5 Hari Setelah Hajrin Tenggelam di Sungai Bone Gorontalo, Sang Ayah Belum Sanggup Pergi ke Ladang
Wawan Akuba August 06, 2026 01:47 PM

TRIBUNGORONTALO.COM, Bone Bolang – Pagi itu, Sabtu (1/8/2026), Hazrin Hudjuli (13) mengawali harinya seperti biasa.

Usai salat Subuh, ia mengaji bersama sang ibu, Nurhayati Inaku (48), lalu menikmati sepiring nasi goreng dengan telur rebus yang dimasakkan khusus sesuai permintaannya.

Tak ada firasat apa pun yang dirasakan Nurhayati. Bahkan sebelum berangkat ke pasar, ia masih sempat berencana membelikan celana Pramuka baru untuk putranya.

Namun Hazrin justru menolak karena merasa celana yang dimilikinya masih layak dipakai.

Baca juga: KKI Buka Peluang Cabut STR Dokter Penghina Pasien BPJS, Permintaan Maaf Tak Hentikan Proses

Lima hari setelah putranya meninggal dunia akibat tenggelam di Sungai Bone, Desa Bulontala, Kecamatan Suwawa Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Nurhayati mengaku belum mampu melupakan percakapan sederhana pada pagi itu.

Saat ditemui Tribun Gorontalo di rumah duka di Desa Bube, Kecamatan Suwawa, Kamis (6/8/2026), Nurhayati mengaku sejak kejadian tersebut dirinya kehilangan selera makan.

Ia terus teringat anak keempat dari lima bersaudara itu.

"Pagi itu kami mengaji bersama setelah salat Subuh," ujarnya sembari menahan tangis.

Di sela mengaji, Hazrin sempat mengatakan kepada ibunya bahwa ia ingin menyelesaikan bacaan Al-Qurannya.

Tak lama kemudian, Nurhayati menyiapkan sarapan sesuai permintaan sang anak.

"Dia bilang ingin makan nasi goreng. Saya buatkan nasi goreng sama telur rebus," katanya.

Setelah sarapan, Hazrin sempat diminta kakaknya membeli rokok di warung.

Ia langsung berangkat, kemudian kembali ke rumah setelah memenuhi permintaan tersebut.

Sebelum berangkat ke pasar, Nurhayati kembali mengingatkan agar Hazrin tetap berada di rumah setelah makan.

Namun, jawaban putranya justru masih terus terngiang di telinganya.

"'Mama, tugas Nunu sudah tidak ada?'" kenang Nurhayati.

Menurutnya, Hazrin memang terbiasa membantu pekerjaan rumah, mulai dari menyapu hingga mengerjakan berbagai pekerjaan lainnya tanpa harus diminta.

Baca juga: Dukcapil Ungkap Ratusan Warga Indonesia Pakai Nama Karakter Anime, Uzumaki dan Nobita Terpopuler

Sebelum meninggalkan rumah, Nurhayati juga berniat membelikan celana Pramuka baru.

Namun Hazrin menolaknya.

"Nunu bilang, 'Tidak usah Mama. Celana putih saja, kalau celana Pramukanya Nunu masih bagus,'" tutur Nurhayati.

Sesampainya di pasar, ia tetap membeli topi sekolah dan seragam untuk putranya.

Nurhayati juga berniat membelikan makanan kesukaan Hazrin.

Namun niat itu tidak sempat terwujud karena sebagian besar pedagang sudah menutup lapak ketika dirinya tiba menjelang siang.

Usai berbelanja, Nurhayati mampir ke rumah adiknya.

Saat hendak menunaikan salat Zuhur, telepon dari anak sulungnya tiba-tiba masuk.

Tangisan dari seberang telepon langsung membuat tubuhnya lemas.

"Anak saya bilang, 'Mama cepat ke Sungai Bone, Hazrin tenggelam,'" ujarnya.

Mendengar kabar itu, Nurhayati langsung jatuh pingsan.

Setelah sadar, ia bergegas menuju Sungai Bone.

Sesampainya di lokasi, tim SAR gabungan bersama warga sedang melakukan pencarian terhadap putranya.

Nurhayati hanya bisa menangis sambil menunggu kabar dari tim pencari.

Sekitar tiga jam kemudian, Hazrin ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

Nurhayati mengaku sangat berterima kasih kepada Basarnas, aparat, relawan, dan seluruh warga yang ikut membantu pencarian.

"Terima kasih kepada semua yang membantu mencari anak saya," katanya.

Di mata keluarga, Hazrin dikenal sebagai anak yang penurut.

Ia tidak pernah membantah orang tua dan selalu meminta izin setiap kali hendak bermain.

"Kalau saya bilang jangan, dia tidak pernah membantah. Anak saya baik," ucap Nurhayati.

Selain itu, Hazrin juga rajin membantu pekerjaan rumah dan memiliki hubungan yang dekat dengan saudara-saudaranya.

Kini suasana rumah yang dulu dipenuhi suara Hazrin berubah sunyi.

Pantauan Tribun Gorontalo di rumah duka, tenda belasungkawa masih berdiri di halaman rumah.

Kursi-kursi masih tersusun rapi, sementara lantunan ayat suci Al-Qur'an terus terdengar dari dalam rumah.

Suasana duka masih begitu terasa.

Ayah Hazrin, Usman Hudjuli (52), bahkan belum sanggup keluar rumah sejak kepergian putranya.

Ia juga belum kembali ke ladang karena masih berusaha menerima kehilangan anak yang begitu dicintainya.

"Saya sebagai orang tua merasa kehilangan sekali. Rasanya rumah ini sudah berbeda," tutur Nurhayati.

Hazrin dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Bube. Ia meninggalkan kedua orang tua serta empat saudara kandung yang hingga kini masih berduka.

Menurut Nurhayati, tidak ada firasat apa pun sebelum musibah itu terjadi. Yang tersisa kini hanyalah kenangan pagi terakhir bersama putranya, percakapan sederhana, serta rencana membeli celana Pramuka baru yang tak pernah sempat terwujud. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.