SURYAMALANG.COM, MALANG - Dugaan buruknya kualitas proyek revitalisasi Stadion Kanjuruhan senilai Rp 335 miliar tak hanya diungkap oleh anggota DPRD Kabupaten Malang dari Fraksi PDI Perjuangan, Zulham Akhmad Mubarrok.
Rekannya sesama fraksi yang juga Ketua DPRD Kabupaten Malang, Darmadi, turut menyuarakan keprihatinan serupa.
Kondisi tersebut terkuak saat Zulham menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi.
Zulham dikejutkan dengan kondisi lantai tribun yang banyak mengelupas.
Baca juga: Batal Berkantor di Kanjuruhan Usai Plafon Ambrol, Ketua KONI Malang: Jangan Tambah Cerita Luka
Kekecewaannya kian bertambah ketika menyisir ruangan di bawah tribun dan menemukan banyak plafon berlubang serta ambrol akibat rembesan air hujan yang cukup deras.
Zulham menyayangkan proyek beranggaran besar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tersebut sudah mengalami kerusakan berat padahal baru setahun selesai dikerjakan.
Kondisi stadion yang menjadi saksi bisu tragedi maut 1 Oktober 2022 yang menewaskan sekitar 127 suporter tersebut kemudian viral di media sosial.
Buntut dari sorotan publik ini, pihak Kementerian PUPR bergerak dan menginstruksikan PT Waskita selaku kontraktor untuk segera melakukan perbaikan, khususnya pada lantai tribun yang retak dan mengelupas, serta plafon yang ambrol hingga berjamur dan menghitam.
“Tiap dua hari sekali, akan kami kontrol perbaikan itu, jangan sampai asal-asalan lagi,” tandas Zulham.
Sisi lain kerusakan proyek ini juga dirasakan langsung oleh Darmadi.
Ketua DPRD Kabupaten Malang dua periode yang baru saja terpilih sebagai Ketua KONI Kabupaten Malang periode 2026–2031 tersebut sempat mengecek salah satu ruangan stadion bersama jajaran pengurus, termasuk Humas KONI sekaligus Koordinator LSM Pro Desa, Achmad Kusairi.
Ruangan tersebut sedianya hendak difungsikan sebagai Kantor KONI Kabupaten Malang.
Namun, rencana itu mendadak dibatalkan setelah mereka melihat kondisi dalam ruangan yang tak terawat, dengan lapisan plafon berjamur, dipenuhi bercak kehitaman, hingga jebol.
“Nggak ada yang mau, karena banyak plafonnya yang rusak, bahkan jebol. Kami heran, wong proyek senilai Rp 335 miliar ini dikerjakan oleh PT bonafid, namun hasilnya kok seperti itu,” tegas Darmadi, politisi senior PDI Perjuangan yang telah menjabat sebagai anggota dewan selama empat periode tersebut.
Menanggapi sorotan mengenai kerusakan pada bangunan yang baru berusia satu tahun itu, Pimpinan Proyek (Pimpro) PT Waskita-Abipraya, Vino Pramudia, memberikan penjelasannya.
Menurut Vino, salah satu penyebab banyaknya plafon yang ambrol adalah kelalaian akibat AC yang lupa dimatikan, sehingga air rembesannya terus menetes dan membuat material plafon basah hingga akhirnya jebol.
“Itu sudah kami cek. Ternyata, tak semua kerusakan di plafon itu karena terkena air hujan. Namun, sebagian karena AC, yang lupa dimatikan. Namun, saat ini sedang kami perbaiki ulang,” tegas Vino.