TRIBUNNEWS.COM - Presiden FIFA Gianni Infantino menghadapi salah satu ujian terbesar selama 16 tahun masa kepemimpinannya.
Di tengah gelombang kritik dan menurunnya dukungan dari berbagai kalangan, Infantino dijadwalkan menggelar rapat darurat bersama jajaran petinggi FIFA di Rabat, Maroko, pada Rabu (5/8/2026).
Pertemuan tersebut digelar setelah tekanan terhadap pria asal Swiss itu meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.
Infantino dikabarkan kehilangan banyak dukungan setelah serangkain kontoversial yang ia buat sendiri pasca Piala Dunia 2026.
Rapat ini bahkan disebut sebagai momen krusial yang dapat menentukan arah kepemimpinan FIFA ke depan, termasuk kemungkinan Infantino memilih bertahan atau mengundurkan diri.
Dilansir Sky Sports, krisis bermula setelah FIFA dipaksa membatalkan rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE).
Ia semacam sebuah perusahaan yang akan mengelola aspek komersial dan operasional turnamen-turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia.
Melalui skema tersebut, FIFA berencana membuka peluang investasi dari pihak swasta dengan melepas sebagian kepemilikan atas bisnis Piala Dunia.
Namun, rencana itu menuai penolakan luas dari berbagai pihak di internal organisasi karena dinilai dapat mengurangi independensi FIFA dalam mengelola kompetisi paling bergengsi di dunia.
Di bawah tekanan yang terus membesar, Infantino akhirnya menarik proposal tersebut sebelum sempat direalisasikan.
Baca juga: Posisi Gianni Infantino Makin Gonjang-ganjing, Bos PSG Didorong Jadi Presiden FIFA Baru
Tidak hanya menghadapi penolakan terhadap proyek FFE, Infantino juga diterpa berbagai persoalan lain yang semakin memperburuk situasi.
Federasi Sepak Bola Yordania secara terbuka menuding FIFA melakukan "pemerasan" dengan mengaitkan bantuan dana Piala Dunia dengan dukungan politik terhadap kepemimpinan Infantino.
Di sisi lain, mantan Presiden FIFA Sepp Blatter secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia, Lise Klaveness, sebagai sosok yang layak menggantikan Infantino.
Deretan peristiwa tersebut membuat posisi Infantino dinilai semakin terjepit menjelang rapat penting di Maroko.
Sorotan juga datang dari Arsene Wenger yang kini menjabat sebagai Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA.
Mantan pelatih Arsenal itu menegaskan dirinya tidak pernah terlibat dalam penyusunan proyek FFE.
Menurut Wenger, keputusan FIFA membatalkan rencana tersebut merupakan langkah yang memang harus diambil.
Ia menegaskan pentingnya menjaga FIFA tetap menjadi organisasi yang independen, transparan, dan berintegritas dalam melayani perkembangan sepak bola dunia.
Pernyataan Wenger menjadi perhatian karena sebelumnya ia sempat dikritik akibat memilih diam ketika polemik FFE mencuat.
Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, yang merupakan pejabat tertinggi kedua setelah Infantino, juga mengirimkan surat elektronik kepada seluruh staf FIFA.
Dalam pesannya, Grafstrom menyebut satu pekan terakhir sebagai rangkaian peristiwa yang "menyedihkan dan patut disesalkan".
Ia mengakui banyak staf FIFA ikut terseret dalam gejolak politik internal yang sulit dipahami, meski mereka baru saja bekerja keras menyukseskan penyelenggaraan Piala Dunia.
Grafstrom memastikan seluruh pegawai akan mendapat perlindungan dari dampak situasi politik yang sedang terjadi.
Ia juga menegaskan bahwa individu maupun dinamika politik dapat berganti, tetapi misi FIFA untuk melayani sepak bola dunia harus tetap berjalan.
Baca juga: Donald Trump Pilih Cuci Tangan soal Polemik FIFA, Infantino Batalkan Jual Saham Piala Dunia
Pertanyaan terbesar kini adalah apakah Gianni Infantino masih mampu mempertahankan jabatannya.
Sejumlah pengamat menilai rapat di Maroko bisa menjadi titik balik bagi masa depan pria berusia 56 tahun tersebut.
Infantino disebut memiliki dua pilihan. Pertama ia dapat memilih mengundurkan diri setelah melihat dukungan yang terus berkurang.
Atau, yang kedua ia tetap bertahan dan berusaha mempertahankan kursi Presiden FIFA dengan mengandalkan dukungan dari sejumlah konfederasi di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia.
Namun, tekanan terhadapnya semakin kuat setelah penasihat senior FIFA, Carlos Cordeiro, lebih dulu mengundurkan diri dan menyebut proyek FFE sebagai "kesepakatan yang buruk bagi sepak bola".
Dengan berbagai tekanan yang datang secara bersamaan, rapat darurat di Maroko diperkirakan menjadi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah kepemimpinan Gianni Infantino.
Hasil pertemuan tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan FIFA sekaligus masa depan orang nomor satu di organisasi sepak bola dunia itu.
(Tribunnews.com/Tio)