Dalam filsafat Sunda kita mengenal panca waluya sebagai kesempurnaan karakter manusia yang meliputi cageur, bageur, bener, pinter, dan sanger.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Dalam filsafat Sunda, kita mengenal istilah panca waluya yang terdiri atas cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.
Terkait hal itu, biasanya kita akan mendapatkan pertanyaan seperti apa yang dimaksud dengan karakter singer dalam panca waluya? Atau apa yang dimaksud dengan karakter cageur dalam panca waluya? Atau apa yang dimaksud dengan karakter bageur dalam panca waluya? Atau apa yang dimaksud dengan karakter bener dalam panca waluya? Atau apa yang dimaksud dengan karakter pinter dalam panca waluya?
Secara garis besar, cageur, bageur, bener, pinter, singer adalah lima nilai utama dalam filosofi Sunda yang menggambarkan kesempurnaan diri manusia lahir batin.
Yang pertama cageur. Cageur artinya sehat, baik fisik maupun mental, sehingga seseorang mampu berfungsi dengan baik dalam kehidupan.
Kedua, bageur. Bageur merujuk pada kebaikan hati, sikap suka menolong, dan perilaku yang tidak merugikan orang lain.
Ketiga, bener adalah kemampuan untuk bersikap jujur, adil, serta memegang prinsip moral dalam setiap tindakan.
Keempat, pinter berarti cerdas, mampu berpikir kritis, dan memiliki wawasan luas untuk menghadapi persoalan hidup.
Kelima, singer yang menggambarkan ketekunan, keseriusan, dan kemampuan bekerja dengan penuh tanggung jawab.
Karena itulah dengan lima prinsip itu, seseorang diharapkan mempunyai karakter baik, memelihara nilai-nilai kearifan lokal serta dapat memiliki berbagai kecakapan hidup yang dibutuhkan untuk tetap bisa bertahan dalam kehidupannya melalui pembelajaran atau pendidikan berbasis kearifan lokal Sunda itu.
Biasanya lima karakter itu saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Kesehatan (cageur) sebagai dasar, kebaikan (bageur) sebagai sikap, kebenaran (bener) sebagai arah, kecerdasan (pinter) sebagai bekal, dan kesungguhan (singer) sebagai tenaga penggerak.
Dan karena itulah, dalam tradisi Sunda, orang akan dianggap punya karakter paripurna jika bisa memujudkan lima elemen itu dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan pendidikan karakter, generasi muda juga diharapkan dapat memilah mana kegiatan-kegiatan yang berguna untuk masa depan dan yang sifatnya hura-hura belaka.
Dan lima hal itu, sebagaimana disebut di awal, dikenal sebagai panca waluya yang secara harafiah berarti “lima kesempuranaan”.
Lalu bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari?
Pendidikan sejak sekolah adalah faktor utamanya. Pembentukan karakter dalam pendidikan akan menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada peserta didik, di mana sekolah tidak hanya menekankan pengembangan kognitif melalui hafalan tetapi juga mengembangkan afeksi (perasaan kasih sayang, kelembutan, dan emosi yang mendalam) berupa cinta kasih, pembiasaan, dan perbuatan yang baik dalam kehidupan sekolah, keluarga, dan masyarakat (sesuai dengan Kurikulum, 2009 dari Pendidikan Dasar dan Menengah).
Pendidikan karakter ini merupakan salah satu ikhtiar dan usaha pemerintah untuk memperbaiki kualitas karakter manusia Indonesia menjelang Indonesia-emas 2045.
Karena itulah tentu perlu adanya perbaikan secara terus menerus dalam pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah dan lembaga pendidikan pada umumnya.