TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, pedagang bendera musiman mulai terlihat di sejumlah ruas jalan di Kabupaten Manokwari.
Salah seorang pedagang, Teddy Eko, kepada TribunPapuaBarat.com, mengatakan bahwa ia mulai berjualan sejak 20 Juli, tepat setelah final Piala Dunia 2026.
“Mulai jualan 20 Juli, setelah final Piala Dunia,” ujarnya, Rabu (5/8/2026).
Teddy menawarkan berbagai ukuran bendera Merah Putih dengan harga bervariasi.
Bendera kecil dijual Rp25 ribu hingga Rp30 ribu, sedangkan ukuran besar dibanderol Rp50 ribu sampai Rp75 ribu.
“Kalau ukuran 90 sentimeter harganya Rp25 ribu, ukuran 1,2 meter Rp39 ribu, ukuran 1,5 meter Rp60 ribu, dan ukuran 1,8 meter Rp75 ribu.
Baca juga: Pedagang Bendera Merah Putih Mulai Ramai di Fakfak Jelang HUT ke-81 RI
Ada juga umbul-umbul kecil Rp30 ribu dan yang besar Rp50 ribu. Untuk bendera kecil harganya Rp5 ribu,” jelasnya.
Meski belum menghitung secara pasti jumlah bendera yang terjual, Teddy mengaku stok dagangannya mulai berkurang.
Namun, penjualan tahun ini masih jauh di bawah harapan.
“Kalau dibandingkan tahun lalu memang berkurang. Biasanya jam seperti ini dagangan sudah banyak yang habis, sekarang masih banyak tersisa,” katanya.
Menurut Teddy, kondisi ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya beli.
“Mungkin karena ekonomi lagi kurang baik, jadi pembeli juga tidak sebanyak dulu,” tambahnya.
Baca juga: Seminggu Lagi 17 Agustus, Pedagang Bendera dan Umbul-umbul di Manokwari Menjerit Sepi Pembeli
Ia menyebut seluruh bendera dan umbul-umbul didatangkan dari Garut, Jawa Barat, yang dikenal sebagai sentra produksi bendera nasional.
Teddy berharap penjualan meningkat menjelang 17 Agustus sehingga seluruh dagangannya dapat habis terjual.
“Kalau penjual musiman tentu harapannya dagangan habis. Mudah-mudahan menjelang Hari Kemerdekaan pembeli semakin ramai,” ucapnya.
Selain itu, jumlah pedagang bendera musiman di Manokwari tahun ini juga menurun.
“Kalau dulu bisa sekitar 24 pedagang yang jualan di kota, sekarang mungkin tinggal sekitar delapan orang saja. Penjual berkurang karena memang pembelinya juga tidak sebanyak dulu,” pungkasnya.