Hasil Kreasi Masyarakat, BBM Setara Dexlite di Kendal tak Bisa Dijual
khoirul muzaki August 05, 2026 02:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, KENDAL - Kepala Desa Margorejo Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal, Suyoto terpaksa menunda penjualan produksi BBM alternatif berjenis Petasol yang dikembangkan Pemdes setempat.


Inovasi pengolahan sampah plastik menjadi BBM setara Dexlite itu, hingga kini masih terganjal regulasi penjualan. 


Alhasil, deretan jerigen berisi Petasol tersebut masih tersimpan rapi di lokasi produksi yakni di TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) Desa Margorejo.


Suyoto mengatakan, pihaknya tak berani melakukan penjualan secara massal selama belum ada payung hukum yang menaungi. Dia khawatir, jika memaksakan penjualan akan menimbulkan masalah di kemudian hari.


"Karena ini kan penjualan BBM ya, jadi harus ada regulasi, ada payung hukumnya dulu. Kita tidak mau ambil risiko melangkah jauh malah bermasalah nantinya," katanya ditemui, Rabu (5/8/2026).


Suyoto menambahkan, selama ini Pemdes Margorejo hanya melayani penjualan yang sifatnya permintaan dengan harga Rp10 ribu. Permintaan itu, biasanya datang dari berbagai instansi yang digunakan untuk keperluan penelitian.

Baca juga: Pasutri di Kebumen Olah Pelepah Pisang dan Eceng Gondok Jadi Produk Ekspor


Jika tidak ada permintaan, Suyoto memanfaatkan Petasol tersebut sebagai bahan bakar mesin pirolisis yang digunakan untuk memproduksi Petasol.


"Permintaan ada, tapi kami sekali lagi belum berani menjual, sifatnya permintaan. Ini juga bisa dipakai buat mesin pirolisis, atau kalau ada traktor sawah juga bisa pakai," sambungnya.


Dia menerangkan, dalam sehari, 1 mesin pirolisis multikondensor Gen 5.0 (Faspol 5.0) itu mampu menghasilkan 30 liter Petasol dari 50 kilogram sampah plastik yang didapat hasil pengumpulan warganya.


Seminggu sekali, warga menyetor sampah yang telah dipilah lalu dibawa TPS 3R yang berada di ujung Desa Margorejo.


Setelah terkumpul, sampah lalu dibakar di mesin pirolisis yang dibakar dengan suhu 200 derajat Celcius. 


Untuk menghemat biaya, pembakaran dilakukan menggunakan kayu bakar. Meski begitu, Suyoto menegaskan proses pengolahan pirolisis tak sesederhana yang dibayangkan.


Dibutuhkan 4 kali penyaringan agar warna Petasol menjadi jernih dan siap digunakan sebagai BBM alternatif setara Dexlite.


"Kita ada 1 mesin, tetapi memang prosesnya itu berjenjang, pagi sampai sore masak, terus nanti disaring sampai 4 kali biar benar-benar jernih," paparnya.


Suyoto berharap, Pemkab Kendal bisa segera menekan regulasi Perbup untuk penjualan BBM Petasol dalam jumlah besar. Menurutnya, langkah ini penting dilakukan karena keberadaan sampah plastik cukup merepotkan jika tidak dikelola dengan baik.


"Kami tentunya berharap segera ada Perbupnya, dari kami juga sudah matur ke Ibu Bupati dan dari beliau merespons positif. Tentunya kami sangat mendukung," tuturnya.


Adapun Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari mengatakan pihaknya sudah melakukan monitoring ke TPS 3R di Desa Margorejo. Dia menegaskan, Pemkab Kendal akan segera menindaklanjuti dan merumuskan Perbup untuk mengatur regulasi tersebut.


"Ternyata masih ada persoalan terutama terkait penjualan yang belum bisa sepenuhnya dilakukan karena kendala regulasi. Setelah ini kami segera susun Perbup secepatnya," tegasnya.


Bupati yang akrab disapa Tika melanjutkan, dalam Perbup itu nantinya juga akan menetapkan harga jual Petasol sesuai ketentuan. 


"Saat ini dari pihak desa kesulitan terkait biaya operasional sehingga butuh perhatian bersama. Kalau Perbup sudah disusun nanti akan diatur harga dan peruntukannya," sambungnya.


Tika menerangkan, berdasarkan hasil uji laboratorium yang telah dilakukan, Petasol yang diproduksi di TPS 3R Desa Margorejo setara dengan Dexlite yang dijual seharga Rp 23 ribu.


Dia berharap, inovasi Pemdes Margorejo tersebut bisa ditiru Pemdes lain untuk membantu mengurangi timbulan sampah di TPA Darupono Kendal yang sudah overload.


"Kita segera siapkan regulasi secepatnya," tandasnya. (ags)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.