Tangis Ratusan Buruh Pabrik Garmen usai PHK Massal di Cimahi, Dedi Mulyadi Buka Peluang Kerja Baru
Nathanael MoerRahardian August 05, 2026 09:11 AM

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor garmen Jawa Barat menjadi sorotan setelah video ratusan buruh PT Namnam Cimahi menangis dan saling berpelukan viral di media sosial. 

Menanggapi hal itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai perpindahan pabrik padat karya merupakan hal yang lazim terjadi karena pertimbangan efisiensi biaya produksi. 

Hal ini disampaikan Dedi saat ditemui di Cimahi, Selasa (4/8/2026).

Menurutnya, industri garmen sangat bergantung pada biaya tenaga kerja sehingga perusahaan kerap memindahkan lokasi produksi ke daerah dengan upah yang lebih rendah. 

"Ya gini kan garmen itu selalu problem, kan sektornya biasanya padat karya. Perusahaan-perusahaan padat karya memang secara umum begitu, kalau dia sudah break even point kemudian ada tempat lain yang lebih murah tenaga kerjanya biasanya pindah," ujarnya.

Dedi menjelaskan kondisi tersebut berbeda dengan industri padat modal yang memiliki fasilitas permanen sehingga tidak mudah berpindah lokasi. 

"Jadi kalau yang memang ada industri padat karya sektor garmen ada yang harus hati-hati bahwa dalam siklus sekian puluh tahun dia pasti menutup," ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa industri padat karya seperti garmen memiliki siklus yang pada akhirnya dapat berujung pada penutupan pabrik. 

Saat ini terjadi pergeseran kawasan industri dari Bandung, Purwakarta, dan Bandung Barat menuju daerah seperti Indramayu, Majalengka, dan Garut. 

Perpindahan itu dipicu biaya operasional dan tingkat upah yang dinilai lebih kompetitif. 

Meski demikian, Dedi menegaskan peluang kerja di Jawa Barat masih terbuka seiring berkembangnya sejumlah kawasan industri baru. 

Ia menyebut sektor alas kaki, sepatu, dan garmen masih membutuhkan banyak tenaga kerja. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.