Pemerintah Malaysia memperketat aturan pendakian gunung. Kebijakan itu ditempuh setelah jumlah pendaki yang tersesat terus meningkat.
Lonjakan jumlah pendaki tetapi diiringi dengan semakin banyaknya pendaki tersesat itu muncul disebut berasal dari tren di media sosial yang mendorong orang mendaki gunung tanpa persiapan yang memadai.
Departemen Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Malaysia mencatat ada 52 kasus pendaki hilang sepanjang Januari hingga Mei 2026. Angka itu naik hampir 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pemerintah Malaysia pun menyiapkan sejumlah kebijakan baru. Mulai dari mewajibkan penggunaan pemandu di 189 lokasi pendakian berisiko tinggi, memperketat pemeriksaan sebelum pendakian, hingga melarang aktivitas atau pendakian kilat di sejumlah gunung.
Melansir , Rabu (5/8/2026) Wakil Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia, Syed Ibrahim Syed Noy, mengatakan larangan pendakian kilat sudah mulai diterapkan di banyak kawasan pegunungan yang masuk kategori berisiko tinggi.
Menurut Syed Ibrahim, meningkatnya jumlah pendaki yang mengabaikan persiapan karena terdorong tren media sosial membuat risiko kecelakaan dan pendaki tersesat semakin besar.
"Pemerintah memprioritaskan upaya untuk mengurangi risiko pendaki tersesat dan mencegah kecelakaan, sehingga kebutuhan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) yang memerlukan biaya besar serta banyak personel dapat diminimalkan," kata Syed Ibrahim.
Fenomena tersebut juga menjadi perhatian para pemandu gunung. Anggota asosiasi pemandu gunung kehutanan bersertifikat Malaysia, Norimah Abd Karim, sebelumnya mengungkapkan bahwa banyak pendaki sengaja membawa perlengkapan seminimal mungkin agar terlihat seperti pelari lintas alam profesional saat membuat konten di media sosial.
"Ada pendaki yang lebih fokus membuat konten menarik sehingga rela mengambil risiko dan mengabaikan keselamatan diri mereka sendiri," ujar Norimah.
Belakangan, komunitas kreator konten pendakian atau hike-tok memang mempopulerkan tren compressed hike. Pendaki ditantang menyelesaikan jalur yang biasanya ditempuh selama beberapa hari hanya dalam sehari atau menyelesaikan pendakian naik-turun gunung dalam waktu singkat.
Selain itu, tren bagging peaks atau berburu sebanyak mungkin puncak gunung juga ikut berkembang. Aktivitas tersebut dinilai membuat sebagian pendaki lebih mengejar pencapaian dan konten media sosial daripada mengutamakan keselamatan.
Meski begitu, penerapan aturan baru berbeda di setiap negara bagian. Ada wilayah yang tidak lagi menerima permohonan pendakian kilat, sementara daerah lain menetapkan durasi minimum pendakian selama beberapa hari untuk rute tertentu.
Di Malaysia, pendakian di taman nasional dan kawasan hutan memang mewajibkan izin resmi.
Pemerintah Malaysia juga akan memperketat proses pemeriksaan sebelum pendakian. Pendaki diwajibkan mengisi deklarasi kesehatan, menyerahkan riwayat medis, serta memiliki perlindungan asuransi sebelum diizinkan mendaki.





