TRIBUNSORONG.COM, AIMAS - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sorong menegaskan komitmennya melestarikan dan mengembangkan Bahasa Moi sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat adat di Tanah Moi.
Upaya tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan mendorong penggunaan bahasa dari tujuh sub suku Moi pada seluruh jenjang pendidikan di Kabupaten Sorong.
Komitmen itu disampaikan Sekretaris Disdikbud Kabupaten Sorong Jonathan Simaela saat ditemui di Kabupaten Sorong, Kamis (6/8/2026).
Baca juga: Kembangkan Buku Bahasa Moi Kelim, Dinas Pendidikan Kabupaten Sorong Dorong Pelestarian Bahasa Lokal
Menurut Jonathan, pelestarian bahasa daerah merupakan investasi penting bagi masa depan generasi muda sekaligus langkah nyata menjaga identitas budaya Orang Asli Papua (OAP).
"Semakin besar kepedulian terhadap kelestarian budaya, khususnya Bahasa Moi, semakin baik pula masa depan generasi muda, baik Orang Asli Moi maupun seluruh masyarakat yang hidup di Tanah Papua," ujarnya.
Jonathan mengingatkan pesan almarhum Brigjen TNI Oktopianus Prans Ateruri yang selalu mengajak masyarakat menjaga warisan budaya.
"Kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi."
Menurutnya, pesan tersebut bukan sekadar slogan, melainkan ajakan untuk bersama-sama menjaga budaya sebagai bagian dari jati diri masyarakat Papua.
Baca juga: Bahasa Moi Kelim Sah jadi Mulok SD-SMA se-Kabupaten Sorong
Ia menegaskan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai bahasa dan budayanya.
Karena itu, pelestarian Bahasa Moi diharapkan mampu memperkuat keharmonisan sosial sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya lokal.
"Kami berharap seluruh masyarakat yang tinggal di Tanah Moi, baik Orang Asli Papua maupun masyarakat pendatang, paling tidak dapat memahami dan mengucapkan beberapa kalimat sederhana dalam Bahasa Moi. Hal ini akan memperkuat rasa persaudaraan dan penghormatan terhadap budaya setempat," katanya.
Sebelumnya, Disdikbud Kabupaten Sorong telah meluncurkan Buku Muatan Lokal Bahasa Moi Kelim yang mulai diterapkan pada jenjang SD hingga SMA.
Namun, Jonathan menegaskan pengembangan Bahasa Moi tidak berhenti pada satu dialek. Menurutnya, Kabupaten Sorong memiliki tujuh sub suku Moi dengan kekayaan bahasa dan budaya yang perlu dilestarikan secara seimbang.
"Kami berkomitmen agar ke depan bukan hanya Bahasa Moi Kelim yang diajarkan di sekolah. Jika dukungan anggaran memungkinkan, kami juga akan mengembangkan Bahasa Moi Klabra, Moi Maya, dan bahasa dari sub suku Moi lainnya sehingga pelestarian bahasa menjadi lebih komprehensif," ujarnya.
Ia berharap pengembangan muatan lokal Bahasa Moi dapat dilakukan secara bertahap setiap tahun, seiring bertambahnya jenjang pendidikan serta tersedianya bahan ajar yang memadai.
Melalui penguatan pembelajaran Bahasa Moi di sekolah, Pemerintah Kabupaten Sorong berharap generasi muda tidak hanya mengenal bahasa daerah sebagai alat komunikasi, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya, sejarah, dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya masyarakat adat sekaligus mendukung pemajuan kebudayaan di Papua Barat Daya agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman. (tribunsorong.com/taufik nuhuyanan)