Timbulkan Bau Tak Sedap, Warga Prawirodirjan Keluhkan Operasional Pabrik Kulit di Tengah Kampung
Hari Susmayanti August 06, 2026 01:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Bau menyengat tak sedap kembali dikeluhkan oleh warga Kelurahan Prawirodirjan, Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Aroma yang berasal dari aktivitas operasional pabrik pengolahan kulit di wilayah setempat, makin meresahkan karena dirasakan hampir setiap hari, baik siang maupun malam.

​Ketua RW 13 Prawirodirjan, Wikan Eko, mengungkapkan bahwa paparan bau tak sedap ini sebenarnya sudah dirasakan oleh warganya sejak cukup lama.

Akan tetapi, yang terjadi belakangan, intensitas aroma yang dirasakan makin parah, hingga mengganggu kenyamanan masyarakat dalam kurun tiga bulan terakhir.

​"Yang paling dirasakan warga itu baunya, sangat menyengat baik siang maupun malam. Apalagi kalau angin berembus ke arah timur, aromanya semakin kuat," ujarnya, saat ditemui Kamis (6/8/26).

​Tak hanya mengganggu kenyamanan, bau menyengat tersebut sontak memicu kekhawatiran penduduk terhadap dampak kesehatan jangka panjang. 

Menurut Wikan, sejumlah anak-anak di wilayahnya belakangan mulai mengeluhkan gangguan pernapasan seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

​"Kalau secara medis tentu perlu diperiksa dokter lebih lanjut untuk memastikan hubungannya. Tapi, keluhan itu, seperti ISPA pada anak-anak, memang ada. Mau tua atau muda, semuanya terdampak," terangnya.

Baca juga: Angka Kemiskinan DIY Turun Signifikan jadi 9,70 Persen

​Selain persoalan polusi udara, warga juga mencermati adanya indikasi pencemaran limbah cair yang mengalir di parit sekitar area pengolahan pabrik. 

Kendati demikian, untuk kondisi air sumur masyarakat sejauh ini dilaporkan masih relatif normal dan belum mengalami perubahan warna maupun bau.

​Wikan menambahkan, warga setempat sebenarnya telah berulang kali menyampaikan keluhan dan aduan secara langsung kepada pihak pengelola pabrik.

Namun, lantaran tak kunjung mendapat respons positif, warga pun melaporkan persoalan ini ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta dan legislatif.

​"Kami berharap segera ada tindakan tegas. Paling tidak, ya warga bisa merasa aman dari bau dan dampak lingkungan lainnya akibat operasional pabrik," tegasnya.

​Senada, warga sekitar pabrik, Budi Harsono, menyebutkan bahwa persoalan aroma tak sedap dari pabrik kulit ini sudah berlangsung selama puluhan tahun. 

Menurutnya, kondisi terkini berbanding terbalik dengan masa lalu lantaran dinamika pemukiman yang semakin padat seiring bertambahnya jumlah penduduk.

​"Dulu warga belum sepadat sekarang. Sekarang satu kampung ada ribuan jiwa, satu rumah bahkan bisa diisi empat sampai lima kepala keluarga. Jadi, ya dampaknya sangat terasa," ungkapnya.

Buruknya komunikasi dari pengelola pabrik pun membuat mediasi yang coba dibangun warga bersama perwakilan tokoh setempat selalu menemui jalan buntu.

​Melihat kondisi kawasan Prawirodirjan yang kini telah menjadi area pemukiman padat penduduk, Budi mendesak pemerintah kota dan DPRD untuk meninjau ulang perizinan operasional pabrik kulit tersebut.

​"Pemkot dan DPRD harus meninjau ulang izinnya. Apalagi sekarang sudah ada kawasan peruntukan industri seperti di Sitimulyo. Mestinya, pabrik seperti ini berada di zona industri, bukan di tengah perkampungan," pungkasnya. (aka)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.