Liputan6.com, Jakarta - Ketua Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) drg Arianti Anaya mengingatkan tenaga medis (named) dan tenaga kesehatan (nakes) untuk tetap menjaga profesionalisme serta menjunjung tinggi etika, termasuk saat berinteraksi di ruang digital.
Pernyataan tersebut disampaikan Arianti usai viralnya komentar nirempati dari sejumlah tenaga kesehatan (nakes) terhadap unggahan pasien BPJS Kesehatan bernama Yurizal di media sosial.
"Sebagai seorang tenaga medis dan tenaga kesehatan, kita telah mengucapkan sumpah profesi yang mengikat secara moral dan etik. Salah satu inti sumpah tersebut adalah menghormati setiap pasien, menjaga rahasia yang dipercayakan kepada kita, serta menjalankan profesi dengan kehormatan, hati nurani, dan martabat yang luhur," kata Arianti dalam pesan tertulis kepada Liputan6.com, Rabu (5/8/2026).
Arianti menuturkan sikap profesional tidak hanya saat memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan, tetapi juga ketika berinteraksi di ruang digital.
"Kepercayaan masyarakat kepada profesi kesehatan dibangun atas dasar profesionalisme, etika, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Setiap tenaga medis dan tenaga kesehatan harus menjaga keprofesionalannya baik di dalam maupun di luar fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk di ruang digital," ujarnya.
KKI Dalami Komentar Nirempati Nakes
Di kesempatan yang sama Arianti mengatakan KKI juga tengah berkoordinasi dengan organisasi profesi untuk menindaklanjuti dugaan masalah etik yang melibatkan sejumlah tenaga kesehatan terkait komentar di unggahan Yurizal.
"Iya kami berkoordinasi dengan organisasi profesi karena (ini menyangkut) masalah etik," kata Arianti.
Ia menambahkan, KKI bersama organisasi profesi saat ini masih mendata terhadap tenaga kesehatan yang diduga memberikan komentar pada unggahan tersebut.
"Kami lagi melakukan list," katanya.
Soal kemungkinan sanksi, Arianti mengatakan KKI masih menunggu hasil investigasi yang sedang berlangsung. "Soal sanksi masih didiskusikan setelah investigasi selesai," katanya.
Sebelumya media sosial ramai soal kabar meninggalnya Yurizal, seorang pasien BPJS. Yurizal pernah mengeluhkan pengalamannya yang tak kunjung mendapat ruangan di rumah sakit sebelum akhirnya dikabarkan meninggal dunia.
Pengalaman menunggu 8 jam di rumah sakit sebagai pasien BPJS Kesehatan diutarakan almarhum Yurizal di media social. Bukan mendapat simpati, unggahan itu malah diserbu komentar bernada sinis, yang belakangan malah diketahui berasal dari para tenaga kesehatan (nakes) di rumah sakit.
"Delapan jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs," tulis Yurizal dalam unggahannya kala itu.
"PP nya kayak orang Have tapi aslinya Haven’t kah? haven’t some brain cells," timpal akun @erudarahaadini, yang diduga kuat seorang nakes.
"Kalo full, mau dipindahkan kemana? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak BPJS yang make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri. Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong. Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha bantuin, masyarakatnya malah gini," tulis akun @bennychrstn.
Setelah ditelusuri warganet, pemilik akun @bennychrstn diduga merupakan alumni Fakultas Kedokteran UI.
Sementara akun @1amdika menuliskan komentar yang menyebut pasien akan lebih cepat mendapatkan penanganan apabila mengalami serangan jantung sehingga langsung ditangani di instalasi gawat darurat (IGD).
Komentar lain yang juga menuai kritik berasal dari akun @nandafadyla_ yang menuliskan kalimat singkat, "Bacot nih pasien."
Usai komentar-komentar nirempati itu viral, Yurizal dikabarkan meninggal dunia. Kabar lelayu soal meninggalnya Yurizal sendiri diumumkan sepupunya, Hilda Aprianti, dalam sebuah unggahan pada Sabtu, 1 Agustus 2026 lalu. Hilda menyebutkan, Yurizal meninggal dunia pada 31 Juli.
"Selamat jalan ya, Wi. Semoga husnul khotimah. Semoga diberikan tempat terbaik di sisi Allah," tulis Hilda.