TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sampah kiriman mulai terlihat di pesisir Denpasar.
Salah satunya berada di kawasan Pantai Padanggalak Denpasar pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Fenomena ini telah terjadi sejak Juli 2026, di mana material sampah yang terbawa arus laut mulai terdampar, meski intensitasnya belum terjadi setiap hari.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar, I Dewa Gede Oka Adhi Saputra, mengatakan kemunculan sampah kiriman saat ini masih bersifat fluktuatif.
Baca juga: Nekat Bakar Sampah Dekat Tangki Pertamini, 2 Pemuda di Renon Ikut Tersambar Api, Motor Hangus
Sampah dapat datang sewaktu-waktu, kemudian kembali hilang terbawa ombak.
"Mulai muncul sejak pertengahan Juli. Namun tidak setiap hari. Kadang datang, kadang menghilang terbawa ombak karena dipengaruhi kondisi cuaca dan arah angin," katanya.
Adapun sampah yang paling banyak ditemukan bukan berupa sampah plastik, melainkan pecahan kayu dan material alami lainnya yang hanyut ke pesisir.
Meski demikian, petugas tetap melakukan pembersihan setiap kali terjadi penumpukan.
Baca juga: DLHK Badung dan Laksana Becik Jalankan Yadnya Resik Dalam Kelola Sampah Sisa Upakara
Untuk volume sampah kiriman sempat mencapai sekitar empat ton dalam sehari, tepatnya pada Jumat pekan lalu.
Penumpukan terbesar terjadi di kawasan Pantai Padanggalak.
"Kalau harian jumlahnya sedikit. Yang lebih banyak justru pecahan-pecahan kayu. Kemarin sempat kami perkirakan sekitar empat ton," paparnya.
Sementara itu, untuk kawasan pesisir Sanur hingga Pantai Biaung, kondisi masih relatif terkendali.
Sampah kiriman memang sempat muncul di Pantai Biaung selama dua hari, namun langsung ditangani oleh petugas sehingga tidak berlangsung lama.
Pihaknya menambahkan, berdasarkan pola yang selama ini terjadi, musim sampah kiriman umumnya berlangsung pada pertengahan September hingga Desember.
Namun tahun ini kemunculannya terpantau lebih awal, meski dengan intensitas yang belum stabil. (*)