Curhat Terakhir WLG Eks Istri Polisi Tewas Penuh Luka, Sedih Anak-anak Dikenalkan Pacar Brigadir IH
Angel aginta sembiring August 06, 2026 10:54 AM

TRIBUN-MEDAN.COM – Inilah curhat terakhir WLG eks istri polisi yang ditemukan tewas di rumah Komplek Bumi Asri, Blok G230, Kelurahan Cinta Damai, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, pada Minggu (2/8/2026) sore.

Adapun kematian WLG eks istri polisi yang tewas disebut-sebut mengakhiri hidup menyisakan banyak kejanggalan mulai dari banyaknya bekas luka hingga curhatan korban.

Dari proses rujuk yang diinisiasi oleh keluarga mantan suami brigadir IH hingga temuan luka disekujur di tubuh jenazah yang dinilai tidak masuk akal dengan orang yang bunuh diri.

Adik korban bernama Ica mengungkap bahwa sebelum meninggal kakak pertamanya, WLG sempat curhat kepadanya. 

"Dia bilang, 'Dek, saya sedih.' 'Kenapa, Kak?' 'Iya, anak-anak ngelapor sama saya.' Ngelapor apa? 'Iya, si anak-anak dibawa ke pacarnya si Iman,'" tuturnya.

WLG mengaku sedih karena anak-anaknya dikenalkan dengan pacar Brigadir IH. 

"Anak-anak bilang, 'Mami, Abang dibawa kenalan sama cewek Papi,'" ujar Ica menirukan ucahan keponakannya.

Selain itu, WLG juga mengeluhkan masalah soal keuangan yang diberikan oleh brigadir IH. 

Baca juga: Keputusan Dokter Tifa Mundur dari Polemik Ijazah Jokowi: Tugas Saya Sudah Selesai

"Terus Kakak cerita, 'Aku juga sedih, aku cuma dikasih uang Rp 10 ribu, sedangkan aku disuruh untuk jemput anak-anak. Gak ada bensin, gak ada apa,'" kenangnya.

WLG sudah mencoba meminta uang kepada Brigadir IH, tetapi disuruh meminta kepada mertuanya. 

"Kata Kakak, 'Ya gak bisalah saya minta, itu kan mertua. Maunya dari kamu kalau meminta,'" tambah Ica.

Ica juga mengungkapkan bahwa sebelum rujuk, WLG sering bercerita tentang kekerasan yang dialaminya. 

Namun, Ica mengaku tidak tahu banyak tentang proses perceraian karena keluarga tidak dikonfirmasi saat itu.

 

Ica Dengar Kabar Kematian Kakaknya

Disisi lain Ica juga mengungkap dirinya menerima kabar kematian kakaknya pada Minggu (2/8/2026) pukul 14.58 WIB melalui telepon sambung tiga yang melibatkan Brigadir IH dan ayahnya.

Baca juga: Respons Fadli Zon soal Lokasi Kopdes Merah Putih: Kalau Desanya di Gunung, Koperasi di Gunung Juga

"Yang disampaikan, 'Dek, kamu tenang. Tenang kenapa Bang? Kamu berpikir jernih, kita selamatkan anak-anak dua-dua,' katanya. 'Iya Bang, kita harus selamatkan anak-anak. Ada apa yang terjadi?' 'Iya Kakakmu sudah tidak ada lagi. Sudah diambilnya pistol itulah yang terjadi. Dia udah pergi meninggalkan kita selamanya,'" kenangnya.

Sedangkan posisi Ica saat itu berada di Nias dan penerbangan terakhir tutup siang, ia pun baru bisa terbang ke Medan keesokan paginya.

Kondisi Jenazah WLG

Ketika melihat jenazah kakaknya di rumah sakit Bhayangkara Medan, Ica menemukan sejumlah hal yang membuatnya menaruh kecurigaan.

"Ada satu luka di kepala dijahit. Kami tanya kemarin sama polisinya ini apa yang dijahit? Ini kan kayaknya bukan bagian otopsi.' Nah, jawaban polisinya, 'Ini kemarin ada yang disuntikkan,'" ungkapnya.

"Kalau disuntikkan kenapa lukanya besar dan harus dijahit? Suntikan apa, obat apa yang dimasukkan ke dalam?" ujarnya.

Selanjutnya, Ica melihat langsung kondisi wajah kakaknya. 

"Yang saya lihat, matanya sudah memar," katanya.

Baca juga: Sanksi Dedi Mulyadi untuk Nakes RSUD di Tasik Cibir Yurizal Pasien BPJS: Perkataan Tak Pantas

Sementara itu, petugas yang memandikan jenazah sempat mengungkap bahwa warna biru di tubuh WLG disebabkan oleh proses pembusukan. Namun Ica meragukan penjelasan ini.

"Dia bilang gini, 'Kak, ini udah kian biru. Karena ini mulai membusuk.' Tapi pas saya lihat juga di sini sudah biru-biru. Di bagian pahanya biru-biru. Terus di lututnya ada bekas goresan gitu,  di bagian punggung kaki dan jari-jari, meskipun tidak merata. Ada yang biru ada yang tidak biru," tambahnya.

Ica pun menyoroti adanya kejanggalan dengan  bunuh diri tepatnya di bagian kepala kakaknya. Ditambah kakaknya yang orang awam tidak bisa menggunakan senjata api jenis revolver.

Jika benar ada bekas tembakan seharusnya tembus. Ia juga mempertanyakan proses pengambilan peluru. 

"Kalau misalnya ambil peluru itu kan harus dibuka nih tengkoraknya," katanya, 

Ica mengungkapkan bahwa keluarga sama sekali tidak diizinkan untuk memfoto atau merekam selama berada di rumah sakit dan di rumah keluarga IH.

"Enggak. Karena tidak dikasih, terus setiap kami mau foto tidak dikasih. Setiap mereka berbicara juga kami tidak boleh foto, tidak boleh merekam. Selama kami di rumahnya, selama kami di rumah sakit kemarin, tidak dikasih," ungkapnya.

Ica juga menyoroti sikap keluarga IH yang bersikukuh agar jenazah langsung dikuburkan tanpa dibawa ke rumah duka terlebih dahulu.

"Pada saat kami bilang mau jenazah ditinggal untuk didoakan, mereka bilang tidak bisa. Karena ini akan membusuk, sudah di-es, tidak bisa diformalin," ujarnya.

Namun, ketika keluarga menanyakan langsung ke pihak rumah sakit, jawabannya berbeda. 

"Ada keluarga yang menanyakan bagian rumah sakit, 'Bisa, diformalin.' Dan sampai sekarang Kakak saya diformalin tidak ada bau busuk. Seperti Bapak dan Ibu yang lihat, kan? Tidak ada busuk, tidak ada bau, dan semua masih utuh," tegas Ica.

Ayah Sebut Tak Ada Bekas Tembak Tapi Bekas Penganiayaan

Sementara itu, sang ayah Sanalui Gowasa (56) melihat kematian putrinya tidak wajar.

Sanalui menduga anaknya bukan tewas karena menembak diri sendiri, melainkan menjadi korban penganiayaan.

Sanalui mengatakan, saat melihat kondisi tubuh anaknya, terdapat bekas cengkeraman atau pencekikan di leher, mata lebam, serta warna kebiruan di sekujur tubuh.

Ia juga menegaskan tidak menemukan bekas luka tembak seperti yang beredar.

Merampas dengan pakai pistol suami brigadir IH, Itu tidak benar," ucap Sanalui Gowasa saat ditemui Tribun Medan, Rabu (5/8/2026).

Sanalui mengaku sempat menanyakan hasil autopsi yang dilakukan pihak Rumah Sakit Bhayangkara Medan.

Namun, ia diminta untuk menunggu proses penyidikan.

"Itu sudah saya tanya. Tapi,bTunggulah, sabar, sedang dilidik, hasilnya lagi diperiksa sama orang ini," ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa secara hukum, aturan organisasi Polri, maupun pemerintahan, WLG dan Bripka IH belum resmi bercerai.

"Eggak ada cerai. Sampai sekarang ini engga ada cerai, cuman pisah ranjang," lanjutnya.

Sanalui mengaku awalnya tidak mengetahui putri pertamanya itu telah berada di Medan.

Berdasarkan informasi dari anak keduanya, korban kembali ke Medan karena dijemput langsung oleh ibu mertuanya ke rumah yang berlokasi di Komplek Bumi Asri, Blok G230, Kecamatan Medan Helvetia.

"Anak saya ini pulang dijemput sama ibu mertuanya. Itulah yang saya dengar sama anak-anak.

Dijemput dari sana dan dibawa di sini untuk disatukan kembali untuk rujuk. Bukan anakku yang datang sendiri untuk minta rujuk. Orangtuanya yang jemput," katanya.

Sanalui pertama kali mendapatkan kabar duka dari anak keduanya pada Minggu (2/8/2026) sore.

"Pak, Kakak telah meninggalkan kita," ucap ayah korban menirukan ucapan anak keduanya.

Saat itu, adik korban sempat mengira WLG meninggal dunia setelah menjalani perawatan selama kurang lebih enam hari di RS Bhayangkara Medan.

"Meninggal selama ini dia berobat di Rumah Sakit Bhayangkara, sakit jantung.

Udah diopname selama kurang lebih 6 hari di sana. Sekarang Kakak udah meninggal.

Kakak udah kurang lebih dua bulan di Medan. Tinggal di rumah sama si IH," ungkap ayah korban menirukan perkataan anaknya.

Mendapat informasi tersebut, Sanalui bersama keluarga langsung menuju ke RS Bhayangkara Medan.

Namun, keterangan mengenai sakit jantung itu dibantah oleh petugas rumah sakit.

"Pak, kalau yang sakit jantung, pasien yang sakit jantung dan opname di sini tidak ada. Tidak ada pasien yang sakit jantung diopname di sini meninggal di sini, tidak ada Pak," ujar Sanalui menirukan ucapan salah satu petugas RS Bhayangkara Medan.

Ketika ia menanyakan nama WLG, petugas mengarahkan bahwa korban bukan meninggal karena sakit, melainkan tewas tertembak.

Petugas rumah sakit juga menyampaikan bahwa jenazah korban dibawa oleh personel Polsek Medan Helvetia sekitar pukul 18.00 WIB.

Saat hendak melihat kondisi tubuh anaknya, Sanalui sempat dilarang keras oleh petugas dan diwajibkan meminta izin terlebih dahulu dari Polsek Medan Helvetia.

(*/Tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.