TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Warga kota Siak berbondong-bondong memadati water front city, tepian sungai Siak, untuk melihat pencarian remaja 13 tahun yang tenggelam.
Mereka menyaksikan aksi Syamsir (50), penyelam tradisional, yang mengarungi palung Sungai Siak.
Delapan kali ia menyelam mencari remaja yang tenggelam, dari pagi hingga pukul 11.00 WIB. Sekali menyelam ia bisa 15 menit meraba gelapnya bawah sungai.
Permukaan Sungai Siak memang terlihat tenang. Namun, di bawah, sungai itu menyimpan palung curam, arus yang berubah mengikuti pasang surut, serta lumpur pekat yang membuat jarak pandang sama sekali hilang.
Pria berusia 50 tahun itu turun menggunakan peralatan sederhana. Nafasnya disuplai dari kompresor melalui selang panjang, sementara di tubuhnya terpasang pemberat. Sebuah batu seberat sekitar 20 kilogram dijadikan jangkar agar tubuhnya tidak terseret arus saat menyisir dasar sungai.
“Di bawah tidak nampak sama sekali. Jarak pandang nol,” ujar Syamsir begitu ia baru saja muncul ke dermaga apung di tepian itu. Meski nafas masih terengah, ia ramah menjawab pertanyaan Tribunpekanbaru.com.
Sudah hampir 25 tahun Syamsir menjadi penyelam tradisional. Pengalaman itu membuatnya memahami bentuk dasar Sungai Siak.
Pencarian dilakukan dengan mengikuti kontur dasar sungai yang curam hingga menemukan bagian yang lebih landai. Di lokasi itulah berbagai batang kayu, besi dan sampah dilihatnya mengendap.
Baca juga: Korban Tenggelam di Sungai Siak Belum Ditemukan, Tim SAR Fokus Lakukan Penyelaman di Titik Awal
Baca juga: BREAKING NEWS: Polda Riau Bongkar Makam Remaja di Pekanbaru, Ungkap Penyebab Kematian
“Kami cari yang landai, banyak sampahnya. Turun, sisir, naik lagi, memang korban belum bisa saya temukan,” ujarnya.
Setiap penyelaman berlangsung sekitar 10 hingga 15 menit. Setelah satu titik selesai diperiksa, batu jangkar diangkat kembali, dipindahkan beberapa meter, lalu Samsir kembali turun untuk meraba dasar sungai.
Semakin mendekati alur pelayaran kapal, dasar Sungai Siak semakin dalam. Pada beberapa bagian, kedalamannya diperkirakan mencapai sekitar 30 meter. Syamsir mengaku belum sampai menyentuh dasar di bagian terdalam itu karena tebing sungai masih terus menurun.
“Yang kami capai sekitar 20 meter. Masih curam lagi ke bawah,” tambahnya.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya gelapnya dasar sungai. Peralatan sederhana yang digunakan juga memiliki risiko sehingga setiap penyelaman harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
“Takutnya suplai nafas dari kompresor bermasalah,” kata pria yang kini tinggal di Sungai Apit itu.
Meski begitu, ia tetap memenuhi permintaan membantu pencarian korban. Ajakan itu datang dari rekan-rekannya yang terlibat dalam operasi pencarian bersama tim gabungan.
“Saya ingin membantu keluarga korban,” katanya.
Di tepian sungai, M Jamil terus mengikuti pergerakan anaknya dari atas perahu. Pria berusia 80 tahun itu pernah dikenal sebagai penyelam tradisional yang sering diminta mencari korban tenggelam di Sungai Siak. Kini, usia membuatnya tak lagi mampu turun ke dasar sungai.
“Ini anak saya. Saya sudah tak bisa menyelam lagi, gihi sudah pada copot, tak dapat lagi menggigit selang, alat pernafasan,” katanya.
Jamil mengatakan kemampuan menyelam diwariskan kepada anaknya. Selama puluhan tahun, mereka kerap diminta membantu pencarian korban tenggelam maupun kecelakaan di perairan Siak.
Ia berharap pemerintah daerah dapat menyediakan perlengkapan penyelaman yang lebih memadai. Selama ini, para penyelam tradisional masih mengandalkan peralatan pribadi ketika diminta membantu operasi pencarian.
“Kalau alatnya lengkap, kami bisa bergerak lebih cepat membantu,” ujar Jamil penuh harap.
Sementara tim gabungan Basarnas, BPBD, TNI AL, Polairud, dan masyarakat terus menyisir permukaan sungai, Samsir kembali memeriksa selang kompresornya. Tak lama kemudian, tubuhnya kembali tenggelam ke air keruh Sungai Siak, meraba dasar sungai yang hingga siang itu masih menyimpan keberadaan remaja yang dicari.
Kalaksa BPBD Siak, Novendra Kasmara, mengatakan pencarian korban kembali dimulai sejak Kamis (6/8/2026) pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Sebelum operasi dimulai, seluruh unsur SAR gabungan menggelar briefing bersama Danposal, Kapolsek, dan Basarnas untuk menentukan strategi pencarian.
“Hari ini kita mencoba penyisiran dengan melakukan penyelaman di sekitar titik tenggelamnya korban,” kata Novendra.
Menurut Novendra, area pencarian dibagi menjadi dua titik. Satu titik disisir oleh penyelam Basarnas, sementara titik lainnya dilakukan oleh penyelam masyarakat. Hingga siang hari, korban masih belum berhasil ditemukan.
“Kita bagi dua titik, yaitu dilakukan oleh penyelam Basarnas dan penyelam masyarakat. Namun sampai saat ini kita masih belum dapat menemukan korban,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kendala utama pencarian adalah jarak pandang di dasar Sungai Siak yang sangat terbatas. Kondisi tersebut membuat proses penyelaman harus dilakukan secara hati-hati dengan bantuan tali pembatas sebagai panduan penyisiran.
“Visibilitas dalam pencarian memang menjadi kendala kami di Sungai Siak,” ucap Novendra.
Selain penyelaman, tim gabungan juga melakukan penyisiran di permukaan sungai menggunakan speed boat milik BPBD dan kepolisian. Novendra menegaskan pencarian akan terus dilanjutkan hingga sore hari sebelum dilakukan evaluasi untuk menentukan pola pencarian berikutnya. (Tribunpekanbaru.com/mayonal putra)