhuwah bukanlah perkara yang selalu mudah. Di tengah kehidupan modern, umat Islam kerap dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari perbedaan pandangan, fanatisme terhadap kelompok tertentu, hingga perselisihan yang berawal dari hal-hal kecil. Jika tidak disikapi dengan bijaksana, perbedaan tersebut dapat merenggangkan hubungan antarsaudara seiman.
Kondisi ini menunjukkan bahwa nilai-nilai persaudaraan yang diajarkan Al-Qur'an masih perlu terus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, para ulama tafsir sejak dahulu hingga sekarang memberikan perhatian besar terhadap ayat-ayat yang membahas ukhuwah.
Imam Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, serta Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an sama-sama menjelaskan bahwa persaudaraan yang dibangun atas dasar keimanan memiliki kedudukan yang sangat mulia.
Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah ayat Al-Quran tentang menjaga persaudaraan sesama muslim.
1. Surat Al-Hujurat Ayat 10
Ayat ini merupakan ayat yang paling fundamental dalam membahas konsep persaudaraan sesama muslim. Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Latin: Innamal-mu'minuna ikhwatun fa ashlihu baina akhawaikum wattaqullaha la'allakum turhamun.
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.”
Dalam Taisir Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, Imam As-Sa’di menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan adanya kontrak dan ikatan yang dibuat oleh Allah di antara orang-orang yang beriman. Barang siapa beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, maka dia adalah saudara bagi orang-orang beriman lainnya. Persaudaraan ini mewajibkan setiap muslim untuk mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, dan membenci bagi saudaranya sebagaimana ia membenci bagi dirinya sendiri.
As-Sa’di juga menegaskan bahwa persaudaraan dalam ikatan aqidah lebih kuat daripada persaudaraan dalam ikatan nasab. Persaudaraan nasab akan terputus dengan melanggar urusan agama, sedangkan persaudaraan aqidah tidak akan terputus dengan melanggar urusan nasab. Beliau mendasarkan hal ini pada firman Allah dalam surat Hud ayat 46 yang menegaskan bahwa Nuh tidak dapat memohonkan ampunan bagi anaknya yang kafir.
2. Surat Al-Hujurat Ayat 11
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok). Jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain, boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk.”
Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an menjelaskan bahwa ayat ini menerangkan ketidakpantasan seseorang mencemooh orang lain karena penampilan, kekurangan, atau kemampuannya. Orang yang dicemooh mungkin lebih baik di sisi Allah daripada orang yang mencemooh. Orang yang mencemooh berisiko menzalimi dirinya sendiri dengan merendahkan orang yang dimuliakan Allah.
Perilaku mencela dan saling memanggil dengan julukan buruk tidak hanya menyakiti hati orang lain, tetapi juga dapat merusak persaudaraan dan menimbulkan permusuhan.
3. Surat Al-Hujurat Ayat 12
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
Ayat ini secara tegas melarang tiga hal yang dapat merusak persaudaraan: berprasangka buruk (su’uzh-zhan), mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus), dan menggunjing (ghibah). Larangan ini menunjukkan betapa Islam sangat menjaga kehormatan dan martabat sesama muslim.
4. Surat Ali Imran Ayat 103
Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ
Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara.”
Ayat ini mengingatkan umat Islam untuk selalu berpegang teguh pada agama Allah dan tidak bercerai-berai. Allah mengingatkan kembali nikmat-Nya yang telah mempersatukan hati-hati mereka yang dahulu saling bermusuhan, sehingga dengan nikmat-Nya mereka menjadi bersaudara.
5. Surat Al-Maidah Ayat 2
Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya: “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
Ayat ini menjadi landasan bagi semangat kerja sama dan saling membantu di antara sesama muslim dalam segala hal yang membawa kebaikan dan ketakwaan, serta melarang kerja sama dalam dosa dan permusuhan.
1. Memperoleh Manisnya Iman
Orang yang menjaga persaudaraan karena Allah akan merasakan manisnya iman. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Ada tiga golongan yang dapat merasakan manisnya iman: orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari mencintai dirinya sendiri, mencintai seseorang karena Allah, dan ia benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci jika ia dicampakkan ke dalam api neraka” (HR. Bukhari).
2. Mendapat Naungan Cinta Allah di Akhirat
Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan mendapatkan naungan-Nya di hari kiamat, pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Dimana orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, maka hari ini Aku akan menaungi mereka dengan naungan-Ku” (HR. Muslim).
3. Mendapat Kedudukan Mulia yang Dicemburui Para Syuhada
Orang-orang yang terikat dengan persaudaraan karena Allah memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah pada hari kiamat, yang membuat para nabi dan syuhada cemburu kepada mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Mereka adalah suatu kaum yang mencintai karena Allah padahal tidak ada hubungan persaudaraan sedarah antara mereka, dan tidak ada hubungan harta (waris). Demi Allah, sesungguhnya wajah-wajah mereka bagaikan cahaya dan mereka di atas cahaya.”
4. Diampuni Dosanya oleh Allah
Menjalin persaudaraan dan saling berjabat tangan menjadi sebab diampuninya dosa-dosa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Jika dua orang muslim bertemu dan mereka saling berjabat tangan, maka dosa-dosa mereka hilang dari kedua tangan mereka, bagai berjatuhan dari pohon.”
5. Senantiasa Ditolong oleh Allah
Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba selalu menolong saudaranya” (HR. Muslim).
1. Apa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa sesama muslim itu bersaudara?
Ayat yang paling tegas menjelaskan hal ini adalah Surat Al-Hujurat ayat 10: “Innamal-mu'minuna ikhwatun” (Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara). Ayat ini menjadi landasan utama konsep ukhuwah Islamiyyah dalam Al-Qur’an.
2. Mengapa persaudaraan sesama muslim lebih kuat daripada persaudaraan karena nasab?
Menurut para ulama tafsir seperti Imam As-Sa’di dan Quraish Shihab, persaudaraan karena iman lebih kuat karena tidak terputus oleh perbedaan nasab. Hal ini terbukti dari teguran Allah kepada Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, dan Nabi Muhammad yang tidak dapat memohonkan ampunan bagi kerabat mereka yang kafir. Persaudaraan nasab bisa terputus karena perbedaan agama, sedangkan ukhuwah Islam tidak terputus karena perbedaan nasab.
3. Apa saja larangan dalam Al-Qur’an yang dapat merusak persaudaraan?
Al-Qur’an melarang beberapa sikap yang dapat merusak persaudaraan, di antaranya: mengolok-olok dan mencela orang lain (QS. Al-Hujurat: 11), berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan, dan menggunjing (QS. Al-Hujurat: 12), serta bercerai-berai dan berpecah belah (QS. Ali Imran: 103).
4. Bagaimana cara menjaga persaudaraan sesama muslim menurut Al-Qur’an?
Al-Qur’an mengajarkan beberapa cara menjaga persaudaraan: mendamaikan jika terjadi pertikaian (QS. Al-Hujurat: 10), saling tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa (QS. Al-Maidah: 2), menjaga lisan dari perkataan buruk (QS. Al-Isra’: 53), serta menjauhi prasangka buruk dan ghibah (QS. Al-Hujurat: 12).
5. Apa hikmah menjaga persaudaraan sesama muslim?
Hikmah menjaga persaudaraan di antaranya: merasakan manisnya iman, mendapatkan naungan cinta Allah di akhirat, memperoleh kedudukan mulia yang dicemburui para syuhada, diampuni dosanya oleh Allah, dan senantiasa ditolong oleh Allah. Selain itu, persaudaraan yang kuat akan menciptakan kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan mengurangi kesenjangan sosial.