Hadiri Sarasehan Konsolidasi APTISI di UMI, Prof Djatmiko Dorong Percepatan Sertifikasi Dosen
Ari Maryadi August 05, 2026 10:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sejumlah pimpinan perguruan tinggi swasta se-Sulawesi Selatan, mengikuti Sarasehan Konsolidasi APTISI Wilayah IX-A di Auditorium Al Jibra, Universitas Muslim Indonesia (UMI), Jl Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, Rabu (5/8/2026).

APTISI atau Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta adalah organisasi profesi yang mewadahi seluruh kampus swasta. 

Di Sulsel, UMI satu-satunya perguruan tinggi swasta dengan akreditasi unggul didapuk menggelar agenda ini menjelang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APTISI pada akhir Agustus 2026 nanti.

Hadir Ketua APTISI Prof Budi Djatmiko, Ketua LLDIKTI Wilayah IX Sultanbatara Dr Andi Lukman, Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof Mansyur Ramli, Ketua Yayasan Wakaf UMI, Prof Masrurah Mokhtar, dan pejabat UMI lainnya.

Rektor UMI, Prof Hambali Thalib menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan pengurus pusat APTISI kepada UMI untuk menggelar sarasehan tersebut.

"Saya juga ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada panitia yang kerjanya luar biasa begitu cepat," kata Prof Hambali dalam sambutannya.

"Ternyata, apa yang kita saksikan secara bersama pada hari ini, alhamdulillah, mudah-mudahan berjalan lancar dan sesuai dengan amanah yang kita harapkan bersama," tambahnya.

Di tengah kemajuan teknologi pendidikan, Prof Hambali percaya APTISI mampu menjadi wadah strategis bagi perguruan tinggi swasta untuk terus beradaptasi pada setiap era.

Ia pun berharap APTISI dapat konsisten mengambil peran strategis dalam mengawal kemajuan pendidikan tinggi.

Olehnya itu, Guru Besar Hukum Pidana UMI ini, berharap agar sarasehan yang digelar dapat berjalan lancar.

"Ternyata, apa yang kita saksikan secara bersama pada hari ini, alhamdulillah, mudah-mudahan berjalan lancar dan sesuai dengan amanah yang kita harapkan bersama," imbuhnya.

Melalui sarasehan ini, Prof Hambali mengajak pimpinan perguruan tinggi swasta yang hadir untuk ikut berbagi informasi dan merancang program keberlanjutan untuk APTISI.

Di bawah nahkoda Prof Budi Djatmiko, ia menegaskan program yang akan dilaksanakan relevan dengan kondisi akademik saat ini. 

"Tantangan ke depan bagi APTISI tentu mengalami dinamika pada setiap eranya sesuai dengan tuntutan zaman," ucapnya.

Apalagi di masa berakhirnya pengurus APTISI Wilayah IX-A Sulawesi Selatan, dia berharap sarasehan ini menjadi momentum untuk merembuk program ke depan.

"Tentu kita berharap momen ini paling tidak akan menjadi ruang dan kesempatan bagi seluruh pengurus APTISI Wilayah IX dan seluruh pimpinan perguruan tinggi untuk mendapatkan informasi secara langsung dari Bapak Ketua Pengurus Pusat APTISI, Prof Budi Djatmiko," harapnya.

Hal senada diungkapkan Ketua Yayasan Wakaf UMI Prof Masrurah Mokhtar, yang turut memberikan sambutan dalam acara itu.

Menurut Prof Masrurah Mokhtar, APTISI adalah rumah besar perguruan tinggi swasta di Sulawesi Selatan yang memiliki peran strategis dalam mengawal mutu, kebijakan, dan kemajuan perguruan tinggi swasta.

​"Hari ini kami bersyukur karena diberi kepercayaan dan amanah untuk melaksanakan sarasehan ini, yang sebenarnya terus terang telah lama sekali kami nanti-nantikan," kata Prof Masrurah Mokhtar.

​Penunjukan UMI untuk melaksanakan sarasehan dalam rangka Karateker ini kata dia, adalah bentuk kepercayaan sekaligus tantangan dalam menjaga marwah organisasi, merapatkan barisan PTS, dan menyiapkan estafet kepemimpinan yang lebih baik ke depan.

​"Saya yakin, dengan pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh orang-orang yang akan menggantikan estafet kepemimpinan APTISI ke depan, APTISI akan menjadi semakin solid, semakin didengar suaranya, dan semakin berkontribusi untuk pendidikan tinggi di Sulawesi Selatan," sebutnya.

Sementara itu, Ketua APTISI, Prof Dr H M Budi Djatmiko, menyatakan bahwa terdapat program yang akan diusung melalui Rakornas nanti.

Menurutnya, sarasehan ini menjadi momen yang tepat untuk memberikan gambaran program, seperti standarisasi pemimpin perguruan tinggi swasta.

"Insya Allah kita akan melaksanakan standarisasi untuk seluruh pimpinan perguruan tinggi di Indonesia, baik dari tingkat Rektorat, Dekanat, hingga Ketua Program Studi (Kaprodi)," jelasnya.

Pada kesempatan itu, Prof Budi juga menekankan pentingnya mempercepat sertifikasi dosen.

Sebab seluruh program itu kata dia akan dibiayai oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

"Hal ini penting karena saat ini sekitar 70 persen dosen kita belum tersertifikasi. Insyaallah, APTISI yang akan menjalankan sertifikasinya," imbuhnya.

Terakhir, dia juga telah menunjuk Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI Prof Mansyur Ramli sebagai satu dari 30 mentor untuk para rektor perguruan tinggi swasta.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.