Ratna Sari Dewi datang ke Indonesia tidak mengenal seorang pun kecuali Bung Karno. Untung ada Baby Huwae yang kemudian jadi sahabatnya.
Diolah dari cerita-cerita Baby Huwae kepada Tabloid NOVA edisi November 1988.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -“Saat itu Dewi datang ke butik yang berlokasi di rumahku untuk memesan baju. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Miss Kubo,” kisah Baby Huwae kepada Tabloid NOVA edisi 13 November 1988.
Setelah menikah, Baby Huwae memang masih berhubungan dengan istana. Terlebih setelah Bung Karno menikah dengan Ratna Sari Dewi pada 1962.
Baby pertama mengenal Dewi saat istri kelima Bung Karno (ada juga yang menyebutnya sebagai istri keenam) itu berkunjung ke butiknya. Saat itu dia memperkenalkan dirinya sebagai Miss Kubo.
“Sebetulnya aku sudah curiga, siapa sebenarnya Miss Kubo yang datang ke butikku sekitar tahun 1962 dan memesan dua baju untuk dipakai pada peresmian Hotel Indonesia … tapi kutahan rasa penasaran itu,” cerita Baby.
Terus terang, wanita Jepang itu berhasil menarik simpati Baby dan membuatnya ingin bersahabat dengan perempuan berdarah Jepang itu. Terlebih saat itu Dewi mengaku sedang berkabung: Ibunya baru saja meninggal, menyusul adik lelakinya bunuh diri tak lama kemudian.
Baby pun curiga bahwa antara Miss Kubo alias Dewi dan BK ada hubungan tertentu. Hal itu Baby ketahui dari mobil yang dipakai Dewi dan sejumlah pengawal yang mengiringinya.
Tapi sampai sejauh mana hubungannya dengan BK, ketika itu Dewi belum tahu pasti. Yang jelas, saat Dewi datang untuk ketiga kalinya untuk pesan baju, semakin besar saja keinginan Baby untuk bersahabat dengan perempuan asing itu.
Gayung bersambut. Niat itu kesampaian juga.
Suatu saat BK meminta Baby datang ke Wisma Yaso di Jl. Gatot Soebroto. Mungkin saja BK mendengar cerita Miss Kubo perihal baju pesanannya pada Baby, “Maka aku diundang ke situ. Saat itu pula kuketahui dengan pasti, Miss Kubo ini sudah dinikahi BK. Tapi kapan dan di mana, sampai kini pun aku tak tahu,” kata Baby.
Baby pun tak pernah menanyakannya pada BK atau Dewi. Saat itu dia berpikir, itu bukan urusanku.
Perintah
Pada pertemuan antara Baby, BK dan Dewi itulah, BK berpesan, “Baby, tolong kau dampingi dia, ya! Dewi masih asing di sini, belum punya teman atau sahabat. Karena itu Dewi selalu merasa kesepian. Kau tahu, aku tak bisa selalu mendampinginya karena tugas-tugasku. Lagi pula, aku sangat mencintainya.”
Tugas itu diterima oleh Baby dengan dengan senang hati. Terlebih memang banyak hal yang belum dipahami Dewi.
Termasuk soal bahasa, tata krama, hingga cara mengenakan pakaian nasional. Begitulah, Baby mengajarkan semuanya di kediaman Dewi. Dan karena itulah setiap hari Baby harus datang ke Wisma Yaso — kediaman Ratna Sari Dewi setelah jadi istri Bung Karno, rumah ini juga yang kelak menjadi “rumah tahanan” bagi Bung Karno. Kadang jika satu hari Baby tak muncul, Dewi menelepon atau dia akan dijemput.
“Pokoknya aku tak boleh absen sehari pun!” cerita Baby.
Tapi terkadang Baby kesal juga. Bagaimanapun juga, dia punya suami dan anak yang harus diperhatikan. Tapi bagaimana lagi … melihat pengorbanannya yang begitu besar, BK akhirnya memberi “penghargaan” atas itikad baiknya.
Tahun 1963, untuk pertama kalinya, Baby diajak Dewi melancong ke negerinya, Jepang. Itulah untuk pertama kalinya dia mendampingi istri Bung Karno itu bepergian ke luar negeri — saat itu sebagai seorang pesohor Baby sendiri sudah sering bepergian ke luar negeri.
Setelah kunjungan ke kampung halamannya itu, mulailah Baby dan Dewi “bertualang” ke negara-negara Eropa seperti Prancis, Italia dan lainnya. Juga negara-negara Timur Tengah. Dan itu terus berlanjut hingga tahun 1966.
Pendek kata, ke mana pun Dewi pergi, Baby harus ikut. Kadang terasa menjenuhkan bagi Baby, apalagi kalau dia ingat keluarganya yang harus dia tinggalkan.
Tapi jika dia sampai mengeluh, Dewi akan menyampaikannya kepada Bung Karno. Ujungnya, Baby lagi, Baby lagi, yang kena getahnya.
Bahkan BK sampai pernah menegurnya. “Baby, ini bukan permintaan tapi perintah!” Baby pun kesan mendengarnya, tapi tak ada yang bisa dia lakukan selain menurut saja.
Selama tiga tahun berteman dengan Dewi, Baby merasa bagai burung. Terbang dari satu negara ke negara lain. Hari ini berada di Paris, besok atau lusa sudah di Swiss. Hanya dua hari di Swiss, tiba lagi di tanah air. Belum sempat menghirup udara segar Jakarta, sudah terbang lagi ke negara lain.
Nyaris tiap kali berkunjung ke suatu negara, keduanya menjadi tamu sang kepala negara. Seperti Raja Hassan, Shah Iran, Raja Hussein dari Yordania, juga raja atau presiden negara lain.
Ketika itu usia Baby masih 24 tahun. Tak heran jika dia merasa segala pengalamannya itu terasa begitu indah dan memukau. Hidupnya bergelimang kemewahan, meski terkadang dia merasakan amat bertolak belakang dengan kehidupan ala Timur.
Baby juga pernah menghadiri acara kehormatan dari raja kapal Onassis. Selama tiga hari beristirahat di kapal pesiarnya yang mewah, Christina.
Dia dan Dewi juga kerap bepergian ke pesta-pesta atau diskotek mewah. Berjumpa dengan bintang-bintang terkenal seperti Gina Lollobrigida, Sophia Loren, Marcello Mastroianni, atau dengan bankir-bankir kenamaan kaliber dunia.
Keduanya pun sering berbelanja, masuk dari satu rumah mode ke rumah mode terkenal lainnya, mengenakan gaun karya Hanae Mori, Fontana, Emilio Pucci, Christian Dior, Pierre Cardin, dan lainnya.
Setiap kali Baby diajak mengawal Dewi ke luar negeri, sang suami selalu diajak serta. Cuma saja dia tak bisa diajak pergi ke pesta atau diskotek karena Dewi tak senang kalau Baby didampingi suaminya sementara dia sendirian.
“Terkadang aku merasa kasihan padanya. Dia melancong sendirian atau hanya makan-tidur di hotel mewah. Tapi untunglah dia bisa memahami situasi dan kondisi,” tutur Baby.
Didamprat hingga di-persona non grata-kan oleh BK
Meski begitu, pergi ke pesta atau diskotek hanya Dewi dan Baby lakukan jika Bung Karno tak ikut. Kalau ada BK, keduanya bagaikan “orang alim” saja.
“Jangan coba-coba bepergian sendiri kalau ada BK. Bisa-bisa kena damprat dan paling-paling akulah yang kena getahnya. Dan pengalaman buruk itu pernah kualami!” cerita perempuan keturunan Belanda itu.
Ceritanya, saat itu Baby dan Dewi liburan ke Prancis. Seperti kebiasaan mereka berdua, setiap ke luar negeri selalu menyempatkan diri melihat peragaan busana atau pergi ke rumah mode. Atau belanja sepatu dan pakaian mahal, lalu malamnya ke pesta atau ke diskotek.
Baby sendiri mengenakan long dress dengan rambut yang ditata oleh penata rambut kenamaan, Alexander. Sementara Dewi berdandan amat cantik dan mengenakan perhiasan mutiara.
Di lokasi, mereka bertemu dengan Raja Hussein, Putri Soraya, serta tokoh terkenal dari negara lain. Keduanya berdansa sampai pagi. Setelah itu, mereka tak langsung pulang ke hotel, namun sarapan pagi dulu di sebuah restoran.
Saat itu keduanya tak menyangka, BK dan rombongan menyusul ke Prancis.
Sesampainya di hotel, Dewi dan Baby masih ceria-ceria saja. Tapi begitu akan melangkah membuka pintu kamar, Baby melihat sesosok tubuh lelaki mengenakan piyama.
Dia berdiri di muka Baby dan Dewi. Hati Baby langsung kecut. Pria itu ternyata BK! Dewi kemudian langsung nyelonong masuk ke kamarnya, tinggallah Baby sendirian.
Begitu Dewi berada di kamar, BK langsung “menyemprot”.
“Dari mana kau?” tanya BK.
“Dari undangan,” jawab Baby.
“Undangan apa sampai pagi hari begini?”
“Tak tahu undangan apa, yang pasti undangan untuk Ibu Dewi.”
Tapi dengan suara keras BK marah, “Tidak! Sejak dia kenal dan bergaul denganmu, dia makin senang dansa-dansa.”
Baby diam, hanya bergumam dalam hati. “Apa tak salah? Bukan kebalikannya? Yang mengajak dansa kan Dewi.”
BK lalu bertanya lagi, dengan siapa kami berdansa. Baby menjawab terus terang.
“Borjuis! Kalau pulang ke Indonesia, kusuruh kau ditangkap!” BK berang bukan kepalang.
“Saya tahu Bapak seorang presiden. Tapi Bapak bukan Tuhan!” balas Baby yang sudah tak tahan dengan segala semprotan yang dialamatkan kepadanya.
BK terdiam untuk sesaat, tapi kemudian naik pitam dan mendamprat dalam bahasa Jawa, “Tak kemplang ndasmu! (Kupukul kepalamu).”
Tanpa tunggu apa-apa lagi, Baby lari. Soalnya dia paham benar, kalau BK sudah marah dalam bahasa Jawa, benda apa pun bakal melayang.
Baby terus berlari. Di belakang, BK mengejarnya. Para pengawal dan rombongan lain sempat bingung dan bertanya-tanya.
“Tolong, saya dikejar Bapak,” kata Baby kepada Chaerul Saleh.
“Tidak, kau pasti bikin salah,” kata Chaerul sambil menutup pintu kamarnya. Kudengar kemudian teriakan BK, “Kau persona non grata!”
Baby sudah tak memperdulikan lagi seruan BK. Dia hanya berlari dan berlari hingga mendapat taksi. Yang saat itu terlintas di benaknya hanya bagaimana cara menghindarkan diri. Dia lalu berpikir untuk melarikan diri ke Belanda.
Tapi di perjalanan menuju bandara, dia tersadar tak membawa paspor. Untung di tas pesta masih ada sejumlah uang. Dia menyuruh pengemudi taksi putar haluan. “Kali ini menuju hotel tempat Jendral Priyatno menginap,” katanya.
Baby berharap, dia mau membantunya. “Maaf, saya tak bisa bantu apa-apa. Bapak sudah telepon dan mengatakan, kamu sekarang persona non grata,” jawab yang dimintai tolong.
Ya, Tuhan, habis sudah riwayatku, batin Baby. Di tengah kekalutan itu, Pak Priatno menanyakan tujuan Baby.
“Ke Belanda, Pak. Tolonglah, Pak, upayakan agar saya bisa lolos ke sana,” katanya.
Priatno lalu menyarankan Baby untuk tidak menumpang pesawat terbang. “Ambil jalan darat saja untuk melintasi perbatasan,” katanya.
Tanpa buang-buang waktu, Baby mengikuti sarannya. Akhirnya dia sampai juga di rumah neneknya di Belanda, menumpang taksi.
Tak lama, Baby jenuh di Belanda. Dia pun teringat kenalannya yang bekerja di KBRI Belanda, Sudjarwo Tjondronegoro.
Baby mengutarakan niatnya: ingin pulang ke Indonesia. Tapi Sudjarwo pun tak bisa menolongnya karena BK sudah menghubungi KBRI Belanda.
“Tolonglah, Pak, beri saya sepotong surat, kek. Masa Bapak tega melihat saya begini,” pinta Baby.
“Tak mungkin, Baby. Ini perintah sekaligus larangan presiden.”
Izin pulang tak Baby dapat. Meski begitu, atas kebaikannya, Baby dipinjami mobil untuk bepergian selama di Negeri Kincir Angin itu.
Satu hari, tanpa Baby duga, Sudjarwo menghubunginya. “Bapak menelepon dari Austria dan menyuruh memberimu paspor. Bapak pesan, kau harus ke Wina. Di sana ada Bapak dan Bu Dewi.”
Perasaan Baby melambung tinggi sekali. Dan tambah berbunga-bunga lagi hatinya setelah tahu, bukan cuma paspor yang diberi tapi juga tiket. Dubes RI di Belanda pun mengantarnya ke bandara.
Di Wina, mobil yang menjemput Baby membawanya ke hotel tempat BK, Dewi, dan rombongan 100 menteri menginap. “Konon mereka batal mengikuti KTT Aljazair,” cerita Baby.
Saat dia tiba, rombongan BK tengah makan pagi. Tak satu pun dari mereka yang menegur Baby. Mungkin takut dimarahi BK.
Baby berdiri di pintu. Begitu BK melihatnya, dia memanggil dan menyuruh perempuan yang belum lama didampratnya itu untuk duduk semeja dengannya dan Dewi serta sejumlah menteri.
“Sudah sarapan?” tanya BK. Meski sebetulnya sudah makan di pesawat, Baby menjawab belum.
“Ayo, sarapan!” lanjut BK sambil menyodorkan piring yang dipakainya.
Di dekat BK, Baby melihat Dewi diam saja. Dia hanya senyum-senyum penuh arti. Belakangan baru dia tahu: ada andil Dewi sehingga paspor Baby dikembalikan sekaligus menyusul ke Wina.
Dari Wina, Baby ikut rombongan ke Prancis. Di sini, dia menyimpan kenangan manis.
Saat itu rombongan sedang jalan jalan ke pusat para pelukis. BK pun ikut, berpakaian tak resmi. Tiba-tiba BK berhenti di muka sepasang suami-istri pelukis. “Tolong lukis wajah saya,” kata BK pada si pria. Dan si istri, diminta melukis Dewi dan Baby.
Sementara tangan si wanita menari di atas kanvas, rupanya dia memperhatikan wajah BK, lalu berujar, “Rasanya saya mengenal Anda.” Begitu penasaran, dia menanyakan nama BK.
“Saya bukan siapa-siapa. Orang biasa. Nama saya Johny,” jawab BK.
“Johny siapa?” desak si pelukis wanita itu. “Johny Guitar,” jawab BK sekenanya, menyebut nama aktor beken. Dahi si pelukis berkerut.
Agaknya dia tengah berpikir keras. Baru kemudian dia berkata, dan amat di luar dugaan, “Anda Achmad Soekarno!” Dan wanita itu makin yakin, ketika BK mengatakan dari Indonesia.
Dikira anak Bung Karno
Terlalu banyak memang pengalaman indah yang kini tinggal kenangan yang dimiliki Baby saat bersama Dewi dan BK. Misalnya saat dia membuat BK merah padam hanya gara-gara kebiasaannya bicara ceplas-ceplos.
Ceritanya, pada suatu acara di Istana Bogor, Baby diminta duduk mendampingi Dubes Rusia. Saat acara melantai, BK menyuruhnya, dalam Bahasa Belanda, mengajak sang dubes melantai.
Baby menolak perintah itu. “Tidak mau. Dia bau!”
Dan terkejutlah Baby saat sang dubes berkata dalam Bahasa Belanda pula, “Maafkan saya kalau tak bisa menyenangkan Anda!”
Baby rasanya mau pingsan dibuatnya. Ternyata sang dubes pernah bertugas sebagai dubes di Belanda!
“Itulah akibatnya, Baby. Kau kalau bicara tak berpikir dulu,” kata BK yang malam itu “terpaksa” minta maaf sambil bergurau pada sang dubes tersebut.
Pengalaman lucu lainnya adalah di Istana Negara. Juga di lantai dansa. Kali ini bersama Norodom Sihanouk.
Sedang asyiknya kami melantai, tiba-tiba pangeran dari Kamboja ini bertanya kepada Baby. “Kau anak BK yang keberapa?”
Dapat pertanyaan begitu, Baby malah geli dalam hati, meski bingung juga mesti menjawab apa. Dia mendekati BK yang saat itu juga tengah melantai.
“Pak, Pangeran tanya, saya ini anak Bapak yang nomor berapa?”
“Bilang saja kau betul anakku. Nomor berapa, sebut saja!”
Tapi Baby tak ingin berbohong pada Sihanouk. Dia bilang terus terang sebagai seorang bintang film dan penyanyi dari kelompok Baby Dolls yang kemudian oleh BK diganti menjadi Boneka Dara.
Jet Star
Pengalaman menarik Baby lainnya adalah pemberian izin BK untuk menggunakan pesawat kepresidenan. Sebuah jet star untuk mengantar tamu-tamu negara.
Baby masih ingat, suatu saat dia diminta BK mendatangkan bintang terkenal Ingrid Bergman. “Kau tahu, Baby, aku ini pengagum Ingrid. Kalau kau bisa mengundangnya ke Jakarta, segala fasilitas yang diperlukan akan saya bantu,” kata BK.
Mulanya memang sulit juga mengundang Ingrid. Soalnya saat itu dia sudah terserang kanker dan tak mau bertemu siapa pun. Tapi akhirnya Inggrid berhasil dibujuk oleh Baby.
“Kepala Negaraku ingin sekali berjumpa dengan Anda,” begitu kira-kira rayu Baby kepada sang artis.
Rupanya Ingrid setuju dan ketika dia datang, pejabat-pejabat ikut menjemputnya. Di antaranya Chairul Saleh, Leimena, Subandrio. Masing-masing dengan istri. Tampak pula Joop Ave, BK, dan Dewi.
Sebuah jamuan makan malam khusus, diberikan untuk artis ini.
Ingrid sangat terkesan pada BK karena dalam sebuah obrolan, dengan lancar BK menirukan dialog khas Ingrid dan aktor Gary Cooper dalam sebuah film. Ingrid merasa kaget, karena dia sendiri, katanya, sudah tak ingat lagi dialog itu.
Selama Ingrid berada di Indonesia, Baby membawanya keliling Indonesia dengan Jetstar itu. Ke Bali, Bandung dan tempat pariwisata lainnya.
“Selama mendampingi Dewi, sudah begitu banyak negara yang kami kunjungi. Bukan saja untuk bersenang-senang, tapi juga naik haji,” kenang Baby.