Trump Murka, Perusahaan Minyak Raksasa Dituding Raup Cuan Besar dari Krisis Perang Iran
Faisal Zamzami August 04, 2026 09:39 PM

 


SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap perusahaan-perusahaan minyak besar yang dinilai memperoleh keuntungan berlebihan akibat lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Trump menilai keuntungan besar yang dikantongi perusahaan migas tidak sebanding dengan kondisi masyarakat yang harus menghadapi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Ia mendesak para produsen dan pengecer energi agar mengembalikan sebagian keuntungan tersebut kepada publik melalui penurunan harga BBM di tingkat konsumen.

“Mereka menghasilkan terlalu banyak uang berdasarkan kelangkaan. Saya tidak menyukainya,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin malam (3/7/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Trump setelah sejumlah perusahaan energi besar Amerika Serikat melaporkan lonjakan laba pada kuartal kedua tahun 2026.

Dua perusahaan migas terbesar AS, ExxonMobil dan Chevron, menjadi sorotan karena membukukan keuntungan yang sangat besar selama periode ketika pasar energi global mengalami gejolak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

“Chevron menghasilkan terlalu banyak uang. ExxonMobil menghasilkan terlalu banyak uang,” kata Trump.

Ia menegaskan perusahaan-perusahaan tersebut harus mengambil langkah untuk membantu masyarakat yang terdampak kenaikan harga energi.

“Mereka harus mengembalikan sebagian uang itu kepada publik dan mereka sebaiknya menurunkan harga eceran, harga yang dibayar konsumen,” lanjutnya.

Baca juga: Trump Beri Ultimatum Iran: Pilih Damai atau Hadapi Penyerahan Total

Harga Minyak Melonjak Akibat Konflik Iran

Ketegangan militer di Timur Tengah menyebabkan pasar energi global mengalami tekanan besar. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya berada di kisaran 70 dolar AS per barel sebelum serangan awal AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari, melonjak hingga sekitar 126 dolar AS per barel pada akhir April.

Meski harga minyak kemudian turun ke kisaran 85 dolar AS per barel, Trump menilai penurunan tersebut belum tercermin secara signifikan pada harga BBM yang dibayar masyarakat di pompa bensin.

Menurut data kelompok otomotif AAA, rata-rata harga bensin di Amerika Serikat masih berada di sekitar 4,11 dolar AS per galon.

Trump berpendapat harga bensin seharusnya turun lebih jauh, terutama setelah harga minyak mentah mulai terkoreksi.

“Minyak sudah turun begitu banyak, tetapi kita tidak melihat penurunan yang seharusnya terjadi di SPBU,” ujar Trump di Oval Office.

Ia bahkan menyebut harga bensin idealnya dapat kembali turun hingga sekitar 2,25 dolar AS per galon.

Baca juga: Iran Klaim Tembak Jatuh Drone MQ-9 Reaper AS di Selat Hormuz, Trump Beri Peringatan Terakhir

Laba ExxonMobil dan Chevron Tembus Puluhan Miliar Dolar

Lonjakan harga energi memberikan keuntungan besar bagi perusahaan minyak raksasa dunia.

Chevron mencatat laba kuartalan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan dengan nilai sekitar 12,2 miliar dolar AS. Angka tersebut meningkat sekitar lima kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, ExxonMobil membukukan laba sekitar 14,5 miliar dolar AS pada kuartal kedua. Angka tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi salah satu kinerja kuartalan terbaik perusahaan sejak lonjakan harga energi akibat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Secara total, keuntungan gabungan ExxonMobil dan Chevron pada kuartal kedua melampaui 26 miliar dolar AS.

Tak lama setelah laporan kedua perusahaan tersebut dirilis, perusahaan energi asal Inggris, BP, juga melaporkan peningkatan laba kuartalan menjadi sekitar 5,7 miliar dolar AS, atau hampir dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.

Baca juga: VIDEO - Trump Tunda Serangan, Iran Klaim Tembak Jatuh Drone MQ-9 Reaper AS di Selat Hormuz

Trump Tekan Industri Migas Jelang Pemilu

Kritik Trump terhadap industri minyak muncul beberapa minggu sebelum pemilu sela Amerika Serikat pada November mendatang.

Saat tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahannya menghadapi tekanan, isu harga BBM menjadi salah satu persoalan ekonomi yang sangat sensitif bagi pemilih Amerika.

Trump sebelumnya juga telah memperingatkan perusahaan pengecer BBM melalui platform Truth Social agar segera menurunkan harga.

“Pengecer bensin harus segera menurunkan harga mereka,” tulis Trump.

Ia memperingatkan bahwa jika perusahaan tidak mengambil tindakan, pemerintah akan mempertimbangkan langkah lebih lanjut.

Trump juga memerintahkan Departemen Kehakiman AS untuk menyelidiki kemungkinan adanya praktik permainan harga atau manipulasi harga di sektor energi ritel.

Meski demikian, pemerintah AS menyatakan belum memiliki rencana untuk melarang ekspor minyak maupun produk olahan minyak. Namun, sejumlah analis menilai kebijakan tersebut dapat kembali menjadi opsi apabila harga BBM terus meningkat.

Industri Migas Bantah Mengendalikan Harga

Perusahaan minyak menolak anggapan bahwa mereka secara langsung menentukan harga BBM di tingkat konsumen.

Chief Executive Officer BP Meg O’Neill mengatakan perusahaan memahami tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, tetapi menegaskan bahwa harga energi sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar global.

“Realitasnya, kami memproduksi komoditas global, dan produk yang kami jual sangat bergantung pada harga komoditas global tersebut,” kata O’Neill kepada CNBC.

Menurut industri migas, harga BBM tidak hanya ditentukan oleh harga minyak mentah, tetapi juga dipengaruhi oleh biaya produksi, distribusi, kapasitas penyulingan, pajak, serta kondisi pasar internasional.

Aktivis Lingkungan Kecam Keuntungan Besar Migas

Keuntungan besar perusahaan minyak juga menuai kritik dari kelompok lingkungan.

Clemence Dubois, Direktur Kampanye organisasi lingkungan internasional 350.org, menilai perusahaan energi besar mendapatkan keuntungan dari krisis yang membebani masyarakat.

“Chevron dan Exxon meraup keuntungan dari model yang membiarkan rakyat biasa menanggung dampaknya melalui tagihan energi yang lebih tinggi serta kerusakan lingkungan,” ujar Dubois.

Menurut kelompok lingkungan, tingginya keuntungan perusahaan minyak menunjukkan perlunya reformasi besar terhadap industri energi, termasuk percepatan transisi menuju energi bersih.

Sementara itu, perusahaan minyak berpendapat keuntungan besar diperlukan untuk menjaga investasi, meningkatkan produksi, serta memastikan pasokan energi tetap tersedia ketika pasar global mengalami gangguan.

Perseteruan antara Gedung Putih dan industri migas ini menunjukkan kembali besarnya tekanan politik terhadap sektor energi Amerika Serikat, terutama ketika harga BBM menjadi salah satu isu ekonomi utama menjelang pemilu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.