Menjaga Arah Layar Pertumbuhan, Pelajaran Odysseus untuk Ekonomi Sulawesi Utara
Chintya Rantung August 06, 2026 02:22 PM

 

Oleh: Joy Elly Tulung
(Guru Besar FEB Unsrat) bidang Manajemen Keuangan Tata Kelola Perusahaan, Perbankan dan Lembaga Keuangan; Ketua ISEI Cabang Manado Sulut

DALAM epos Yunani kuno The Odyssey, Odysseus menghabiskan sepuluh tahun mengarungi lautan untuk kembali ke Ithaca. Perjalanannya tidak pernah lurus. 

Badai datang silih berganti, angin berubah arah, dan berbagai rintangan memaksanya mengambil keputusan-keputusan sulit.

Namun, yang membuat Odysseus dikenang bukanlah karena ia memiliki kapal yang paling besar atau berlayar paling cepat. 

Ia dikenang karena kemampuannya membaca perubahan, menyesuaikan layar ketika angin berganti, dan tetap menjaga tujuan akhirnya.

Pembangunan ekonomi sesungguhnya adalah perjalanan seperti itu. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat ekonomi bertumbuh, tetapi oleh kemampuan menjaga arah ketika kondisi berubah. 

Sebab, pertumbuhan hanyalah alat, bukan tujuan. Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat.

Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara pada 5 Agustus 2026 menunjukkan bahwa ekonomi Sulawesi Utara pada Triwulan II-2026 tumbuh 5,42 persen (year-on-year). 

Di tengah perlambatan ekonomi global, tingginya suku bunga internasional, serta ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi perekonomian dunia, capaian tersebut layak diapresiasi. Ia menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Sulawesi Utara tetap terjaga.

Namun, seperti perjalanan Odysseus, pertanyaan penting bukanlah apakah kapal sedang bergerak, melainkan apakah kapal sedang bergerak menuju tujuan yang benar. 

Di balik satu angka pertumbuhan terdapat pertanyaan yang jauh lebih penting. Siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut?

Apakah lapangan kerja yang tercipta semakin produktif? Apakah masyarakat miskin ikut memperoleh manfaatnya? Apakah ketimpangan semakin mengecil atau justru melebar?

Tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, pertumbuhan hanya menjadi statistik yang indah di atas kertas. 

Jika dicermati lebih dalam, struktur pertumbuhan Sulawesi Utara memberikan pesan yang menarik. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan masih banyak ditopang oleh konsumsi pemerintah. 

Dalam situasi tertentu, hal ini merupakan sesuatu yang wajar. Ketika dunia usaha masih berhati-hati akibat ketidakpastian global, belanja pemerintah memang berfungsi sebagai penyangga aktivitas ekonomi.

Namun, pertumbuhan yang terlalu bergantung pada konsumsi pemerintah memiliki keterbatasan. Ruang fiskal selalu memiliki batas. 

Belanja pemerintah tidak dapat terus menjadi lokomotif utama pertumbuhan. Cepat atau lambat, estafet harus diambil alih oleh investasi swasta, ekspor yang lebih kompetitif, serta sektor-sektor produktif yang mampu menciptakan nilai tambah lebih tinggi.

Dengan kata lain, Sulawesi Utara memerlukan transformasi dari pertumbuhan yang digerakkan oleh belanja (consumption-led growth) menuju pertumbuhan yang ditopang oleh produktivitas (productivity-led growth).

Transformasi tersebut menjadi semakin penting ketika melihat kondisi pasar tenaga kerja.

Jumlah penduduk yang bekerja memang meningkat. Akan tetapi, proporsi pekerja formal justru menurun, sementara tingkat pengangguran terbuka mengalami kenaikan meskipun relatif kecil. 

Sekilas, perubahan ini tampak tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun, bagi seorang ekonom, sinyal seperti inilah yang justru layak mendapat perhatian. 

Pekerjaan bukan sekadar tentang ada atau tidak ada pekerjaan. Yang jauh lebih penting adalah kualitas pekerjaan tersebut. 

Pekerjaan formal umumnya memberikan kepastian pendapatan, perlindungan sosial, akses terhadap pembiayaan, dan peluang peningkatan keterampilan. 

Sebaliknya, pekerjaan informal sering kali membuat rumah tangga lebih rentan terhadap guncangan ekonomi. Ketika terjadi perlambatan ekonomi, kelompok inilah yang biasanya paling cepat merasakan dampaknya. 

Artinya, tantangan Sulawesi Utara bukan hanya menciptakan lebih banyak pekerjaan, tetapi menciptakan pekerjaan yang lebih produktif.

Kondisi yang sama juga terlihat pada indikator kemiskinan.

Penurunan persentase penduduk miskin merupakan capaian yang patut diapresiasi. 

Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi masih memiliki daya dorong terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. 

Namun, meningkatnya Indeks Keparahan Kemiskinan mengingatkan kita bahwa masih terdapat kelompok masyarakat yang tertinggal lebih jauh dibanding kelompok miskin lainnya. 

Inilah sebabnya mengapa kebijakan pengentasan kemiskinan tidak boleh hanya berorientasi pada jumlah. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa kelompok yang paling rentan memperoleh akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan produktif, dan pembiayaan usaha. 

Kemiskinan yang berhasil dikurangi melalui peningkatan produktivitas akan jauh lebih berkelanjutan dibanding kemiskinan yang hanya ditekan melalui bantuan konsumtif.

Begitu pula ketika membaca angka ketimpangan.

Gini Ratio Sulawesi Utara memang meningkat tipis. Akan tetapi, pada saat yang sama, proporsi pengeluaran kelompok 40 persen masyarakat terbawah justru mengalami perbaikan dan tetap berada pada kategori ketimpangan rendah menurut standar Bank Dunia. 

Pelajaran pentingnya sederhana. Dalam ekonomi, satu indikator hampir tidak pernah mampu menceritakan keseluruhan keadaan. 

Membaca ekonomi hanya melalui satu angka sama seperti menilai perjalanan kapal hanya dari kecepatan lajunya, tanpa melihat arah angin, kondisi ombak, maupun tujuan pelayaran.

Karena itu, tantangan pembangunan Sulawesi Utara ke depan tidak lagi sekadar menjaga pertumbuhan di atas lima persen. Yang jauh lebih penting adalah meningkatkan kualitas pertumbuhan.

Kualitas pertumbuhan berarti investasi yang lebih besar pada sektor-sektor bernilai tambah. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa tidak ada daerah atau negara yang mampu mempertahankan pertumbuhan tinggi hanya dengan mengandalkan konsumsi. 

Vietnam, misalnya, berhasil bertransformasi dari ekonomi berbasis pertanian menjadi salah satu pusat manufaktur di Asia Tenggara bukan semata-mata karena pertumbuhan ekonominya tinggi, tetapi karena secara konsisten menarik investasi, membangun kawasan industri, meningkatkan kualitas tenaga kerja, dan mengintegrasikan industrinya ke dalam rantai pasok global. 

Pertumbuhan akhirnya tidak hanya menciptakan output yang lebih besar, tetapi juga pekerjaan formal, produktivitas, dan ekspor bernilai tambah.

Pelajaran serupa datang dari Korea Selatan. Pada dekade 1960-an, pendapatan per kapitanya tidak jauh berbeda dengan banyak negara berkembang. 

Namun pemerintah tidak berhenti mengejar pertumbuhan jangka pendek. Investasi besar pada pendidikan, riset, teknologi, dan pengembangan industri membuat produktivitas tenaga kerja meningkat secara berkelanjutan. 

Hasilnya, yang tumbuh bukan hanya ukuran ekonominya, tetapi juga kualitas sumber daya manusia dan daya saing industrinya. 

Pengalaman Korea Selatan mengingatkan bahwa pertumbuhan yang bertahan lama selalu dibangun di atas fondasi produktivitas, inovasi, dan kualitas institusi.

Sulawesi Utara memiliki modal untuk menempuh jalan yang sama, tentu dengan karakteristiknya sendiri. 

Keunggulan pada sektor pertanian, perikanan, kelautan, pariwisata, serta ekonomi kreatif merupakan keunggulan komparatif yang tidak dimiliki semua daerah. 

Namun keunggulan komparatif tidak otomatis berubah menjadi keunggulan kompetitif. Ia memerlukan hilirisasi, inovasi, digitalisasi, investasi, dan sumber daya manusia yang berkualitas. 

Nilai tambah harus diciptakan di Sulawesi Utara, bukan berpindah ke daerah atau negara lain.

Di sinilah perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan lembaga keuangan perlu berjalan bersama. 

Kampus menghasilkan inovasi dan sumber daya manusia, pemerintah membangun ekosistem yang kondusif, dunia usaha melakukan investasi.

Sementara sektor keuangan memastikan pembiayaan mengalir kepada sektor-sektor produktif. Pertumbuhan yang berkualitas lahir dari kolaborasi, bukan dari satu institusi saja. 

Dalam beberapa tahun terakhir, Sulawesi Utara menunjukkan fondasi yang cukup kuat untuk melakukan transformasi tersebut. 

Posisi geografis yang strategis di kawasan Pasifik, potensi ekonomi maritim, berkembangnya pariwisata, serta semakin terbukanya peluang perdagangan dengan kawasan Asia Timur merupakan modal yang tidak dimiliki semua daerah.

Namun, modal hanyalah awal dari sebuah perjalanan. Tanpa arah yang jelas, modal sebesar apa pun tidak akan menghasilkan kemajuan yang berkelanjutan.

Ekonomi pada akhirnya adalah soal pilihan. Kita dapat memilih menikmati kenyamanan pertumbuhan hari ini yang bertumpu pada konsumsi atau bekerja lebih keras membangun fondasi produktivitas yang hasilnya mungkin baru dirasakan beberapa tahun ke depan. 

Pilihan pertama memberi kepuasan jangka pendek. Pilihan kedua sering kali lebih sulit secara politik, tetapi justru menentukan daya saing ekonomi dalam jangka panjang. 

Sejarah menunjukkan bahwa daerah dan negara yang mampu keluar dari jebakan pendapatan menengah bukanlah mereka yang tumbuh paling cepat dalam satu atau dua tahun, melainkan mereka yang paling konsisten meningkatkan produktivitasnya dari waktu ke waktu.

Di penghujung The Odyssey, Odysseus harus memilih melewati monster Scylla atau pusaran Charybdis. Tidak ada pilihan yang benar-benar tanpa risiko. Yang tersedia hanyalah pilihan yang paling bijaksana agar kapal tetap dapat melanjutkan pelayaran menuju Ithaca. 

Begitulah kebijakan ekonomi bekerja. Menjaga pertumbuhan, menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, dan mempersempit ketimpangan sering kali menghadirkan pilihan-pilihan yang tidak sederhana. 

Tidak ada kebijakan yang sempurna. Yang ada adalah kemampuan membaca perubahan, menetapkan prioritas, dan menjaga konsistensi arah pembangunan.

Odysseus tidak dikenang karena kapalnya paling cepat mencapai tujuan, ia dikenang karena tidak pernah kehilangan arah. 

Sulawesi Utara hari ini sesungguhnya sedang berada pada posisi yang sama. Angka pertumbuhan 5,42 persen adalah angin yang baik untuk melanjutkan pelayaran. 

Namun, angin yang baik tidak akan membawa kapal ke pelabuhan yang tepat apabila layar tidak diarahkan dengan benar. 

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak akan diukur dari seberapa tinggi angka pertumbuhan yang pernah dicapai, melainkan dari seberapa banyak masyarakat yang benar-benar ikut menikmati hasilnya. 

Sebab, pertumbuhan ekonomi yang bermakna bukanlah pertumbuhan yang membuat kapal melaju paling cepat, tetapi pertumbuhan yang memastikan seluruh penumpangnya tiba di tujuan dengan lebih sejahtera. (ndo)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.