20 Barista Asal Pangkalpinang Disiapkan Kerja ke Arab Saudi, Jalani Pelatihan Empat Bulan Gratis
Ardhina Trisila Sakti August 05, 2026 03:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Sebanyak 20 warga Kota Pangkalpinang akan menjadi angkatan pertama calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dipersiapkan bekerja di Arab Saudi melalui program pelatihan khusus yang difasilitasi Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) bersama Pemerintah Kota Pangkalpinang.

Program tersebut menjadi langkah awal pemerintah dalam mencetak pekerja migran yang memiliki keterampilan sekaligus berangkat secara prosedural dengan perlindungan penuh dari negara.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Pangkalpinang, Amrah Sakti mengatakan, 20 peserta yang akan mengikuti pelatihan merupakan proyek percontohan (role model) dalam penyiapan calon pekerja migran asal Pangkalpinang.

"Seharusnya tanggal 8 Agustus ini pelatihannya sudah dimulai, tetapi kita menunggu penandatanganan nota kesepakatan terlebih dahulu. Program ini menjadi role model penyiapan calon pekerja migran kita," kata Amrah kepada awak media usai penandatanganan kerja sama antara Pemkot Pangkalpinang dan KP2MI, Rabu (5/8/2026).

Ia menjelaskan, peserta akan menjalani pelatihan selama empat bulan dengan sistem in house atau diasramakan.

Selama masa pelatihan, seluruh peserta akan mendapat pembinaan secara menyeluruh, mulai dari keterampilan kerja hingga pembentukan karakter.

Menurut Amrah, calon pekerja migran tidak hanya dibekali kemampuan teknis sebagai barista, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai budaya, kebiasaan, serta etika bekerja di negara tujuan.

"Mereka diasramakan, diawasi, dilatih dan dididik. Tidak hanya keterampilan, tetapi juga memahami budaya dan kebiasaan di negara tujuan. Mereka bekerja membawa nama Indonesia dan juga membawa nama Kota Pangkalpinang," ujarnya.

Amrah mengatakan, peserta dipilih dari lulusan program pelatihan barista yang sebelumnya telah dilaksanakan Dinas Tenaga Kerja.

Dari banyaknya pendaftar, hanya 20 orang yang dipilih untuk mengikuti tahap pertama.

Namun, ia membuka peluang jumlah peserta akan bertambah apabila program perdana tersebut dinilai berhasil.

"Informasi yang kami terima, kalau program ini berjalan baik, kuotanya kemungkinan akan ditambah lagi," katanya.

Seluruh biaya pelatihan selama empat bulan ditanggung pemerintah pusat melalui KP2MI. Peserta tidak dipungut biaya selama mengikuti pendidikan dan pelatihan.

Meski demikian, terdapat beberapa kebutuhan administrasi yang menjadi tanggung jawab masing-masing peserta, seperti pemeriksaan kesehatan dan pengurusan visa apabila diperlukan.

"Selama pelatihan semuanya ditanggung pemerintah pusat. Kemungkinan biaya pribadi hanya untuk keperluan administrasi seperti surat kesehatan atau visa," jelasnya.

Amrah mengungkapkan, pemilihan sektor barista bukan tanpa alasan. Pangkalpinang telah memiliki rekam jejak positif dalam penempatan pekerja migran di bidang tersebut.

Ia menyebut, hingga saat ini sudah ada tiga pekerja migran asal Pangkalpinang yang bekerja sebagai barista di Timur Tengah.

Ketiganya bahkan telah beberapa kali memperpanjang kontrak kerja karena dinilai memiliki kinerja yang baik.

"Sudah ada tiga orang asal Pangkalpinang yang bekerja di sana. Mereka bahkan sudah tiga kali memperpanjang kontrak. Ini menunjukkan bahwa SDM kita diminati. Karena itu, kita ingin menyiapkan lebih banyak tenaga kerja yang kompeten," ujarnya.

Melalui kerja sama antara Pemkot Pangkalpinang dan KP2MI, pemerintah juga memastikan setiap calon pekerja migran mendapatkan perlindungan sejak sebelum berangkat, selama bekerja di luar negeri hingga kembali ke Indonesia.

"Esensi kerja sama ini adalah memberikan jaminan perlindungan, penempatan, serta pelatihan sebelum berangkat saat bekerja hingga setelah kembali. Ini menjadi bukti bahwa negara hadir memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi pekerja migran kita," tutur Amrah.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.