Ekonomi Bangka Belitung Tumbuh 4,01 Persen, BI: Konsumsi dan Belanja Pemerintah Jadi Penopang
Ardhina Trisila Sakti August 06, 2026 02:24 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menilai perekonomian daerah tetap menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Berdasarkan asesmen BI yang mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Bangka Belitung pada triwulan II 2026 tumbuh 4,01 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Asisten Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rifki Ismail mengatakan pertumbuhan tersebut didorong oleh menguatnya konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, serta meningkatnya aktivitas pada sejumlah sektor jasa.

"Berdasarkan asesmen dan surveilans, Bank Indonesia memandang bahwa perekonomian daerah ke depan akan tumbuh positif, sehingga perlu didukung dengan optimisme, komitmen, dan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan," kata Rifki Ismail dalam keterangan resminya kepada awak media, Kamis (6/8/2026).

Meski demikian, laju pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung pada triwulan II 2026 sedikit melambat dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 4,53 persen (yoy).

Menurut BI, dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib, konstruksi, perdagangan, serta pertanian, kehutanan dan perikanan.

Peningkatan aktivitas warung makan dan kedai kopi, semakin masifnya implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didukung pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan gerai Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih, hingga meningkatnya aktivitas masyarakat saat Hari Raya Iduladha menjadi faktor yang mendorong pertumbuhan tersebut.

Di sisi lain, BI mencatat sektor industri pengolahan dan pertambangan masih belum memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, serta konsumsi lembaga non-profit menjadi motor utama pertumbuhan.

Kondisi itu didukung meningkatnya realisasi belanja pegawai, belanja barang dan jasa, belanja modal, pencairan gaji ke-13 ASN, serta meningkatnya berbagai kegiatan sosial, budaya dan keagamaan.

Investasi juga menunjukkan tren positif yang tercermin dari meningkatnya Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).

BI mencatat realisasi investasi didorong pembangunan SPPG, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Sekolah Garuda, jalan, jembatan, pelabuhan, serta meningkatnya pembelian kendaraan bermotor baru.

Sebaliknya, kinerja ekspor masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global dan belum pulihnya sektor unggulan, terutama komoditas timah, lada, dan karet.

Menghadapi kondisi tersebut, Bank Indonesia menyatakan akan terus memperkuat stabilitas ekonomi daerah melalui sejumlah strategi, mulai dari mendorong investasi hilirisasi di sektor perkebunan dan industri pengolahan, pengembangan pariwisata dan industri kreatif berbasis kearifan lokal, percepatan digitalisasi UMKM hingga perluasan transaksi digital melalui QRIS.

"Bank Indonesia terus mendorong peningkatan transaksi digital guna mendukung transaksi yang cepat, mudah, murah, aman dan handal, termasuk implementasi QRIS," ujar Rifki.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.