Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Para pengojek pendakian Gunung Rinjani di kawasan Sembalun, Lombok TImur mengeluhkan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Seorang ojek pendaki Gunung Rinjani Hakimin, menyampaikan bahwa tarif ojek sudah tidak mungkin dinaikkan karena telah mentok di angka Rp200.000 per perjalanan.
"Dengan harga yang sekarang, mau naikin budget sama pendaki sudah tidak bisa, karena mentok di 200 itu. Dengan kondisi BBM yang sekarang sudah naik, ya keluhannya itu dihargai," kata Hakimin saat ditemui pada Rabu (5/8/2026).
Menurut Hakimin, harga BBM di Sembalun tergolong mahal dan sulit dijangkau. Para pengojek terpaksa membeli Pertamax karena keterbatasan akses meskipun harus dengan dibeli dengan harga yang lebih mahal.
Ia menyebutkan, kenaikan harga BBM membuat biaya operasional ikut naik, tetapi ojek tidak bisa menyesuaikan tarif.
Baca juga: Kelangkaan BBM di Lombok: Antrean di Berbagai Daerah, Pertamina Kirim Pasokan Tambahan
"Kalau BBM naik, semuanya naik. Tapi kalau di ojek, kita naikin sudah susah. Dengan harga BBM yang naik, kalau kita naikin budget, enggak bisa. Pasti nanti kalau dinaikkan, hilang penumpang,” keluhnya.
Hakimin mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 42 ojek yang beroperasi di jalur pendakian Rinjani.
Konsumsi BBM untuk satu kali perjalanan mencapai 1 liter, sedangkan jika membawa barang lebih banyak dapat menghabiskan 1,5 liter.
Selain itu, medan yang berat menyebabkan motor harus sering diservis, rata-rata satu kali dalam seminggu.
"Servis motor itu setiap hari, kalau ojek-ojek itu tiga hari. Tapi rata-rata satu kali seminggu lah," jelasnya.
Ia berharap SPBU dapat dibangun di Sembalun untuk meringankan beban masyarakat, terutama para pelaku usaha ojek.
"Kalau ada SPBU di sini, mungkin bisa membantu sebagian masyarakat. Mungkin untuk usaha-usaha kerja itu, ya nanti pemerintah lah," harap Hakimin.
Keluhan serupa juga dirasakan para sopir dan pelaku usaha lain di kawasan tersebut.
Namun, bagi pengojek pendaki, kenaikan BBM menjadi persoalan berat karena mereka tidak bisa menaikkan tarif tanpa risiko kehilangan pelanggan.
"BBM naik itu semuanya sudah naik. Mungkin kalau usaha yang lain, BBM naik, mungkin bisa naik. Kalau ojek sama sopir, kalau kita naikkan, masyarakat yang ngeluh," pungkasnya.
(*)