TRIBUNNEWS.com - Polres Metro Jakarta Selatan menerima laporan soal temuan 995 senjata api (senpi) di sebuah ruangan sekolah swasta di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan, AKP Joko Adi Wibowo, mengatakan laporan tersebut diterima pada 15 Juli 2026 lalu.
"Benar, Polres Metro Jakarta Selatan telah menerima laporan dari masyarakat terkait temuan senjata yang terdiri dari air gun dan senjata api yang tersimpan di salah satu ruangan di yayasan sekolah di Pondok Pinang, Kebayoran Lama," jelas Joko, Kamis (6/8/2026), dikutip dari TribunJakarta.com.
Temuan 995 senpi ini bermula saat pihak sekolah hendak membuka ruangan untuk mengambil kebutuhan siswa pada 10 Juli 2026.
Ruangan itu dulunya ditempati oleh mantan Ketua Pengurus Yayasan, IWD, yang sudah dipecat sejak April 2026.
Namun, saat ruangan dibuka, ditemukan ratusan senpi dan amunisi yang terbungkus rapi.
"Namun, tiba-tiba ketika kita membuka kepentingan untuk sekolah ini, kita temukan peralatan yang disebut senjata."
Baca juga: Sosok di Balik Temuan 995 Senpi hingga Narkoba di Ruangan Sekolah Swasta Jaksel, Dipecat sejak April
"Air gun yang bisa membunuh karena larasnya itu polos tidak ada alur," ungkap Staf Ahli Ketua Pembina Yayasan, Untung Sangaji, Kamis, masih dari TribunJakarta.com.
Atas temuan itu, pihak sekolah melapor kepada Polres Metro Jakarta Selatan untuk meminta pendampingan.
"Kami laporkan itu karena ini semua ditemukan di dalam ruangan Ketua Yayasan yang sudah kami pecat," ungkap kuasa hukum pihak sekolah, Hermawanto, Kamis, dalam kesempatan berbeda.
Penyidik Polres Metro Jakarta Selatan yang mendampingi pun lantas membuat laporan model A.
Laporan model A adalah laporan tindak pidana yang dibuat secara resmi oleh polisi yang mengalami, mengetahui, atau menemukan langsung peristiwa pidana saat bertugas.
AKP Joko Adi Wibowo mengatakan saat ini tengah dilakukan penyidikan terkait temuan itu.
"Sebelum adanya laporan polisi dari masyarakat, Polres Jakarta Selatan telah membuat Laporan Polisi Model A sesaat setelah ditemukannya kejadian tersebut," ujar Joko.
"Terhadap perkara saat ini pada tahap penyelidikan," imbuhnya.
Ratusan senpi yang ditemukan dari ruangan IWD terdiri dari kaliber 5.56, kaliber 40 dan 9 mili, walther, kaliber 22, hingga karabin m4.
Tak hanya itu, ada juga alat pembuat peluru, wadah penyimpan peluru (magazine) jenis glock, dan 30 amunisi.
Selain ratusan senpi, ditemukan juga satu boks hitam berisi video asusila, serta tiga bungkus narkotika jenis ganja dan sabu.
Hermawanto menduga ruangan itu memiliki bunker yang dicurigai turut menyembunyikan barang-barang berharga lainnya.
"Ada pintu belakang (untuk) masuk, debarkasi-embarkasi barang yang berbahaya di situ bisa dia lakukan diam-diam di belakang," tuturnya, dikutip dari Kompas.com.
Ruangan yang diduga bunker itu tak bisa dibuka sebab kuncinya diduga dibawa IWD.
Karena itu, pihak sekolah berharap polisi bisa segera menindaklanjuti soal dugaan bunker tersebut.
"Ada ruangan yang belum bisa kami buka, kami berharap ruangan yang berbentuk seperti bunker itu segera ditindaklanjuti oleh kepolisian untuk dibuka," ucap Hermawanto, dilansir Wartakotalive.com.
Selain dugaan bunker, beberapa ruangan lainnya di sekolah juga masih terkunci.
Ruangan-ruangan yang terkunci itu belum diketahui apa isinya.
"Kami berharap tidak ada lagi senjata yang ditemukan di sana," pungkas Hermawanto.
Sebagai informasi, IWD sudah dipecat sejak April 2026, sebelum ratusan senpi ditemukan.
Ia dipecat karena diduga kuat menyalahgunakan dana sekolah untuk membeli tanah atas nama istrinya.
"Jadi alasan dipecat itu adalah karena ditemukan adanya indikasi penyalahgunaan keuangan yayasan untuk kepentingan pribadi," jelas Hermawanto.
(Tribunnews.com/Pravitri Retno W, TribunJakarta.com/Annas Furqon Hakim, Wartakotalive.com/Ramadhan LQ, Kompas.com/Hanifah Salsabila)