TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Kota Tarakan, Kalimantan Utara kembali mengalami deflasi pada Juli 2026 setelah selama dua bulan sebelumnya, yakni Mei dan Juni, mencatatkan inflasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan mencatat deflasi bulanan atau month to month (m-to-m) sebesar 0,57 persen, dengan penurunan harga cabai rawit menjadi penyumbang terbesar.
Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan harga sejumlah komoditas pangan mengalami penurunan cukup signifikan sepanjang Juli.
Meski demikian, secara tahunan laju inflasi Kota Tarakan masih berada pada kisaran yang terkendali.
"Pada Juli 2026, Kota Tarakan kembali mencatatkan deflasi setelah pada Mei dan Juni 2026 mengalami inflasi. Deflasi month to month tercatat sebesar 0,57 persen, di mana cabai rawit menjadi komoditas yang paling dominan memberikan andil deflasi bersama emas perhiasan dan tomat," ujar Umar Riyadi, Rabu (5/8/2026).
Baca juga: Inflasi Tarakan Januari-Juni 2026 Capai 1,87 Persen, BPS: Penurunan Harga Emas Beri Andil Deflasi
Ia menjelaskan, dengan capaian tersebut inflasi kalender (year to date) Tarakan hingga Juli 2026 berada di angka 1,29 persen. Sementara inflasi tahunan (year on year) tercatat sebesar 2,60 persen.
Menurut Umar, angka tersebut memberikan gambaran bahwa pengendalian inflasi di Tarakan masih berada dalam jalur yang sesuai target nasional.
Ia bahkan memperkirakan apabila pola inflasi pada sisa bulan tahun ini sama seperti yang terjadi pada 2025, maka inflasi Kota Tarakan hingga akhir 2026 diperkirakan berada di kisaran 2,6 persen atau mendekati target nasional sebesar 2,5 persen.
"Dengan kondisi tersebut, inflasi year to date sebesar 1,29 persen dan inflasi year on year sebesar 2,60 persen," ujarnya.
Juga mengacu pada besaran inflasi tahunan, jika pola inflasi pada sisa bulan tahun 2026 sama seperti tahun 2025, maka inflasi Kota Tarakan sepanjang tahun diperkirakan mencapai 2,6 persen atau mendekati target 2,5 persen.
Dalam pemaparannya, Umar menyebut terdapat sejumlah kelompok pengeluaran yang masih memberikan tekanan inflasi pada Juli 2026.
Kelompok Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga, Kelompok Kesehatan, serta Kelompok Pendidikan masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,01 persen.
Namun, besarnya penurunan harga pada kelompok makanan membuat Tarakan tetap mencatatkan deflasi secara keseluruhan.
"Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok yang paling dominan memberikan andil deflasi month to month sebesar 0,51 persen. Selanjutnya diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,08 persen serta kelompok transportasi sebesar 0,01 persen," katanya.
Umar menjelaskan, terdapat sejumlah komoditas yang masih mengalami kenaikan harga sehingga menahan laju deflasi pada Juli 2026.
Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi terbesar yakni beras dengan andil 0,0354 persen, disusul bensin 0,0304 persen, sigaret putih mesin 0,0178 persen, sepeda motor 0,0117 persen dan biaya sekolah dasar sebesar 0,0089 persen.
Selain itu, kentang, minyak goreng, kangkung, ikan kembung dan karpet juga tercatat memberi kontribusi terhadap inflasi bulanan di Tarakan.
"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi antara lain beras, bensin, sigaret putih mesin, sepeda motor, biaya sekolah dasar, kentang, minyak goreng, kangkung, ikan kembung hingga karpet," ungkapnya.
Di sisi lain, penurunan harga cabai rawit menjadi faktor paling besar yang mendorong deflasi di Tarakan sepanjang Juli 2026.
Cabai rawit tercatat memberikan andil deflasi sebesar minus 0,2536 persen, jauh lebih besar dibandingkan komoditas lainnya.
Setelah cabai rawit, penurunan harga juga terjadi pada emas perhiasan, tomat, bawang merah, sawi hijau, telur ayam ras, angkutan udara, angkutan laut, daging ayam ras hingga terong.
"Sepuluh komoditas yang dominan memberikan andil deflasi dipimpin cabai rawit, kemudian emas perhiasan, tomat, bawang merah, sawi hijau, telur ayam ras, angkutan udara, angkutan laut, daging ayam ras dan terong," kata Umar.
Secara perbandingan, capaian inflasi Kota Tarakan masih berada di atas rata-rata Provinsi Kalimantan Utara yang pada Juli 2026 mencatat deflasi bulanan sebesar 0,68 persen dengan inflasi tahunan 2 persen.
"Sementara secara nasional, Indonesia juga mengalami deflasi bulanan sebesar 0,14 persen dengan inflasi tahunan 2,88 persen," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah