Tumpahan Minyak Kapal Tanker Diduga Armada Bayangan Rusia Ancam Bencana Lingkungan di Perairan Oman
Garudea Prabawati August 06, 2026 11:38 AM

 

 

TRIBUNNEWS.COM - Oman menghadapi ancaman bencana lingkungan setelah sebuah kapal tanker yang diduga merupakan bagian dari armada bayangan Rusia mengalami kebocoran minyak di lepas pantai selatan negara tersebut.

Tumpahan minyak dilaporkan terus meluas dan kini mengancam kawasan konservasi laut di sekitar Kepulauan Al-Hallaniyat.

Berdasarkan citra satelit yang diverifikasi AFP, lapisan minyak tampak menyebar dari kapal yang telah terdampar selama lebih dari satu bulan di dekat Pulau Al-Qibliyyah.

Greenpeace memperkirakan luas tumpahan meningkat dari sekitar 20 kilometer persegi pada 24 Juli menjadi sekitar 600 kilometer persegi pada 4 Agustus.

Peneliti lingkungan dari organisasi perdamaian Belanda PAX, Wim Zwijnenburg, menyampaikan estimasi serupa berdasarkan analisis citra satelit.

Data perusahaan pelacak komoditas Kpler menunjukkan kapal tanker Caroline Bezengi, yang diyakini mengalami kebocoran, sebelumnya mengangkut sekitar satu juta barel minyak mentah dari terminal Sheskharis di Laut Hitam, Rusia, pada 11 Mei.

Kapal tersebut diduga merupakan bagian dari armada bayangan Rusia, yaitu jaringan kapal dengan struktur kepemilikan yang tidak transparan yang digunakan untuk mempertahankan ekspor minyak di tengah sanksi Barat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Baca juga: Isi Draf Kesepakatan AS-Iran-Oman Soal Selat Hormuz: Aturan Jalur Kapal hingga Pembersihan Ranjau

Pada Februari lalu, Inggris menjatuhkan sanksi terhadap Caroline Bezengi karena diduga terlibat dalam pengangkutan minyak Rusia, mengutip The Straits Times, Kamis (6/8/2026).

Perusahaan keamanan maritim Vanguard Tech menyatakan kapal tersebut diguncang tiga ledakan pada 6 Juni yang menyebabkan beberapa kompartemen, termasuk ruang pompa dan sistem kemudi, terendam air.

Hingga kini penyebab ledakan belum diketahui dan belum dapat dipastikan apakah insiden tersebut merupakan akibat kecelakaan atau serangan.

Menurut Vanguard Tech, seluruh awak kapal telah dipastikan selamat, namun mesin utama dan sistem kemudi tidak lagi dapat dioperasikan.

Ancaman bagi Ekosistem Laut Oman

Greenpeace memperingatkan kebocoran yang terus berlangsung berpotensi menimbulkan kerusakan ekologis jangka panjang apabila kapal tidak segera dievakuasi.

"Kebocoran minyak yang terus berlanjut dan posisi kapal yang terdampar di lokasi sulit meningkatkan risiko bencana lingkungan yang lebih besar," kata juru kampanye Greenpeace, Nina Noelle.

Ia menyebut pencemaran minyak mengancam terumbu karang, padang lamun, habitat pesisir, serta berbagai satwa yang dilindungi, termasuk penyu laut langka, burung laut migrasi, dan paus bungkuk Laut Arab.

Zwijnenburg juga memperingatkan bahwa apabila struktur kapal mengalami kerusakan total, dampaknya dapat meluas hingga mengganggu mata pencaharian masyarakat nelayan Oman serta merusak keanekaragaman hayati laut di kawasan tersebut.

IMO Tawarkan Bantuan

Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyatakan telah menawarkan bantuan kepada pemerintah Oman dalam menangani insiden tersebut, meski belum merinci bentuk dukungan yang diberikan.

Hingga laporan ini disusun, pemerintah Oman belum memberikan tanggapan resmi mengenai kebocoran kapal tanker tersebut.

Para pemerhati lingkungan menilai insiden ini kembali menyoroti risiko penggunaan kapal-kapal tua dalam armada bayangan Rusia.

Menurut Greenpeace, praktik mengoperasikan kapal tanker dengan kondisi yang buruk demi menghindari sanksi internasional meningkatkan ancaman terhadap keselamatan pelayaran sekaligus lingkungan laut.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.