BREAKING NEWS - Jenazah Pendaki Surabaya yang Meninggal di Gunung Piramid Tiba, Duka Keluarga Pecah
Mujib Anwar August 06, 2026 08:22 AM

 

Laporan Wartawan Tribun Madura Network, Luhur Pambudi

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Duka mendalam tampak di kawasan Jalan Cipunegara, RT 14, RW 06, Darmo, Wonokromo, Kota Surabaya, pada pukul 01.15 WIB, Kamis (6/8/2026) dini hari. 

Ini setelah jenazah Maliya Finda (51) pendaki yang meninggal dunia di Gunung Piramid, Kelurahan/Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, tiba di rumah. 

Pantauan Tribun Madura Network, mobil ambulans berpelat Dinas Polisi RS Bhayangkara Bondowoso tiba di teras depan rumah duka dikawal mobil sedan patroli Satlantas Polres Bondowoso. 

Mobil berhenti sejenak lalu mundur memasuki area teras depan rumah nenek satu cucu tersebut yang sudah dipenuhi puluhan orang sanak famili korban. 

Peti jenazah lalu dikeluarkan  belasan orang kerabat untuk disemayamkan di area parkir tepat di sisi timur bangunan rumah utama. 

Sanak keluarga mulai berdatangan ke rumah duka dan menunggu kedatangan jenazah korban sejak pertama kali korban ditemukan keberadaannya oleh Tim SAR gabungan, pada Selasa (4/8/2026) . 

Di jalanan kedua sisi jalanan sekitar rumah korban, sudah penuh puluhan papan ucapan bela sungkawa dari para teman dan kolega. 

Tampak di area jalanan menuju pintu gerbang teras rumah korban, terpasang tenda dengan lampu penerangannya. 

Lalu, di area seberang tenda tersebut terdapat belasan orang tetangga sekitar rumah tampak ada yang berdiri dan duduk bersila menunggu jenazah korban. 

Tetangga depan rumah korban Anton Kurniawan salah satunya.

Ia memang menyempatkan diri untuk memantau kedatangan jenazah korban sejak beberapa hari lalu. 

Seraya menggelengkan kepala, dirinya tak menyangka jika Hajah Finda sapaan akrab korban, dikabarkan hilang dalam proses pendakian dan ditemukan meninggal dunia. 

Padahal, pada Jumat (31/7/2026) pagi, Maliya Finda sempat menyapa para tetangga yang nongkrong di warung sebelah kiri rumahnya saat bepergian menumpang pemotor ojek online (Ojol). 

"Terakhir melihat warga-warga sini itu hari Jumat pagi itu beliau berangkat naik ojek bawa tas karir itu aja lalu menyapa kami; bu monggo monggo pak. Kalau ke mana-mananya kami nggak tahu," ujarnya, saat ditemui di depan rumah duka, Kamis (6/8/2026).

Tetangga korban lain Heri mengaku kaget mendengar kabar Hajjah Finda meninggal dunia saat mendaki gunung. Karena, sosok korban dikenal sebagai warga yang ramah, baik hati dan dermawan. 

Diingatnya, momen korban pernah bertakziah mendatangi rumahnya karena kakak kandungnya meninggal dunia beberapa tahun lalu. Lalu, Hajjah Finda memberikan santunan kepada keluarga sang kakak. 

"Informasi ramai hari selasa. Langsung kedengeran kejadian itu. Antara senin atau selasa. Namanya suda takdir. Beliau baik sama warga. Saat kakak saya meninggal dunia. Beliau datang ke rumah kasih amplop ke kami," jelasnya di lokasi. 

Iformasi dari perwakilan  keluarga korban. Rencananya, jenazah akan disemayamkan sejenak di rumah duka Surabaya, lalu sekitar pukul 06.00 WIB, akan diberangkatkan ke rumah keluarga besar di Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan untuk dimakamkan di permakaman umum setempat

"Nanti pagi langsung dibawa ke Lamongan. Beliau anak kedua dari lima bersaudara. Keluarga besar ada di sana semua, rencananya dimakamkan di sana," tegasnya. 

Salah satu keponakan korban, Riris mengungkapkan, rencananya jenazah sang tante akan disemayamkan di rumah duka Surabaya sebelum dimakamkan di komplek makam umum Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan, Jatim, keesokan hari. 

"Soal firasat, kami enggak ada cerita. Jenazah dibawa ke sini untuk disucikan dimandikan disalatkan, tapi rencana dimakamkan di Babat Lamongan. Beliau putrinya 1 orang. Iya sudah punya cucu 2 minggu lalu baru lahiran anaknya," ujarnya, ditemui di teras rumah duka, pada Selasa (4/8/2026) sore. 

Sekadar diketahui, sempat dilaporkan hilang komunikasi sejak Minggu (2/8/2026), Maliya Finda beserta pemandu lokal (guide) Irfan Nasrul Laili (35) warga Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari, Bondowoso, ditemukan Tim SAR gabungan dalam keadaan meninggal dunia, Selasa (4/8/2026). 

Hasil observasi Tim SAR gabungan, kedua jenazah berada di lereng jalur pendakian ekstrem berbentuk punggung bukit sempit dan tajam yang lazim dijuluki Punggung Naga Gunung Piramid dengan kedalam sekitar 60 meter. 

Posisi tubuh keduanya tertelungkup tersangkut ranting-ranting pohon, dengan jarak antar jenazah sekitar lima meter. 

Kendati letak posisi kedua jenazah sudah diketahui, karena kondisi medan yang terbilang terjal dengan kemiringan 90 derajat, membuat Tim SAR gabungan baru bisa mengevakuasi jenazah keduanya pada Rabu (5/8/2026). 

Jenazah Irvan berhasil dievakuasi pertama kali pada pukul 13.00 WIB.

Sedangkan jenazah Maliya Finda berhasil dievakuasi sekitar pukul 15.30 WIB. 

Proses evakuasi kedua jenazah membutuhkan waktu sekitar 13 jam menggunakan Teknik  Evakuasi Lowering, melibatkan sekitar 100 orang personel Tim SAR gabungan dari berbagai instansi. 

Sebuah teknik yang lazim dipakai tim penyelamatan untuk mengevakuasi korban dari area vertikal dengan ketinggian yang sulit dijangkau ke area yang lebih rendah dan aman. 

Setelah berhasil dievakuasi, jenazah keduanya dibawa ke Kompartemen Dokpol RS Bhayangkara Bondowoso untuk divisum sebelum akhirnya diserahkan kepada masing-masing keluarga. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.