Kementerian Kebudayaan Ajak Pemuda Adat Papua Barat Daya Lestarikan Pangan Lokal
Petrus Bolly Lamak August 06, 2026 12:38 PM

 

TRIBUNSORONG.COM, AIMAS - Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan RI mengajak generasi muda adat di Papua Barat Daya untuk mengenali, melestarikan, dan mengembangkan kekayaan budaya serta potensi pangan lokal. Upaya tersebut dinilai penting untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

Ajakan itu disampaikan Julianus Limbeng dari Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan RI saat menghadiri Jambore Pemuda Adat Domberay di Rumah Etnik, Kabupaten Sorong, Rabu (5/8/2026).

Baca juga: Bahasa Moi Akan Diajarkan Bertahap di Seluruh Sekolah Kabupaten Sorong

Menurut Julianus, Jambore Pemuda Adat merupakan program strategis Kementerian Kebudayaan untuk mendorong pemajuan kebudayaan melalui keterlibatan aktif generasi muda dalam mengenali kembali warisan budaya masyarakat adat.

"Jambore Pemuda Adat menjadi ruang bagi generasi muda untuk menemukan kembali kekayaan budaya yang dimiliki, sekaligus memikirkan bagaimana budaya tersebut dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan," ujarnya.

Ia mengatakan salah satu kekayaan budaya yang perlu mendapat perhatian adalah keberagaman pangan lokal yang mulai ditinggalkan masyarakat.

Baca juga: Jambore Pemuda Adat Domberay Angkat Tradisi, Seni, dan Pangan Lokal Papua Barat Daya

Menurutnya, Papua memiliki sumber daya pangan yang sangat melimpah.

Namun, pola konsumsi masyarakat kini semakin bergantung pada beras sehingga banyak pangan tradisional perlahan terlupakan.

"Kita memiliki potensi pangan lokal yang luar biasa, mulai dari berbagai jenis sagu, sorgum, jelai, umbi-umbian, hingga kacang-kacangan. Semua itu merupakan kekayaan budaya sekaligus sumber pangan bernilai tinggi," katanya.

Julianus menegaskan, pengembangan pangan lokal tidak hanya bertujuan melestarikan tradisi leluhur, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat pada masa depan.

Ia berharap generasi muda belajar langsung dari para tetua adat, tokoh masyarakat, dan empu budaya yang masih menyimpan pengetahuan mengenai sejarah, filosofi, serta cara mengolah pangan tradisional.

"Selama para tetua adat dan empu budaya masih bersama kita, inilah saat yang tepat bagi generasi muda untuk belajar dan mendokumentasikan pengetahuan tersebut agar tidak hilang ditelan zaman," ujarnya.

Baca juga: Kisah Syarif Maulana Mewujudkan Impian Menuju Jambore Nasional XII di Cibubur

Ia menambahkan, pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan inovasi agar potensi budaya dan pangan lokal mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional yang diwariskan para leluhur. (tribunsorong.com/taufik nuhuyanan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.