Benarkah Kompres Es di Ketiak Bisa Redakan Overthinking? Ini Kata Dosen IPB
GH News August 05, 2026 07:09 AM
Jakarta -

Media sosial ramai membicarakan kompres es sebagai pereda cemas dan overthinking. Caranya, detikers bisa menaruh kompres es di bagian ketiak. Namun, benarkah hal ini terbukti secara medis?

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc menjelaskan sensasi dingin memang dapat memberikan efek menenangkan. Tetapi , trik ini tidak dapat menjadi terapi utama dalam mengatasi gangguan kecemasan.

Kompres Dingin Mampu Menurunkan Respons Tubuh

Kompres dingin dapat membantu menurunkan respons tubuh terhadap stres.Selain itu, sensasi dingin juga dapat mengalihkan perhatian melalui teknik grounding.

Namun, dr Riati mengingatkan bahwa efek ini hanya bersifat sementara. Ia menegaskan belum ada bukti ilmiah yang menyatakan kompres es bisa mengatasi gangguan kecemasan.

"Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang cukup bahwa kompres es di ketiak merupakan terapi untuk mengatasi gangguan kecemasan atau overthinking," jelasnya dalam laman IPB University, dikutip Senin (3/8/2026).

Oleh karena itu, masyarakat perlu berhati-hati apabila menjadikan kompres dingin sebagai solusi utama. Menurut psikiater IPB ini, kecemasan yang berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari memerlukan evaluasi dan penanganan oleh tenaga kesehatan.

Menggunakan Kompres Es Terlalu Lama Dapat Menyebabkan Iritasi

Lebih lanjut, menggunakan kompres es terlalu lama dapat menimbulkan iritasi hingga cedera kulit (cold burn). Oleh karena itu, kompres dingin hanya dapat dimanfaatkan sebagai pertolongan awal untuk menenangkan diri.

"Efektivitas terapi dingin dalam mengatasi kecemasan masih terbatas," ucapnya.

Tips Menjaga Kesehatan Mental

Untuk menjaga kesehatan mental, dr Riati menyarankan masyarakat menerapkan pola hidup sehat seperti rutin berolahraga, tidur yang cukup, mengurangi konsumsi kafein, dan membatasi paparan informasi yang dapat memicu kecemasan.

Apabila kecemasan menetap selama beberapa minggu hingga mengganggu aktivitas, dr Riati menyarankan penanganan profesional.

"Penanganan yang tepat sejak dini akan memberikan hasil yang lebih baik, baik melalui CBT maupun dengan pemberian obat-obatan apabila diperlukan," pesannya.

Nikita Rosa
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.