BANJARMASINPOST.CO.ID - PRESIDEN Prabowo Subianto meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) Bahlil Lahadalia tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi meski harga minyak dunia bergejolak.
"Arahan Bapak Presiden memerintahkan agar menjaga harga BBM subsidi untuk tidak boleh dinaikkan," kata Bahlil usai bertemu Prabowo di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (4/8).
Di sisi lain, Kepala Negara juga meminta Bahlil segera menyesuaikan harga BBM nonsubsidi ketika harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price /ICP) turun.
Diketahui sejauh ini, harga BBM nonsubsidi naik karena harga minyak dunia yang tinggi. Untuk Pertamax salah satunya, harganya menyentuh Rp 15.950 per liter di DKI Jakarta.
"Kalau memang harga ICP dunia turun, kita yang non-subsidinya juga dipertimbangkan untuk disesuaikan dengan harga pasar. Kalau turun, ya turun, jangan dinaikkan," ungkap Bahlil.
Baca juga: Antrean Panjang di SPBU Banjamasin dan Banjar, Pengelola Turunkan Petugas Khusus Atur Kendaraan
Walau pemerintah memastikan tidak ada kenaikan harga, namun sebagaimana pertalite, untuk memperoleh bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Biosolar pun warga harus mengantre.
Berdasarkan pantauan di SPBU Jalan A Yani, Kelurahan Bitahan, Lokpaikat, Tapin, belasan truk masih terparkir di sepanjang ruas jalan dekat SPBU.
Sejumlah sopir memilih menginapkan kendaraannya agar memperoleh antrean lebih awal saat penyaluran Biosolar kembali dibuka pada Rabu (5/8/2026).
Pada saat dipantau, SPBU hanya melayani penjualan BBM non-subsidi jenis Pertamax. Sementara penyaluran Biosolar telah dihentikan setelah stok yang tersedia pada hari itu habis.
Informasi yang dihimpun di lokasi menyebutkan, kuota Biosolar yang disalurkan di SPBU tersebut sebanyak 8.000 liter per hari.
Salah seorang pengecer BBM di dekat SPBU mengatakan pembeli Biosolar di tingkat pengecer relatif sedikit. Menurutnya, harga Biosolar eceran yang mencapai sekitar Rp 15 ribu per liter membuat para sopir angkutan lebih memilih menunggu giliran pengisian di SPBU meski harus mengantre hingga keesokan harinya.
Pantauan hingga sore hari menunjukkan antrean truk masih bertahan di sekitar SPBU. Sebagian kendaraan tetap berada di lokasi sebagai upaya memperoleh nomor antrean lebih awal saat penyaluran Biosolar kembali dilaksanakan pada hari berikutnya.
(banjarmasinpost.co.id/muhtar wahid/kompas)