TRIBUNNEWS.COM - Hasil imbang melawan Vietnam menjadi alarm bagi Timnas Indonesia jelang laga penentuan Grup A Piala AFF 2026. Singapura kini tampil dengan organisasi pertahanan yang jauh lebih disiplin dan siap menguji kreativitas skuad Garuda di Stadion Jalan Besar, Jumat (7/8/2026).
Laga tesebut akan menjadi penentu siapa yang lolos ke babak semifinal. Timnas Indonesia butuh kemenangan, sementara Singapura cukup dengan hasil imbang.
Berbicara soal hasil imbang, ketangguhan Singapura membuat Vietnam frustasi karena tidak dapat mencetak satu pun gol ke gawang mereka.
Tim asuhan Kim Sang-sik itu mendominasi penguasaan bola, menciptakan berbagai peluang emas di kotak penalti maupun spekulasi dari luar kotak 16 pass, namun tidak membuahkan hasil sehingga laga berkahir dengan skor 0-0.
Apa yang membuat Singapura berubah begitu drastis? Jawabannya ada pada pendekatan Gavin Lee.
Pelatih Singapura, Gavin Lee memiliki struktur permainan yang jelas. Bukan hanya di level timnas bersama Singapura saat ini, melainkan sudah terlihat sejak menangani Tampines Rovers.
Singapura tidak menekan sepanjang pertandingan. Mereka menunggu momen tertentu, seperti ketika lawan melakukan kontrol bola yang buruk atau mengirim umpan ke area yang mudah ditekan, baru kemudian melakukan pressing secara kolektif.
Jarak antarlini mereka tetap rapat sehingga ruang di area tengah sulit dieksploitasi lawan. Vietnam akhirnya lebih sering dipaksa mengalirkan bola ke sisi lapangan atau melepaskan tembakan dari luar kotak penalti.
Singapura rela memberikan penguasaan bola kepada lawan selama organisasi pertahanan mereka tetap terjaga.
Hal itu tercermin saat melawan Vietnam karena mereka bermain disiplin dan tidak kehilangan organisasi selama 90 menit waktu pertandingan.
Bahkan dalam beberapa kesempatan Singapura hampir mencuri gol lewat skenario serangan balik.
Jika dua laga awal menunjukkan Singapura mulai menemukan ritme, maka duel melawan Vietnam menjadi bukti bahwa struktur permainan Gavin Lee mulai matang.
"Pertandingan ini (lawan Vietnam) menunjukkan tanda-tanda kemajuan," kata Gavin Lee usai melawan Vietnam, dikutip dari VN Express.
"Kami bermain bagus, bertahan dengan gigih, dan menciptakan beberapa peluang berbahaya," sambungnya.
Dalam pertandingan itu, Singapura memulai permainan dengan baik, sebelum diambil alih oleh Vietnam yang intens menekan jelang babak pertama selesai.
Namun setelah jeda turun minum, permainan Singapura lebih cair dan lebih lengkap daripada sebelumnya.
"Secara keseluruhan, kami mampu mengendalikan situasi. Para pemain menunjukkan kekuatan mental yang luar biasa, dan bahkan di tahap akhir pertandingan kami mampu menyesuaikan pendekatan menyerang kami," bebernya.
"Itu mencerminkan ketenangan dan komitmen kami terhadap rencana permainan," jelasnya.
Fenomena ini sebenarnya pernah diungkapkan John Herdman sebelum Timnas Indonesia melawan Timor Leste.
Menurut pelatih Timnas Indonesia tersebut, sebuah tim biasanya baru menunjukkan bentuk permainan terbaiknya setelah menjalani satu atau dua pertandingan dalam turnamen singkat.
Apa yang diperlihatkan Singapura sejauh ini seolah membenarkan teori tersebut. Dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya mereka lebih kuat, dan tidak menutup kemungkinan untuk merepotkan Timnas Indonesia pada laga pamungkas sebagai klimaksnya.
Jika Singapura mampu mempertahankan organisasi pertahanan seperti saat menahan Vietnam, Indonesia berpotensi menghadapi pertandingan paling sulit di fase grup.
Terlebih, hasil imbang saja sudah cukup mengantar Singapura ke semifinal sehingga mereka tidak perlu mengambil risiko bermain terlalu terbuka.
Pelatih muda berusia 35 tahun tersebut mengungkapkan, ketenangan di pinggir lapangan dapat membantunya mengambil keputusan taktis terhadap para pemain dan rencana permainan timnya.
"Tetap tetang memungkinkan saya untuk membaca permainan dengan lebih jelas dan memberikan contoh bagi para pemain," ungkapnya.
Ketenangan sang pelatih mengalir kepada anak asuhnya yang berjuang di lapangan sehingga dapat menghasilkan dampak positif.
Singapura belum pernah mengalahkan Vietnam sejak tahun 1998 (laga final) yang mana mereka keluar sebagai juara.
Sebelum pertandingan kemarin, Singapura hanya sekali terhindari dari kekalahan dalam enam pertemuan sebelumnya melawan Vietnam sejak tahun 2010.
Sementara melawan Timnas secara historis Singapura memang masih unggul dengan lima kemenangan dari 11 pertemuan melawan Indonesia di Piala AFF.
Namun tren dalam beberapa tahun terakhir mulai berubah. Indonesia tak terkalahkan dalam dua pertemuan terakhir di semifinal AFF 2020, sementara kemenangan terakhir Singapura terjadi pada fase grup edisi 2018.
Dengan perkembangan performa kedua tim saat ini, rekor masa lalu memberi sedikit konteks, tetapi tidak lagi menjadi penentu utama kekuatan kedua tim.
Singapura kemungkinan akan bertahan sangat dalam dan memaksa Timnas Indonesia membongkar blok rendah mereka.
ni akan menjadi ujian kesabaran sekaligus kreativitas lini depan skuad John Herdman. Jika Indonesia gagal mencetak gol lebih dulu, laga berpotensi berkembang menjadi pertarungan taktik yang menguras kesabaran hingga menit-menit akhir.
(Tribunnews.com/Sina)