TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR SELATAN - Hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari megahnya Istana Bogor, nasib pilu harus dijalani warga Kampung Situbeureum, Kelurahan Bojongkerta, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.
Di tengah musim kemarau tahun 2026 ini, pemukiman padat tersebut mendadak didera krisis air bersih setelah sumur-sumur warga kering total.
Pemandangan deretan galon kosong di depan rumah warga kini menjadi potret harian di Kampung Situbeureum.
Untuk sekadar mandi dan mencuci, warga terpaksa harus mengantre air sejak subuh atau sore hari.
Salah seorang warga sekitar, Andres, mengungkapkan bahwa bencana kekeringan ini sudah melanda wilayahnya selama sepekan terakhir.
Pasokan air tanah yang biasa memenuhi kebutuhan harian warga mendadak surut drastis.
"Di sini kekeringan udah satu mingguan lah. Sumur, rata-rata di sini, mata air di sini enggak ada," ujar Andres kepada TribunnewsBogor.com, Selasa (4/8/2026).
Ironisnya, letak kampung yang berada di pinggir Tol Bocimi ini cukup jauh dari aliran sungai besar.
Sungai kecil yang ada di sekitar perbukitan kampung pun sudah tak lagi mengalirkan air.
"Ada sungai kecil, itu juga kering," tambahnya.
Satu-satunya tumpuan warga saat ini hanyalah sebuah sumur bor milik mushola setempat yang pasokan airnya masih bertahan.
Dari tempat itulah warga bergantian mengangkut air menggunakan galon dan ember.
"Ngantri sih, kadang-kadang kalau sore, kadang-kadang subuh," kata Andres.
Senada dengan Andres, Sadiah, warga lainnya, mengaku harus berhemat air dan mengandalkan pasokan dari mushola demi mencuci dan mandi.
Air dari sumur rumahnya kini hanya tersisa sedikit dan tidak cukup untuk kebutuhan harian keluarga.
"Air sumur ada sedikit-sedikit, cuman kan kebutuhannya banyak. Kalau buat cuci mah kan sayang gitu. Jadi paling ngantre ganti-gantian di mushola," tutur Sadiah.
Meski Kota Bogor sempat diguyur hujan deras semalam, Sadiah menyebut hal itu sama sekali belum mampu memulihkan debit air sumur mereka. Durasi hujan yang sangat singkat justru tak berdampak banyak.
"Semalam ada hujan. Tapi belum berpengaruh, malah makin kering sumurnya karena hujannya cuma sekali-kali dan singkat," ungkapnya.
Sadiah merasakan kemarau tahun 2026 ini jauh lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya, di mana sumur warga tak pernah surut separah ini.
Kini, selain mengandalkan sumur mushola, warga juga sangat bergantung pada bantuan pasokan air bersih yang dikirimkan oleh BPBD Kota Bogor.